Rabu, 22 Jul 2026 02:31 WIB

Tim Unair Identifikasi Penyebab Kematian Paus di Pesisir Banyuwangi

  • Penulis : Ade Resty
  • | Rabu, 03 Agu 2022 16:08 WIB
Proses identivikasi penyebab kematian Paus di Perairan Banyuwangi
Proses identivikasi penyebab kematian Paus di Perairan Banyuwangi

selalu.id - Tim SIKIA Banyuwangi Universitas Airlangga (Unair) melakukan identifikasi penyebab matinya paus yang terdampar di pesisir Banyuwangi, Rabu (3/8/2022) lalu. Diketahui seekor Paus ditemukan mati di pesisir pantai di Banyuwangi pada Senin (1/8/2022) lalu.

Ketua tim identifikasi SIKIA Banyuwangi Unair, Aditya Yudhana mengungkapkan, ada sejumlah prosedur identifikasi yang dilakukan, diantaranya pengamatan eksternal, organ dan bagian lemak di bawah lapisan kulit atau yang dikenal dengan sebutan 'Belibis.

Baca Juga: 12 Ribu Lebih Berita Migas dalam 6 Bulan, Cuma 2% yang Negatif. Kok Bisa?

"Kalau sudah dipindahkan ke daratan, kita amati anatomi eksternalnya dulu. Apakah ada luka maupun parasit yang ada di luar tubuh paus tersebut. Dan, seberapa parah kondisi luka atau parasit tersebut," kata Aditya, melalui keterangan persnya, Rabu (3/8/2022).

Kemudian identifikasi itu dilanjutkan dengan rongga perut yang dibedah dan diamati kondisi organ dalamnya.

Kata dia, tujuannya , untuk mengetahui apakah masih dapat dilakukan pengamatan laboratorium.

Namun, Aditya menyampaikan, secara primer beberapa organ yang diamati meliputi usus dan lambung untuk mengetahui secara langsung ada tidaknya kontaminasi cemaran sampah plastik.

Baca Juga: Rekomendasi Pusat Oleh-oleh Banyuwangi: Tempatnya Enak, Banyak Pilihan

"Selain itu, kita cek rongga dada seperti jantung dan paru-paru untuk mengetahui apakah ada penyakit bawaan yang berakibat pada kinerja jantung. Sedangkan paru-paru perihal suplai oksigen," jelasnya.

Lebih lanjut Aditya menjelaskan, timnya menemui sejumlah tantangan saat di lapangan. Misalnya, pemilihan organ yang masih bisa diuji lebih lanjut untuk mengetahui perubahan patologis atau kondisi abnormal paus sperma.

"Termasuk ada tidaknya parasit sebagai salah satu indikasi penyebab kematian paus sperma itu,"tuturnya.

Mengenai upaya evakuasi, Kepala pelaksana BPBD Kabupaten Banyuwangi Ilzam Nuzuli menjelaskan, batas rekomendasi BKSDA dan dokter hewan, paus yang terdampar tersebut akan dipotong menjadi beberapa bagian.

Baca Juga: 6 Wisata Banyuwangi dengan Keindahan Memukau

Potongan itu dijadikan sample penelitian dan identifikasi penyebab kematian. Selanjutnya, potongan itu akan dikubur. Lokasinya di pantai sekitar penemuan paus terdampar tersebut.

"Karena, tadi mau kita geser ke sebelah utara. Kapal tidak bisa mengevakuasi dan sudah kita upayakan ditarik menggunakan crane juga tidak mampu. Sehingga eksekusi (identifikasi, Red) secara langsung di lokasi," terangnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Pemkot Surabaya mengimbau seluruh pengurus RT dan RW untuk tetap menjaga transparansi dan melakukan pencatatan keuangan secara terbuka.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.