• Loadingselalu.id
  • Loading

Sabtu, 18 Mei 2024 11:50 WIB

Dipuji dan Dihujat, Ini Perbedaan Perayaan Ultah Risma dan Gubernur Khofifah

Atas perayaan ulang tahun Risma ke-59, bawah perayaan ulang tahun Gubernur Khofifah di Grahadi

Atas perayaan ulang tahun Risma ke-59, bawah perayaan ulang tahun Gubernur Khofifah di Grahadi

Surabaya (selalu.id) - Polemik perayaan ulang tahun Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menuai kritik bahkan hujatan dari warga berbeda dengan perayaan ulang tahun mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beberapa waktu lalu. Sama-sama ditengah pandemi, perayaan ulang tahun ke-59 Risma jauh dari kesan pesta dan menuai pujian dari masyarakat.

Baca Juga: Tokoh PWNU Ini Berpotensi Diusung PKB Maju Pilgub Jatim

Di penghujung masa jabatan sebagai Wali Kota Surabaya, tepatnya pada 20 November 2020, Risma merayakan ulang tahun yang ke-59. Tidak ada pesta yang melibatkan banyak orang. Hanya syukuran kecil yang dihadiri keluarga dan beberapa pejabat Pemkot Surabaya. Risma memberikan potongan tumpeng pertamanya kepada suami yang dianggap selalu mensuport kegiatannya yang tak kenal waktu.

"Saya terimakasih banyak. Alhamdulillah sampai hari ini diberikan kesehatan oleh Tuhan. Semoga teman-teman, sahabat dan warga Surabaya juga selalu diberi kesehatan. Karena sehat sekarang mahal harganya," kata Risma saat menerima kejutan di rumah dinasnya sebagai Wali Kota Surabaya lalu.

Perayaan ulang tahun sederhana Risma tersebut mendapat apresiasi warga Surabaya. Risma disebut sebagai pemimpin yang mengerti kondisi warganya yang tengah berjuang dalam kondisi pandemi.

Kondisi berbeda dialami oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang menuai banyak hujatan dari warga Jawa Timur karena menggelar pesta ulang tahun di tengah pandemi dengan sederet aturan protokol kesehatan yang memberatkan warga. Khofifah dianggap tidak peka dan merasakan kesusahan warga Jawa Timur akibat pandemi ini.

Tak hanya Gubernur dan Wakilnya, polisi pun kena getah kritikan lantaran tidak bertindak sama kepada masyarakat dan pejabat. Sebab di hari yang sama ada pembubaran wisuda siswa SMA di Mojokerto dan Gresik.

Kegeraman masyarakat Jawa Timur ini cukup beralasan, pasalnya aturan dari Pandemi Covid-19 cukup memberatkan, diantaranya pembatasan jam buka usaha, pembatasan kerumunan serta larangan mudik. Mereka menumpahkan kemarahan yang selama ini dipendam pada acara pesta ultah Gubernur Khofifah tersebut.

Sementara itu pakar Epidemologi Universitas Airlangga, Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr. M.Kes, mengatakan, peristiwa itu (ultah Gubernur Khofifah) menunjukkan bahwa pejabat di Pemprov Jatim kurang sensitif dengan situasi pandemi yang belum berakhir, bahkan angkanya lebih tinggi dibanding bulan yang sama tahun lalu.

"Serta menunjukkan kekurangpahaman bahwa vaksinasi hanya mencegah mereka yang terinfeksi Covid-19 tidak bergejala berat. Tapi berpotensi tertular dan menularkan orang yang belum divaksin," ujarnya.

Atoillah mengkritisi, apa yang menjadi alasan Agar masyarakat mematuhi aturan protokol kesehatan yang belum dihayati oleh para pemimpin. Kepercayaan masyarakat akan terhadap pemerintah, dalam hal ini Pemprov Jatim akan berkurang bahkan hilang.

Editor : Redaksi