Rabu, 22 Jul 2026 23:06 WIB

Sidak ke RSUD dr Soewandhie, Wakil Ketua DPRD Surabaya: Sistem ICU Harus Dievaluasi

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 02 Jun 2023 17:30 WIB
ICU RSUD dr Soewandhie
ICU RSUD dr Soewandhie

Selalu.id - Buntut peristiwa meninggalnya pasien dari warga Kenjeran, Asiasi (52) saat mengantre di ruang ICU, Wakil Ketua DPRD Surabaya, Reni Astuti melakukan sidak ke di RSUD dr Soewandhie, Jumat (2/6/2023).

Reni mengatakan bahwa dirinya beberapa kali datang ke RSUD dr Soewandhie dan dari sana ia menilai, ada dua hal yang menjadi evaluasi yakni sistem antre ICU dan ambulan yang tak memadai.

"Informasi keluarga yang mengatakan bahwa keluarga menolak merujuk pasien meski tahu ICU penuh, ternyata karena keluarga mendapat info yang membuat khawatir, yakni ambulan yang tak memadai. Atas itu juga dikatakan bahwa pihak RS tidak turut bertanggung jawab, itu membuat kekuarga takut," ungkapnya, saat sidak.

Sebab itu, Reni melakukan sidak dengan melakukan mengecekan ruang ICU dan fasilitas mobil ambulance yang ada di RSUD dr Soewandhie.

"Pertama saya cek ambulance tadi. Sebenarnya mobilnya banyak tapi yang memikili kelengkapan alat monitor jantung, oksigen dan lainnya hanya satu," ujar politisi dari Partai Keadalian Sejahtera (PKS) itu.

Kemudian, menurutnya yang harus di evaluasi juga yakni penambahan ruang ICU dan digitalisasi sistem antrean ruangan. Ia menilai pengecekan pada trafic ruangan ICU terkait sistem pecatatan pasien antre masih dilakukan manual, sehingga perlu beberapa kroscek oleh para petugas.

Bahkan, Reni juga menemukan bahwa nama Asiasi, warga Tanah Merah yang meninggal saat menunggu ICU tidak tercacat dihari dokter menyatakan dia harus masuk ICU.

"Saya lihat tadi catatannya masih manual, nama Asiasi tidak tercatat di hari selasa, tapi ada di daftar Rabu paginya. Karena prosesnya manual sehingga tidak bisa terlihat transparan,"

Lebih lanjut Reni pun mempertanyakan, kenapa saat ada penambahan gedung disamping gedung lama, tidak diiringi oleh penambahan jumlah ICU.

"Kemudian jumlah ICU dengan adanya pasien harusnya semakin bertambah, karena ada gedung baru juga. Tapi kapasitas IGD dan ICU juga tidak ikut bertambah," ungkapnya.

Saat ini diketahui, lanjutnya, RSUD dr Soewandhie Surabaya hanya memiliki satu ruang ICU dengan kapasitas 9 bed dan hampir setiap hari ada keluar masuk pasien disana. Bahkan hingga harus mengantre.

Reni pun mendorong, hal ini bisa menjadi evaluasi bersama RSUD dr Soewandhie dalam penangganan pasien, khususnya rawat inap. Supaya insiden yang dialami Asiasi dan keluarga tidak terulang di pasien lainnya.

"Ketika ada kekurangan ya, harus mengakui dan diperbaiki, supaya kedepannya tak terulang kembali," tegasnya.

Sementara itu, penjelasan dari Pihak RS Soewandhie, yakni Dokter Mulyadi membenarkan hal tersebut.  Ia menjelaskan terkait pasien Asiasi yang di ada didaftar tunggu ruang ICU sejak hari Selasa alasannya anterean banyak, sehingga nama Asiasi baru ada di hari Rabu.

Meski begitu, dokter Mulyadi menjelaskan kalaupun namanya ada dalam daftar antrean, ia juga belum bisa masuk ke ruang ICU.

"Rabu muncul namanya, karena di ICU sudah ada yang keluar jadi ibu Asiasi bisa masuk. Cuma pendaftarannya baru muncul Rabu pagi," tambahnya.

Dokter Mulyadi juga menjamin bahwa pelayanan di ruang ICU juga akan mengutamakan mana kondisi pasien yang paling gawat darurat.

"Yang paling berat yang diutamakan. Tapi pada prinsipnya semua yang inden di ICU dalam keadaan berat dan butuh ventilator atau alat bantu lain. Tapi kami juga tidak bisa pilih karena sesuai urutan dan semuanya membutuhkan," tukasnya.

Mengenai komunikasi petugas atau perawat pada pasien, khusunya keluarga Asiasi saat akan merujuk pasien. Dokter Mulyadi menambahkan akan melakukan evaluasi pada yang bersangkutan.

"Sudah dievaluasi, mungkin perawatnya kecapekan akhirnya salah ngomong seperti itu," tutupnya. (Ade)

Baca Juga: Diskon BPHTB Surabaya 40 Persen: Fokus Rumah Pertama, Lindungi PAD dan Bantu MBR

Editor : Ading
Berita Terbaru

75 Anak Surabaya Resmi Kantongi Penetapan Perwalian, Hak Pendidikan hingga Kesehatan Terjamin

Program ini bertujuan memberikan perlindungan hukum bagi anak yatim piatu, anak terlantar, hingga anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Kemenag Terapkan Manajemen Talenta Berbasis Sistem Merit untuk Birokrasi Bebas KKN

Menag menegaskan digitalisasi menjadi instrumen penting dalam menyederhanakan birokrasi sekaligus memastikan pengelolaan talenta berjalan secara lebih adil.

Mantan Dirut KBS jadi Tersangka, Wali Kota Eri Janji Usut Tuntas Kasus Selisih Kas Rp10 M

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan Pemkot akan memperketat pengawasan dengan menerapkan audit independen secara rutin.

Tiberman Raih 2 Penghargaan MURI dalam Tiberman Expo 2026

Andy Gunawan mengatakan, inovasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus menghadirkan solusi sekaligus nilai tambah bagi pelanggan.

Mantan Dirut KBS Tersangka Korupsi, DPRD Surabaya: Tamparan Keras dan Alarm Pembenahan BUMD!

DPRD Surabaya menilai kasus tersebut tidak boleh kembali terulang karena berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap perusahaan daerah.

Dugaan Penganiayaan di Super House Surabaya: 3 Orang Diamankan, Polisi Dalami Kelalaian Pengelola

Insiden tersebut menyebabkan korban menderita luka fisik dan trauma berat hingga kini masih menjalani perawatan medis.