Seniman Sebut Malaysia Mengklaim Kesenian Reog Tidak Sepenuhnya Salah, Kok Bisa?
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 12 Apr 2022 19:03 WIB
selalu.id - Himpunan Paguyuban Reog Ponorogo dan Jaranan Kota Surabaya (HIPREJS) mengatakan bahwa rencana Malaysia mengklaim kesenian Reog Ponorogo ke Unesco sebagai warisan budaya mereka bukan tanpa alasan.
Ketua HIPREJS, Tri Suyanto mengatakan, isu Malaysia mengklaim Reog Ponorogo tidak sepenuhnya salah. Sebab, banyak warga Indonesia yang ada di Malaysia.
Baca Juga: SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan, Aksi Nyata Dukung Dunia Pendidikan
Justru perkembangan kesenian di sana termasuk Reog perkembangannya begitu pesat. Bahkan, orang pribumi disana sudah cukup lama menjadi warga Negara Malaysia.
"Karena rindu dengan budaya asalnya ditambah mereka menetap sudah cukup lama dan menjadi warga negara malaysia, mereka mengembangkan kesenia Reog di sana, di Batu Pahat (Malaysia)," kata Tri, saat ditemui selalu.id, Selasa (12/4/2022).
Kemudian, lanjut Tri, Pemerintah Malaysia menangkap hal itu sebagai khasanah budaya yang ada disana. Karena memang ada kesamaan rumpun antara Malaysia dan Indonesia.
"Nah, temen-teman (seniman) yang disini kebakaran jenggot, pemerintah kurang gerak cepat," tegasnya.
Baca Juga: 2 Jemaah Haji Probolinggo Masih Tertahan di Arab Saudi, Ini Identitas dan Penyebabnya
Tri menyebut seharusnya pemerintah melihat Kesenian Reog Ponorogo sebuah budaya kearifan lokal yang harus dirawat, dikembangakan dan dijaga.
"Mestinya mendapat perhatian khusus, prioritas khusus. Karena ini merupakan jati diri selaku bangsa," katanya.
Lebih lanjut Tri menjelaskan, kesenian Reog Ponorogo tidak hanya sebagai tontonan, akan tetapi mempunyai filosofi sebagai tuntunan.
Baca Juga: Idul Adha Jadi Momentum Kebersamaan, PDIP Jatim Salurkan 468 Sapi Kurban
"Sebab orang kalau bicara tentang Reog, jaranan imagenya negatif. Padahal tidak seperti itu," tuturnya.
Padahal mereka tidak tahu sejarahnya Reog. Ia menambahkan, seharusnya belajar tentang literasi sehingga tidak menjelekkan budaya leluhur.
"Kalau memang mencintai seni, pelajarilah literasi tentang budayaa itu, sehingga bisa mengedukasi masyarakat kepada generasi milenial ini," terangnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi