Jumat, 23 Okt 2026 11:50 WIB

Epilepsi di Indonesia Capai 1,5 Juta Kasus, National Hospital Bangun EPIC

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 21 Mei 2024 10:14 WIB
Foto: NH membuka layanan kesehatan epilepsy secara komprehensif di Indonesia yang dinamakan Epilepsy Center (EPIC)
Foto: NH membuka layanan kesehatan epilepsy secara komprehensif di Indonesia yang dinamakan Epilepsy Center (EPIC)

selalu.id - Epilepsy merupakan penyakit kejang berulang sebagian atau seluruh anggota tubuh yang disebabkan adanya aktifitas listrik di otak yang berjalan secara tidak normal.

Tercatat mengacu pada data insidensi epilepsy di dunia, insidensinya penyakit ini 50,3 per 100.000 populasi per tahun. Sehingga Perkiraan kasus epilepsy di Indonesia adalah 1,5 juta dengan prevalensi 0,5-0,6 persen dari penduduk Indonesia.

Spesialis bedah saraf konsultan fungsional dan bedah epilepsy National Hospital, Dokter Heri Subianto mengatakan bahwa epilepsi terjadi pada segala usia mulai dari bayi baru lahir hingga orang tua. Karena itu, epilepsy perlu ditanggulangi dengan baik.

“Sebab muncul terjadinya kejang, akan dapat berdampak pada kerusakan sel saraf pada otak, sehingga akan mempengaruhi kognitif, psikologi, dan sosial penderita epilepsy,” kata Dokter Heri.

Dokter Heri menyampaikan epilepsy atau kejang dapat dikontrol. Ia menyebut sebesar 70 persen
orang dengan epilepsy (ODE) dapat bebas kejang jika dilakukan terapi atau pemberian obat-obatan secara tepat.

Selain dengan obat-obatan, lanjut dia, pada kasus epilepsy yang kebal terhadap obat atau yang biasa disebut Drug resistant epilepsy (DRE) dapat dilakukan tindakan operasi untuk mengontrol kejang yang terjadi.

“Tindakan operasi pada epilepsy, dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf yang khusus dalam membidangi bedah epilepsy. Dengan tindakan operasi bedah epilepsy dapat mengatasi atau mengontrol kejang dengan tingkat perbaikan hingga 90 persen,” katanya.

Karena itu, Vagus Nerve Stimulation (VNS) saat ini merupakan salah satu teknik tindakan operasi implantasi alat epilepsy yang terkini dan baik dalam mengatasi atau mengontrol kejang pada epilepsy.

Diketahui, pada 2016 National Hospital berkomitmen dalam menghadirkan layanan khusus penanganan epilepsy secara komprehensif di Indonesia yang dinamakan Epilepsy Center (EPIC) National Hospital yang di inisiasi oleh dr. Heri Subianto,  sebagai dokter spesialis bedah saraf yang khusus mendalami bedah epilepsy.

Kemudian dan dr. Neimy Novitasari, SpN sebagai dokter spesialis saraf yang ahli dan berpengalaman dalam mendalami EEG atau electroencephalography.

Pada bulan ini, Epilepsy Center National Hospital atau yang biasa disebut EPIC telah  memberikan layanan selama 8 tahun, kepada lebih dari 1.200 pasien sejak tahun 2016, dengan sebaran pasien hampir berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Dokter Neimy Novitasari, SpN, spesialis saraf konsultan epilepsy menyebutkan, Epilepsy Center (EPIC) National Hospital menghadirkan layanan penanganan epilepsy secara komprehensif, di dukung oleh dokter spesialis yang ahli dalam penanganan epilepsy.

Tak hanya itu, peralatan-peralatan penunjang yang modern seperti MRI 3 tesla dengan protocol khusus epilepsy, dan long term Video EEG yang sangat jarang sekali ada di Indonesia.

Baca Juga: National Hospital Hadirkan Teknologi ABUS untuk Deteksi Dini Kanker Payudara

“Dalam penanganan epilepsy tidak hanya melalui obat-obatan, EPIC jg dapat melakukan tindakan operasi bedah epilepsy, hingga tindakan operasi menggunakan implantasi alat Vagus Nerve Stimulation (VNS). National Hospital juga sebagai pionir dan pertama kali menghadirkan alat VNS PINS di Indonesia serta pertama kali melakukan tindakan operasi VNS PINS di Indonesia,” terang Neimy. Juta Orang Idap Epilepsi di Indonesia, National Hospital Bangun Fasilitas Kesehataan Dengan EPIC

Selalu.id-Epilepsy merupakan penyakit kejang berulang sebagian atau seluruh anggota tubuh yang disebabkan adanya aktifitas listrik di otak yang berjalan secara tidak normal.

Tercatat mengacu pada data insidensi epilepsy di dunia, insidensinya penyakit ini 50,3 per 100.000 populasi per tahun. Sehingga Perkiraan kasus epilepsy di Indonesia adalah 1,5 juta dengan prevalensi 0,5-0,6 persen dari penduduk Indonesia.

