• Loadingselalu.id
  • Loading

Sabtu, 18 Mei 2024 10:23 WIB

National Hospital Tawarkan Potong Lambung untuk Atasi Obesitas

Dokter Digestive Surgery (Spesialis Bedah Digestive) National Hospital Surabaya, dr Iwan Kristian

Dokter Digestive Surgery (Spesialis Bedah Digestive) National Hospital Surabaya, dr Iwan Kristian

selalu.id - Obesitas berat badan menganggu aktivitas maupun estetik tubuh seorang, apalagi kerap kali menimbulkan penyakit tak terduga.

Biasanya, solusi umum menurunkan berat badan dengan melakukan diet ketat. Namun, solusinya butuh konsisten untuk mencapai tubuh ideal.

Dokter Digestive Surgery (Spesialis Bedah Digestive) National Hospital Surabaya, dr Iwan Kristian menyebut bahwa tercatat survei kesehatan yang sebesar 20 sampai 30 persen pemuda di Indonesia mengalami berat badan berlebih atau obesitas.

Dr Iwan mengatakan bahwa rata-rata jenis kegemukan di Indonesia yang dialami mayoritas orang, tersentral di bagian perut saja. Hal itu berpotensi penyakit diabetes, jantung dan sesak napas.

Paling menakutkan dari bahaya kegemukan adalah ancaman penyakit kanker. Berbeda dengan orang luar negeri atau kerap disebut bule, yang mengalami kegemukan yang merata.

Kata dia berdasarkan hasil survei di seluruh dunia, anggaran pemerintah dalam bidang kesehatan paling banyak habis untuk mengobati penyakit kardiovaskular.

"Kanker menduduki peringkat ketiga dan salah satu pemicunya adalah kegemukan (over weight)," ungkapnya.

Untuk menurunkan obesitas, dr Iwan menyampaikan usaha yang perlu dilakukan oleh diri sendiri yakni harus bisa mengatur pola makan. Sebab, secara gen manusia yang didesain untuk menyimpan lemak, bukan membuang lemak.

"Karena pada saat dulu, makanan kurang berlimpah, sehingga sel-sel kita sudah disetel oleh Gusti Allah kalau makan harus ada sisa dalam tubuh," kata dr Iwan.

Ketika seseorang mengkonsumsi makanan berlebihan, dapat dipastikan tubuh secara otomatis menyimpan lemak. Dengan demikianlah mekanisme dari metabolisme tubuh, sehingga memilih makanan pun harus berhati-hati demi menjaga berat badan ideal.

Jika diet gagal, orang-orang akan memilih cara alternatif dan pintas. Antara lain dengan melakukan operasi bariatrik atau potong lambung.

Operasi potong lambung ini, kata dia, diklaim oleh para ahli medis sebagai satu-satunya cara paling aman. Banyak sekali metode bariatrik namun yang paling populer saat ini adalah potong lambung.

"Operasi ini minimal invasif surgery atau pembedahan infasif," ucap dr Iwan.

Dalam proses operasi, dr Iwan jmenjelaskan bahwa lambung pasien akan dipotong 80 persen. Namun, sebelum operasi, pasien juga diajari cara menentukan porsi makan dan mempertahankan pola makan tersebut hingga pasca operasi.

Sepuluh hari pertama pasca operasi potong lambung, pasien hanya boleh minum. Dalam minuman yang mengandung kaldu dan sirup. kemudian, pada hari ke-20, bisa konsumsi makanan semi padat. Semua di bawah pengawasan dokter.

Pada bulan ketiga, akan terjadi penurunan berat badan ekstrem bersamaan kondisi pemulihan yang makin membaik. Pasien boleh memakan apa saja, tentu dengan batasan. Dokter akan selalu mengingatkan pasien.

"Kesuksesan operasi ini, dapat dilihat hasilnya dengan penurunan tingkat kegemukan hingga 30-50 persen," ungkap dr Iwan.

Dari berbagai kasus obesitas, ia menyebut bariatrik merupakan cara paling cepat untuk menurunkan berat badan. Namun, banyak orang menganggap potong lambung adalah cara instan, padahal tidak demikian.

Bariatrik hanya akan ditujukan kepada pasien morbid obesity. Dengan kategori BMI lebih dari 40 atau obesitas kelas 3, kemudian bisa juga bagi orang dengan obesitas kelas 1 dan 2 namun memiliki penyakit.

Dia bilang bahwa dokter juga harus berpengalaman untuk menghindari risiko apalagi operasi pada pasien obesitas memiliki risiko tinggi.

"Pasien yang potong lambung tidak langsung kita iyakan, ada diskusi dan pemeriksaan ke dokter jantung dan lain-lain untuk mempelajari riwayat kesehatan penyebab kegemukan," ujarnya.

Dokter Iwan menegaskan operasi bariatrik merupakan tindakan operasi beresiko. Baik itu operasi besar maupun operasi kecil. "Bariatrik termasuk dalam operasi besar," tandasnya.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, National Hospital Bangun EV Station

Editor : Ading