Minggu, 06 Sep 2026 23:27 WIB

Guru Besar Kedokteran Hewan Unair Temukan Obat Kudis dari Tanaman Liar

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 05 Mar 2023 11:23 WIB

selalu.id - Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Prof Poedji Hastutiek menemukan obat kudis atau scabies dari tanaman liar.

Dalam penelitiannya, Prof Poedji menemukan bahwa tanaman Permot atau Passiflora foetida Linn, yang merupakan tanaman alami, punya potensi sebagai obat kudis.

Baca Juga: IKA Unair Jember Resmi Dikukuhkan, Siap Dukung Program Pemkab

Ekstrak daun Permot mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, dan terpenoid. “Ketiga senyawa ini dapat membunuh tungau serta dapat mempengaruhi penyembuhan kulit yang bekerja dengan merangsang pembentukan sel-sel baru,” kata Prof Poedji, Minggu (5/3/2023).

Ia menilai ekstrak daun Permot berpotensi untuk dikembangkan menjadi bioakarisida scabies yang ramah lingkungan. Tetapi, perlu sediaan dan pemanfaatan teknologi nanopartikel serta uji klinis, untuk meneliti lebih lanjut.

“Ekstrak daun Permot dapat dikembangkan menjadi bioakarisida yang ramah lingkungan. Sehingga dapat juga memberikan manfaat untuk kesehatan ternak dan memaksimalkan pendapatan peternak,” terangya.

Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penderita akan merasa gatal di area kulit yang terinfeksi.

Baca Juga: Menginspirasi Birokrasi: Sekel Surabaya Raih Gelar Doktor Lewat Riset Kelincahan Pegawai

Tak hanya manusia, scabies ternyata juga dapat menyerang hewan. Scabies atsu kudis bisa dijumpai di berbagai jenis hewan seperti ternak kambing, babi, sapi, kerbau, kelinci, dan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.

“Scabies merupakan penyakit menular khususnya pada hewan ternak. Scabies menyerang hewan yang mudah stres, malnutrisi, immunocompromised, overcrowding, serta rendahnya higienitas,” jelas Prof Poedji.

Hewan yang mengalami scabies, lanjutnya, selain akan merasa gatal, dapat mengakibatkan luka pada kulit sehingga bulu hewan menjadi rontok dan sulit disembuhkan.

Baca Juga: Tiga Jurusan Paling Diminati di UNAIR pada UTBK 2026

Sudah umum bagi peternak memberikan suntikan ivermectin untuk ternaknya yang menderita kudis. Tetapi, obat itu mahal, sulit ditemukan, tidak cocok untuk pencegahan dan pengobatan massal, hingga dapat berpotensi mengakibatkan resistensi terhadap obat.

Khusus masalah resistensi obat pada ternak, juga berdampak pada kegagalan dalam pengobatan. Sehingga peternak harus mengeluarkan biaya yang lebih besar.

"Selain itu, penggunaan ivermectin yang tidak tepat juga dapat meninggalkan zat sisa pada daging dan susu. Hal itu akan membahayakan manusia apabila mengonsumsinya,” pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

PAMDI Surabaya Soroti Izin dan Citra Pentas Dangdut, Sekaligus Kejar Pengakuan UNESCO

Ia mendorong para penyanyi dan pelaku seni dangdut mengedepankan etika, termasuk dalam penampilan di atas panggung.

Cegah Busa Masuk Kalimas Surabaya, PJT I Alirkan Pasokan Air Tambahan dari Waduk Sutami

PJT I terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keamanan pasokan air baku bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Air PDAM Surabaya Keruh dan Berbusa di Belasan Kawasan, Warga Keluhkan Bau Kimia

Gangguan dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Banyu Urip, Lakarsantri, Gunung Sari, Babatan, Wiyung, Manukan, Kedurus, Petemon, dan lainnya.

Dua Rumah Terbakar di Mojokerto, Terdengar Tiga Kali Ledakan

Api berasal dari freon kulkas yang diduga mengalami korsleting. Akibat kejadian itu, rumah dan semua perabotan serta peralatan elektronik hangus terbakar.

DPRD Surabaya Soroti Data Warga: Baru Dibetulkan Saat Butuh Bantuan, BPJS hingga Waris

Cahyo menilai Dispendukcapil Surabaya perlu memetakan data yang belum mutakhir maupun tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Melon Hidroponik jadi Magnet Baru Wisata Edukasi di Candi Negoro, Sidoarjo

Greenhouse seluas 400 meter persegi menjadi pusat pengembangan wisata ini.