Spesialis bedah saraf konsultan fungsional dan bedah epilepsy National Hospital, Dokter Heri Subianto mengatakan bahwa epilepsi terjadi pada segala usia mulai dari bayi baru lahir hingga orang tua. Karena itu, epilepsy perlu ditanggulangi dengan baik.

“Sebab muncul terjadinya kejang, akan dapat berdampak pada kerusakan sel saraf pada otak, sehingga akan mempengaruhi kognitif, psikologi, dan sosial penderita epilepsy,” kata Dokter Heri.

Dokter Heri menyampaikan epilepsy atau kejang dapat dikontrol. Ia menyebut sebesar 70 persen
orang dengan epilepsy (ODE) dapat bebas kejang jika dilakukan terapi atau pemberian obat-obatan secara tepat.

Selain dengan obat-obatan, lanjut dia, pada kasus epilepsy yang kebal terhadap obat atau yang biasa disebut Drug resistant epilepsy (DRE) dapat dilakukan tindakan operasi untuk mengontrol kejang yang terjadi.

“Tindakan operasi pada epilepsy, dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf yang khusus dalam membidangi bedah epilepsy. Dengan tindakan operasi bedah epilepsy dapat mengatasi atau mengontrol kejang dengan tingkat perbaikan hingga 90 persen,” katanya.

Karena itu, Vagus Nerve Stimulation (VNS) saat ini merupakan salah satu teknik tindakan operasi implantasi alat epilepsy yang terkini dan baik dalam mengatasi atau mengontrol kejang pada epilepsy.

Diketahui, pada 2016 National Hospital berkomitmen dalam menghadirkan layanan khusus penanganan epilepsy secara komprehensif di Indonesia yang dinamakan Epilepsy Center (EPIC) National Hospital yang di inisiasi oleh dr. Heri Subianto,  sebagai dokter spesialis bedah saraf yang khusus mendalami bedah epilepsy.

Kemudian dan dr. Neimy Novitasari, SpN sebagai dokter spesialis saraf yang ahli dan berpengalaman dalam mendalami EEG atau electroencephalography.

Pada bulan ini, Epilepsy Center National Hospital atau yang biasa disebut EPIC telah  memberikan layanan selama 8 tahun, kepada lebih dari 1.200 pasien sejak tahun 2016, dengan sebaran pasien hampir berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Dokter Neimy Novitasari, SpN, spesialis saraf konsultan epilepsy menyebutkan, Epilepsy Center (EPIC) National Hospital menghadirkan layanan penanganan epilepsy secara komprehensif, di dukung oleh dokter spesialis yang ahli dalam penanganan epilepsy.

Tak hanya itu, peralatan-peralatan penunjang yang modern seperti MRI 3 tesla dengan protocol khusus epilepsy, dan long term Video EEG yang sangat jarang sekali ada di Indonesia.

“Dalam penanganan epilepsy tidak hanya melalui obat-obatan, EPIC jg dapat melakukan tindakan operasi bedah epilepsy, hingga tindakan operasi menggunakan implantasi alat Vagus Nerve Stimulation (VNS). National Hospital juga sebagai pionir dan pertama kali menghadirkan alat VNS PINS di Indonesia serta pertama kali melakukan tindakan operasi VNS PINS di Indonesia,” terang Neimy.

Baca Juga: National Hospital Surabaya Dinobatkan sebagai Hospital of the Year 2025

Editor : Ading
Berita Terbaru

Tiga Pemuda Bobol 2 Sekolah di Mojokerto, Pelaku Diringkus saat Tidur

Aksi pencurian dengan pemberatan itu terjadi di SDN Mlaten Kecamatan Puri dan TK Jabon Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar.

Top 5 Berita: Perampokan Toko Emas di Jember hingga Santri Terganjal Aturan

Artikel peristiwa dan pemerintahan masih banyak dibaca.

Pabrik Daur Ulang Ban Bekas Dekat SPBU di Mojokerto Terbakar

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih diselidiki pihak kepolisian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian ditaksir cukup besar.

Polda Jatim Amankan 11 Orang Diduga Pembuat Onar saat Demo di Grahadi Surabaya

Dalam penangkapan itu, polisi turut menyita barang bukti cairan tiner, minuman keras jenis arak, senjata keling (knuckle), hingga beberapa telepon seluler.

7.000 Hektare Hutan dan Lahan di Indonesia Masih Terbakar, Ini Daftar Wilayahnya

Selain karhutla, BNPB mencatat 2.188 bencana alam melanda Indonesia hingga Oktober 2026. Dari kekeringan, gempa, erupsi gunung, hingga cuaca ekstrem.

Banyak Santri Terganjal Aturan Usia 16 Tahun, DPRD Surabaya Desak Revisi Juknis Beasiswa

Muhammad Saifuddin mengungkapkan, dari target awal 3.000 santri penerima beasiswa pada 2026, baru sekitar 700 santri yang terealisasi.