Kamis, 22 Okt 2026 07:39 WIB

Guru Besar Kedokteran Hewan Unair Temukan Obat Kudis dari Tanaman Liar

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 05 Mar 2023 11:23 WIB

selalu.id - Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Prof Poedji Hastutiek menemukan obat kudis atau scabies dari tanaman liar.

Dalam penelitiannya, Prof Poedji menemukan bahwa tanaman Permot atau Passiflora foetida Linn, yang merupakan tanaman alami, punya potensi sebagai obat kudis.

Baca Juga: 172 PPDS FK Unair Muntah dan Pusing, Begini Kondisinya 

Ekstrak daun Permot mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, dan terpenoid. “Ketiga senyawa ini dapat membunuh tungau serta dapat mempengaruhi penyembuhan kulit yang bekerja dengan merangsang pembentukan sel-sel baru,” kata Prof Poedji, Minggu (5/3/2023).

Ia menilai ekstrak daun Permot berpotensi untuk dikembangkan menjadi bioakarisida scabies yang ramah lingkungan. Tetapi, perlu sediaan dan pemanfaatan teknologi nanopartikel serta uji klinis, untuk meneliti lebih lanjut.

“Ekstrak daun Permot dapat dikembangkan menjadi bioakarisida yang ramah lingkungan. Sehingga dapat juga memberikan manfaat untuk kesehatan ternak dan memaksimalkan pendapatan peternak,” terangya.

Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penderita akan merasa gatal di area kulit yang terinfeksi.

Baca Juga: IKA Unair Jember Resmi Dikukuhkan, Siap Dukung Program Pemkab

Tak hanya manusia, scabies ternyata juga dapat menyerang hewan. Scabies atsu kudis bisa dijumpai di berbagai jenis hewan seperti ternak kambing, babi, sapi, kerbau, kelinci, dan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.

“Scabies merupakan penyakit menular khususnya pada hewan ternak. Scabies menyerang hewan yang mudah stres, malnutrisi, immunocompromised, overcrowding, serta rendahnya higienitas,” jelas Prof Poedji.

Hewan yang mengalami scabies, lanjutnya, selain akan merasa gatal, dapat mengakibatkan luka pada kulit sehingga bulu hewan menjadi rontok dan sulit disembuhkan.

Baca Juga: Menginspirasi Birokrasi: Sekel Surabaya Raih Gelar Doktor Lewat Riset Kelincahan Pegawai

Sudah umum bagi peternak memberikan suntikan ivermectin untuk ternaknya yang menderita kudis. Tetapi, obat itu mahal, sulit ditemukan, tidak cocok untuk pencegahan dan pengobatan massal, hingga dapat berpotensi mengakibatkan resistensi terhadap obat.

Khusus masalah resistensi obat pada ternak, juga berdampak pada kegagalan dalam pengobatan. Sehingga peternak harus mengeluarkan biaya yang lebih besar.

"Selain itu, penggunaan ivermectin yang tidak tepat juga dapat meninggalkan zat sisa pada daging dan susu. Hal itu akan membahayakan manusia apabila mengonsumsinya,” pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Antisipasi Kekeringan, Pemkab Mojokerto Salurkan 84 Tangki Air Bersih ke Trawas dan Ngoro

Langkah Pemkab Mojokerto ini diharapkan dapat meringankan beban warga selama musim kemarau dan memastikan kebutuhan air bersih terpenuhi hingga musim hujan.

Polda Jatim Luncurkan Polisi Jogo Sekolah, Bentengi Siswa dari Bullying dan Narkoba

Irjen Dekananto memastikan Polisi Jogo Sekolah tidak akan berhenti sebagai kegiatan seremonial belaka, melainkan memberi manfaat nyata bagi pendidikan di Jatim.

DPRD Surabaya Siapkan Public Hearing dalam Tatib Baru, Cegah Protes Perda Susulan

Langkah ini didorong pengalaman pembahasan Peraturan Daerah (Perda) tentang Hunian Layak yang menuai protes setelah aturan tersebut disahkan.

Sindikat Pengoplos LPG Subsidi Digulung Polres Pasuruan, 8 Orang Diamankan

Nilai penjualan ditaksir mencapai Rp300 juta dengan proyeksi keuntungan pihak B-P hingga Rp1 miliar, yang kini masih terus didalami penyidik.

Pemkab Sidoarjo Jemput Bola Layanan Usaha, Minta Perusahaan Rekrut 80% Pekerja Lokal

Pemkab Sidoarjo meminta dunia usaha memberikan prioritas kepada warga ber-KTP Sidoarjo dalam perekrutan tenaga kerja melalui layanan one desk stop service.

DPRD dan Pemprov Jatim Ancam Sanksi Sekolah Penahan Ijazah: Jangan Hambat Masa Depan Siswa!

Praktik tersebut dinilai sangat merugikan dan menghambat masa depan siswa untuk melanjutkan studi maupun melangkah ke dunia kerja.