Kamis, 03 Sep 2026 12:09 WIB

Hilal Belum Terlihat di Surabaya, Ramadan Kemungkinan Besar Jatuh pada 19 Februari 2026

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 17 Feb 2026 19:00 WIB
Pemantauan Rakyatul Hilal di UINSA Surabaya. (Foto: Ade/selalu.id).
Pemantauan Rakyatul Hilal di UINSA Surabaya. (Foto: Ade/selalu.id).

selalu.id - Hilal penentu awal Ramadan tidak terlihat di Surabaya saat rukyatul hilal yang digelar Fakultas Syariah dan Hukum Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (17/2/2026).

Secara astronomis, posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga dinilai mustahil teramati.

Baca Juga: Kemenag Jatim Laporkan Hilal Dzulhijjah 1447 H Terlihat di Lamongan

Ketua Program Studi Ilmu Falak UINSA, Siti Tatmainul Qulub menjelaskan, berdasarkan hasil hisab dan observasi di titik pantau Surabaya, tinggi hilal tercatat minus 1 derajat 16 menit dengan elongasi sekitar 1 derajat 13 menit.

“Posisi hari ini hilal masih di bawah ufuk. Dari segi hisab, hilal terbenam lebih dulu daripada matahari, dan ini juga belum ijtima,” kata Siti di sela pemantauan.

Ia menegaskan, kondisi tersebut jauh dari kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menjadi acuan resmi di Indonesia.

Berdasarkan kriteria MABIMS, hilal dinyatakan memenuhi syarat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Dengan posisi minus dan elongasi rendah, peluang terlihatnya hilal di Surabaya dinilai nihil. “Bukan agak sulit, memang mustahil terlihat karena hilalnya sudah di bawah ufuk saat matahari terbenam,” jelas Siti.

Meski demikian, tim UINSA tetap melaksanakan rukyat sebagai verifikasi faktual sekaligus memenuhi ketentuan syar’i pada 29 Syakban.

Baca Juga: Kemenag Jatim Gelar Rukyatul Hilal 1 Syawal 1447 H di 28 Titik

Dalam pemantauan itu, sedikitnya delapan perangkat disiagakan, mulai dari teleskop robotik, teleskop manual, teodolit hingga binokuler.

Rukyat juga melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Falak.

Jika hingga akhir pemantauan hilal tetap tidak terlihat, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Dengan demikian, awal Ramadan berpotensi jatuh pada Kamis (19/2/2026).

Namun demikian, kepastian awal Ramadan tetap menunggu hasil Sidang Isbat Kementerian Agama yang mempertimbangkan laporan rukyat dari seluruh Indonesia.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

“Besok masih tanggal 30 Syakban, lusa baru tanggal 1 Ramadan. Tapi kita tetap menunggu sidang isbat karena basisnya bukan hanya hisab, melainkan juga laporan rukyat dari Sabang sampai Merauke,” papar Siti.

Selain faktor astronomis, cuaca mendung akibat musim hujan di Surabaya turut menjadi tantangan dalam pemantauan.

Hasil rukyat dari titik pantau UINSA selanjutnya akan dikoordinasikan dengan PWNU Jawa Timur untuk diteruskan sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat tingkat nasional.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Air PDAM Bocor Rp400 Miliar, DPRD Surabaya Ungkap Praktik Pengelolaan Air Mandiri di Perumahan Elit

Hingga 28 Agustus 2026, dari total pagu anggaran mencapai Rp1,9 triliun, BPKAD baru merealisasikan anggaran sebesar Rp11 miliar.

Pengumuman Beasiswa Cinta Bergema Jember, 7.566 Mahasiswa Lolos Administrasi

Pemkab Jember nantinya hanya akan menyaring sekitar 4.200 mahasiswa sesuai batas kuota yang tersedia.

Potensi Pendapatan PDAM Hilang, DPRD Surabaya Bakal Panggil Pengelola Air Mandiri di Perumahan Elit

Machmud membeberkan, sejumlah pengelola kawasan perumahan elit memproduksi air sendiri dan menetapkan tarif secara sepihak kepada para penghuninya.

Sering Bikin Bahaya, Arus Lalu Lintas Embong Gayam dan Embong Sawo Surabaya Kini Dibalik

Selama masa uji coba, Dishub Surabaya tidak hanya memfokuskan pemantauan pada Jalan Basuki Rahmat, tetapi juga mengevaluasi kawasan sekitarnya secara berkala.

‎Gempur Rokok Ilegal, Bea Cukai Probolinggo Targetkan Penerimaan Rp1,4 Triliun

Selain pemberantasan rokok ilegal, Bea Cukai Probolinggo juga memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait aturan barang bawaan penumpang dari luar negeri.

Ternyata, Ada 21 SPPG MBG di Sidoarjo Belum Berizin

Imbas keracunan massal santri, Pemkab Sidoarjo mendesak agar pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada program MBG benar-benar diperketat.