Selasa, 23 Jul 2024 22:54 WIB

Mantap! Bayi Baru Lahir di Surabaya Dapat Bansos dan Pengurusan NIK

  • Reporter : Ade Resty
  • | Jumat, 25 Agu 2023 10:38 WIB
Pendampingan pengurusan NIK

Pendampingan pengurusan NIK

selalu.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Sosial (Dinsos) memastikan seluruh bayi baru lahir tetap bisa mendapat bantuan dari negara.

Dengan memastikan itu, Pemkot Surabaya bersama Kementerian Sosial (Kemensos) pun menggelar pendampingan registrasi NIK bayi baru lahir pada aplikasi SIKS-NG di kantor Dinsos Surabaya, Kamis (24/8/2023) kemarin. Dalam acara tersebut, hadir pula BPJS dan juga pihak Dispendukcapil Surabaya. Sinergi ini untuk memastikan bayi-bayi yang baru lahir di Kota Pahlawan bisa tetap menerima bantuan dari negara.

Baca Juga: Komisi A DPRD Surabaya Minta Pemkot Rotasi Petugas Dishub

Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya, Anna Fajriatin menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bantuan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK). Bayi baru lahir akan secara otomatis menjadi penerima manfaat PBI-JK jika sang ibu telah terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Namun, Anna menjelaskan lebih lanjut bahwa kesempatan untuk menerima manfaat PBI-JK hanya sampai tiga bulan usia bayi, jika sang bayi tidak segara memiliki NIK.

“Apabila setelah 3 bulan belum juga terdaftar di data kependudukan dan belum memiliki NIK, maka bayi tersebut tidak diperkenankan lagi terdaftar sebagai penerima BPJS PBI-JK dan tidak terdaftar juga pada DTKS. Artinya bayi itu akan dicoret dari bantuan PBI-JK,” kata Anna, Jumat (25/8/2023).

Sebagai bentuk antisipasi bayi baru lahir tersebut dicoret dari data DTKS dan penerima BPJS PBI-JK, Pemerintah melakukan pendampingan registrasi NIK ini.

“Jadi, para orang tua yang memiliki bayi baru lahir dan anaknya belum memiliki akta kelahiran, dibantu langsung oleh Dispendukcapil untuk proses akta kelahirannya dan KK baru, setelah itu kita bantu registrasi NIK bayi itu ke aplikasi SIKS-NG,” kata dia.

Sebenarnya, lanjut Anna, warga Surabaya sudah dimanjakan dalam pengurusan Akta Kelahirannya, yaitu cukup di Balai RW atau ke kelurahan.

Namun, ternyata masih ada saja warga yang belum mendaftarkan anaknya untuk mendapatkan akta kelahiran.

“Kalau tidak punya akta kelahiran dan itu tidak diurus sampai 3 bulan, maka akan dicoret sebagai penerima PBI-JK, kan eman dan kasihan si bayinya kalau diputus bantuannya, padahal dia sudah dapat bantuan PBI-JK, tapi karena kelalaian orang tuanya, akhirnya bantuan itu terputus,” katanya.

Baca Juga: DPRD Surabaya Minta Alokasi APBD untuk Rumah Ibadah Bisa Terlaksana

Oleh karena itu, ia mengajak kepada seluruh warga Kota Surabaya, terutama bagi orang tua yang memiliki anak baru lahir untuk segera membuat akta kelahiran anaknya supaya bantuan PBI-JK dari Kemensos tidak diputus. “Toh pendaftarannya sudah gampang dan tidak perlu jauh-jauh ke Siola. Mari kita tertib administrasi demi anak-anak kita,” ujarnya.

Rahmat Setiawan Pusdatin Kemensos menjelaskan, jika bayi baru lahir otomatis menjadi penerima BPJS PBI-JK.

"Tapi kebijakan DTKS adalah harus masuk ke dalam data DTKS terlebih dahulu. Untuk masuk ke dalam DTKS harus masuk ke Dispendukcapil dengan memiliki NIK," kata Rahmat.

Setelah bayi baru lahir sudah memiliki NIK, kata Rahmat, nanti Dinsos yang akan melakukan registrasinya dilakukan setiap bulan. Setiap bulan pula akan dilakukan pengesahan dari kepala daerah.

Dia juga menambahkan, jika anak bayi baru lahir tidak melakukan registrasi lewat 3 bulan maka anak tersebut akan dinonaktifkan kepesertaan BPJS PBI-JK.

Baca Juga: Penertiban Pasar Daging Pegirian Diapresiasi, Warga Senang Pedagang Riang

"Jika terlewat, perlakuan akan sama dengan usulan baru DTKS dan bukan lagi registrasi bayi baru lahir. Selama diusulkan di aplikasi SIKS-NG dan disahkan oleh kepala daerah maka akan masuk ke dalam DTKS," katanya.

Oleh karena itu, Rahmat meminta warga memanfaatkan layanan ini agar layanan kesehatan tidak terputus.

Andrean Firmansyah warga Keputih menyambut baik layanan ini. Katanya, dia sangat terbantu dengan layanan ini, mengingat anaknya sudah berumur 5 bulan. Dia merupakan warga Surabaya yang menikah sirih, sehingga anaknya belum memiliki data kependudukan.

"Saya sangat terbantu sekali dengan program ini. Saya bisa mengikuti Lontong Kupang terlebih dahulu jadi bisa buat KK, Akta Lahir dan buku nikah sekali jadi," pungkasnya.

Editor : Ading