Rabu, 22 Mei 2024 02:49 WIB

Begini Cerita Masrufah, Korban Gempa Bawean yang Trauma Masuk Rumah

  • Reporter : Ade Resty
  • | Rabu, 27 Mar 2024 08:02 WIB
Foto: Pengungsian warga Bawean

Foto: Pengungsian warga Bawean

selalu.id - Masyarakat Bawean masih mengalami trauma akibat gempa beruntun yang terjadi sejak Jumat (26/3/2024) lalu. Oleh karenanya masih banyak warga yang trauma dan enggan balik ke rumah.
Terlebih juga memang banyak tempat tinggal yang roboh dan rata dengan tanah.


Salah satu pengungsi warga Desa Prapatunggal, Sangkapura, Bawean, Masrufah (40) bercerita keluarganya yang terpaksa mengungsi dan membuat tenda darurat sendiri yang tak jauh dari rumahnya. Di dalam pengungsian tersebut terdapat 33 orang warga desa yang tinggal.

"Di sini ada 33 orang, 11 kepala keluarga. Dari 11 keluarga itu, dua rumah roboh, sisanya retak," kata dia, Rabu (26/3/2024) dini hari.

Di tenda yang hanya berupa terpal dengan ukuran kurang lebih lima kali lima meter itu, ia melakukan berbagai aktivitas. Mulai memasak, sahur, buka puasa, salat hingga tidur. 

"Kami gak berani pulang, yang tinggal di sini gak bisa ditempati semua rumahnya," ungkapnya.

Meski begitu, berbagai ancaman penyakit bisa saja datang kepadanya dan semua penghuni tenda. Sebab, setiap malam dia dan penghuni tenda lain selalu merasa kedinginan. Apalagi, ada balita dan bayi yang baru lahir satu bulan.

"Di sini angin, embun netes, nyamuk besar-besar, ada dari puskesmas datang ke sini datang dua kali," ungkapnya. 

Masrufah berharap agar pemerintah segera memberinya bantuan. Baik logistik seperti baju, selimut, hingga pampers untuk bayi. Ia juga berharap agar pemerintah memberi bantuan recovery rumahnya yang rusak. 

Sebelumnya,Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Subroto sebelumnya mengatakan, ada sebanyak 33.539 jiwa akibat gempa di Bawean. Sebagian warga yang mengungsi karena rumahnya rusak, sebagian lagi karena masih takut dengan gempa susulan. 

"2574 rumah rusak ringan, 1332 rumah rusak sedang, 774 unit rusak berat. Kemudian ada juga 91 unit sekolah rusak, 18e rumah ibadah rusak, dan 24 unit kantor rusak," ujarnya. 

Pemerintah Jawa Timur telah mengirim bantuan logistik berupa sembako, tenda hingga selimut sejak Minggu (24/3/2024). Bantuan terkahir dikirim pada Senin (25/3/2024) menggunakan KN SAR Permadi.

Baca Juga: Dinsos Jatim Sebut Trauma Gempa Lebih Banyak Dialami Orang Tua di Bawean

Editor : Ading