Senin, 07 Sep 2026 08:01 WIB

Seberapa Kuat Mahfud MD Dulang Suara NU untuk Ganjar? Begini Kata Pengamat

  • Penulis : Ade Resty
  • | Rabu, 01 Nov 2023 11:26 WIB
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD

selalu.id - Pencawapresan Mahfud MD untuk menjadi tandem politik Ganjar Pranowo dalam kontestasi Pemilu dan Pilpres 2024 membawa arus narasi bahwa PDIP sebagai partai pengusung mencoba menarik suara pemilih dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Pasalnya, Mahfud MD yang merupakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan juga kemudian tercitrakan sebagai tokoh NU. Hal ini pun menarik perhatian pengamat politik dari Universitas Airlangga (UNAIR) Siti Aminah. Ia menilai bahwa pencitraan itu sedikit kurang tepat, karena Mahfud adalah seorang NU kultural.

Baca Juga: Setelah Voting, Pemilihan Ketum PBNU Berubah ke Mekanisme AHWA

"Mahfud bukan kekuatan pendongkrak suara NU, karena dia biasa-biasa saja seperti intelektual NU yang ada di kampus umumnya," ujarnya

Padahal tanpa upaya pencitraan Mahfud MD sebagai tokoh NU, ia menilai keduanya (Ganjar-Mahfud) merupakan tokoh nasional yang memiliki basis massa yang kuat. Menurutnya, pencitraan tersebut hanya cara mudah untuk menjaring suara dan tidak menjamin kemenangan Ganjar dalam pemilihan presiden 2024. Dia juga menegaskan bahwa pengalaman Mahfud di bidang hukum, politik, dan keamanan tidak menjamin visi-misi Ganjar sebagai presiden.

“Pengalaman Mahfud tidak menjamin visi-misi Ganjar. Karena Ganjar mengusung misi-visi PDIP. Tentang ini perlu ada riset. Kalau dilihat dari cara PDIP merangkul NU disini kurang pas. Menurut saya strategi PDIP kurang tepat,” jelasnya.

Aminah menjelaskan bahwa ada beberapa model yang bisa digunakan untuk menganalisis pengaruh dukungan NU terhadap elektabilitas Ganjar.

Model pertama adalah model preferensi pemilih, yang mengasumsikan bahwa pemilih memilih kandidat yang mereka nilai paling positif dan paling berpeluang menang.

Model kedua adalah model ikut-ikutan, yang mengasumsikan bahwa pemilih ingin berada di pihak yang menang dalam kampanye pencalonan.

Model ketiga adalah model utilitas yang mengasumsikan bahwa pemilih mempertimbangkan elektabilitas dan penilaian mereka terhadap kandidat dalam menentukan pilihan.

Baca Juga: Gus Salam Ungkap Muktamar ke-35 NU Diwarnai Kekerasan Panitia ke Peserta

Lebih lanjut Aminah menambahkan bahwa elektabilitas tidak ditentukan oleh komunikasi politik. Kata dia, Ganjar dan Mahfud sudah ahli dalam membangun komunikasi politik dengan masyarakat yang menjadi bagian dari masa aktifnya.

Mengingat masyarakat sudah terbelah-belah berdasar garis afiliasi partai politik, komunikasi politik tidak cukup untuk mempengaruhi simpatisan fanatik, ikut arus, atau cuek.

Aminah memandang elektabilitas kurang berguna dalam melobi suara masyarakat secara strategis dalam memilih capres. Pasalnya, masyarakat harus mengkaji lebih dalam visi dan misi masing-masing capres, bukan hanya berdasarkan survey yang dinamis.

Dalam hal ini, Aminah menjelaskan bahwa konotasi ‘elektabilitas’ kurang tepat digunakan karena sering diterapkan dengan cara yang sangat licin, tidak konsisten, dan bias.

Baca Juga: Niat Kembalikan NU Seperti Dulu, Caketum PBNU Gus Kikin Ketengahkan Dokumen Asas Awal

“Ada konflik kepentingan ketika para politisi mengklaim bahwa mereka lebih terpilih (elektabilitas tinggi dari survey-survey) karena implikasinya adalah mereka lebih berhak mendapatkan suara kita dibandingkan lawan mereka,” pungkasnya.

Lebih lanjut Aminah mengungkapkan bahwa elektabilitas kerap kali disalahgunakan untuk memanipulasi atau mengacaukan pilihan calon pemilih, yang dimana menjadi senjata untuk menjatuhkan kandidat lain.

Menurutnya, elektabilitas akan menimbulkan asumsi bahwa mereka lebih ‘layak dipilih’ daripada lawannya, yang dimana dapat dianalogikan bahwa mereka mengklaim dirinya lebih unggul daripada lainnya dalam hal kebaikan, kreativitas, atau memproduksi janji-janji politik dalam kampanye.

“Jadi, elektabilitas bukan tolok ukur yang relevan untuk mengatakan bahwa calon tertentu lebih unggul dan layak dipilih. Kata elektabilitas dari survey-survey yang tujuannya untuk menaikkan elektabilitas itu sering digunakan untuk menutupi prasangka halus dengan mengecilkan hati kandidat yang tampil berbeda dari kandidat yang lebih tradisional atau lebih dalam bidang yang lain,” paparnya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Harga Emas Antam Hari Ini: Kurang Baik Tapi Masih Lumayan, Ini Rinciannya 

Sebagai informasi, harga buyback ini merupakan harga yang didapat jika pemegang emas Antam ingin menjual kembali emasnya.

Ramalan Zodiak Hari Ini: Pengangguran Lagi Beruntung, Yang Kerja juga Ada Peluang Menarik

Ramalan zodiak hari ini meliputi seputar percintaan, keuangan dan karier bisa menjadi prediksi peruntungan di masa depan.

PAMDI Surabaya Soroti Izin dan Citra Pentas Dangdut, Sekaligus Kejar Pengakuan UNESCO

Ia mendorong para penyanyi dan pelaku seni dangdut mengedepankan etika, termasuk dalam penampilan di atas panggung.

Cegah Busa Masuk Kalimas Surabaya, PJT I Alirkan Pasokan Air Tambahan dari Waduk Sutami

PJT I terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keamanan pasokan air baku bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Air PDAM Surabaya Keruh dan Berbusa di Belasan Kawasan, Warga Keluhkan Bau Kimia

Gangguan dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Banyu Urip, Lakarsantri, Gunung Sari, Babatan, Wiyung, Manukan, Kedurus, Petemon, dan lainnya.

Dua Rumah Terbakar di Mojokerto, Terdengar Tiga Kali Ledakan

Api berasal dari freon kulkas yang diduga mengalami korsleting. Akibat kejadian itu, rumah dan semua perabotan serta peralatan elektronik hangus terbakar.