Selasa, 21 Jul 2026 22:16 WIB

Tanggapan Pengamat Soal Tawaran Koalisi Besar di Pilwali Surabaya 2024

  • Penulis : Ade Resty
  • | Rabu, 20 Mar 2024 16:35 WIB
Foto: PDIP
Foto: PDIP

selalu.id - Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam menanggapi pernyataan PDIP Surabaya yang menyebut tidak ada istilah koalisi terkait Golkar ingin mengusung Eri Cahyadi maju Pilwali 2024.

Menurutnya pernyataan Ketua DPC PDIP Surabaya Adi Sutawirjono alias Awi tidak mendefinisikan penyatuan berbagai parpol untuk mendukung Eri Cahyadi. Hal itu didefinisikan bukan sebagai koalisi, melainkan kerjasama dengan menyamakan gagasan dan pikiran untuk Kota Surabaya ke depan. Ia menilai hal itu merupakan bentuk kehati-hatian dari partainya.

“Bahasa yang dipilih mas Awi itu sebenarnya bahasa prinsip kehatian-hatian karena menunggu sinyal dari Jakarta (Dewan Pimpinan Pusat). Selama ini kan sistem PDIP komando tegak lurus seperintah DPP. Saya pikir arahnya kesana,” kata Surokim saat dihubungi selalu.id, Kamis (20/3/2024).

Surokim menyampaikan bahwa partai banteng tersebut bisa mengusung sendiri Bakal Calon Wali Kota (Bacawalkot) Surabaya, tanpa harus terburu-buru membuat koalisi.

“PDIP kan masih mengusung calonnya sendiri apalagi paling tinggi mendapatkan 11 kursi ya. Tanpa harus koalisi itu bisa membuat opsi PDIP leluasa untuk tidak tergesa- gesa membangun koalisi,” ungkapnya.

Lebih lanjut Surokim menjelaskan bahwa memang membangun relasi dan kerjasama Partai Politik (Parpol) lain untuk Pilkada sebenarnya diperlukan. Namun, untuk koalisi gemuk belum tentu bisa menjamin untuk kemenangan paslon yang diusung.

“Seperti hasil pemilihan terakhir (Pilwali 2020 lalu) itu kan koalisi gemuk pak Mahfud Arifin (paslon Pilwali 2020)  juga kalah dengan koalisi rantingnya PDIP,” terangnya

“Jadi itu bagian prinsip bentuk kehati- hatian PDIP menanggapi dinamika politik yang mungkin masih terjadi sampai bulan Agustusan,” tambahnya.

Sebelumnya, Ketua DPC PDIP Surabaya Awi menanggapi Golkar Surabaya ingin buat koalisi besar mengusung Eri Cahyadi. Ia menyebut dirinya tak mengenal istilah koalisi. Melainkan kerjasama dengan menyamakan gagasan dan pikiran untuk Kota Surabaya ke depan.

“Kerjasama itu kan harus disamakan dulu pikirannya, gagasannya Surabaya ini ke depan, jangan sampai juga misalnya kerjasama itu hanya didasarkan oleh satu kekuasaan. Tapi kita harus arahkan betul untuk membangun Surabaya ini lebih baik. Kemudian mensejahterakan dan memajukan rakyat Surabaya,” terangnya.

Baca Juga: Biaya Makam Rp5 Juta untuk Warga Baru Disetop, Pemkot Surabaya: Tak Boleh Dipaksa

Editor : Ading
Berita Terbaru

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Pemkot Surabaya mengimbau seluruh pengurus RT dan RW untuk tetap menjaga transparansi dan melakukan pencatatan keuangan secara terbuka.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.