Senin, 02 Feb 2026 20:43 WIB

Diduga Malpraktik, Dokter di Sidoarjo Dilaporkan ke Polisi

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 03 Mar 2022 18:37 WIB
Pelaporan di Mapolda Jatim
Pelaporan di Mapolda Jatim

selalu.id - Diduga malpraktik, Salah satu dokter yang bertugas di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Gedangan Kabupaten Sidoarjo, dilaporkan oleh keluarga pasien ke Polda Jatim, Kamis (3/3/2022).

Ini dilakukan atas kasus kematian bayi, karena terlambat dikeluarkan dari rahim ibunya.

Baca Juga: Pesawat Latih Tergelincir di Bandara Juanda, 9 Penerbangan Dialihkan

Keluarga pasien berinisial (LM) melaporkan dokter berinsial (EY), dengan tuduhan, telah melanggar Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yakni melakukan kelalaian yang menyebabkan kematian seseorang.

Melalui kuasa hukum keluarga pasien, Soegeng Hari Kartono, SH dan partner mengatakan, kedatangannya ke Polda Jatim, untuk melaporkan dokter EY yang berdinas di sebuah RSIA di Gedangan Kabupaten Sidoarjo.

"Yakni tentang dugaan malpraktek dengan kelalaian dan lambatnya penanganan dokter, yang menyebabkan janin dikandungan meninggal dunia,” ucapnya.

Soegeng menambahkan, upaya menempuh jalur hukum dilakukan supaya kejadian ini ditindak lanjuti secara hukum dan undang-undang yang berlaku.

"Ini agar kejadian seperti ini tidak terulang, karena menyangkut nyawa manusia, jadi harus di tindak lanjuti,” tambahnya.

Sebagai seorang dokter seharusnya lebih mementingkan pasiennya dari pada kepentingan pribadinya, dan itu juga sudah tugasnya menjadi seorang dokter, menangani pasien secara seksama serta secara teliti.

"Sampai janin yang ada dikandungan meninggal, hingga ibu bayi masih dalam perawatan hingga keluar rumah sakit, dokter tidak pernah bertemu atau menemui pasiennya," tutup Soegeng.

Keluarga pasien (LM) menjelaskan kronologisnya sebagai berikut, pada hari Rabu (23/2/2022) sekitar pukul 02.00 Wib, putra pelapor yang berinsial (AP) dan istrinya berinisial (S), mendatangi RSIA Gedangan, Sidoarjo.

"Kami memeriksakan kandungan karena usianya sudah memasuki bulan ke-9 dan adanya tanda-tanda akan melahirkan,” jelasnya.

Masih lanjut LM, sesampai di rumah sakit langsung di masukan UGD dan di periksa oleh dokter jaga. Hasil pemeriksaan awal, bahwa S ini sudah ada pembukaan satu, akhirnya di sarankan sama dokter jaga untuk opname sekalian dan menunggu proses kelahiran.

Baca Juga: Pesawat Latih Tergelincir di Bandara Juanda, Runway Sempat Tutup 1 Jam

AL dan S menyetujui untuk opname dan memilih kamar kelas 1 VIP.

"Sekitar pukul 14.00 Wib di hari yang sama, Rabu (23/3/2022) dokter EY datang dan memeriksa kondisi S. Dari hasil pemeriksaan di simpulkan, bayi dalam keaadan sehat dengan estimasi berat 2,5 kg, dan tetap di pembukaan satu.

"Dokter EY bilang untuk memastikan kondisi bayi akan di lakukan USG pada hari Kamis (24/2/2022) sekitar pukul 09.00 Wib. Di tunggu sampai jam 11.00 Wib belum ada kabar tentang USG, akhirnya ada informasi bahwa dokter EY ada susulan ke Banyuwangi karena mertuanya meninggal dunia,” ujarnya.

Pada pukul 13.00 Wib, AP mendatangi perawat jaga karena kondisi istrinya perutnya sakit terus, dan AP juga meminta kepada perawat jaga untuk segera di lakukan opersai caesar. Setelah perawat jaga berkonsultasi kepada dokter EY, pihak rumah sakit tidak berani melakukan operasi caesar, karena menurut dokter EY melalui telepon sama perawat, kondisi janin masih belum matang dan berat badan belum memenuhi.

"Pada pukul 14.00 Wib, perawat masuk ke ruangan kamar S dengan membawa sebotol obat yang menurut versi keterangan dari perawat tersebut, obat tersebut untuk menunda kontraksi melahirkan. Obat tersebut dimasukkan melalui dubur, pukul 16.00 Wib dimasukkan obat yang sama ke S, yang kembali melalui dubur," lanjutnya.

Sekitar pukul 18.00 Wib, di hari Kamis (24/2/2022) perawat memeriksa kondisi S dan juga kandungannya. Alangkah kagetnya karena pada waktu di periksa detak jantung bayi yang ada di kandungan sudah tidak ada. Akhirnya perawat memanggil dokter berinisial M (dr senior), setelah di periksa dengan seksama oleh dokter M, akhirnya di pastikan kondisi bayi yang ada di kandungan sudah meninggal dunia.

Baca Juga: Belajar ke Surabaya, Sidoarjo Tiru Sistem Pajak Digital dan Anggaran Efisien

"Sebelumnya dokter M ini, sempat ngobrol-ngobrol sama ibu dari S, dan di saksikan AP, beliau ngomong kalau saya berani dan langsung lakukan tindakan opersi caesar untuk meyelamatkan bayi yang ada di kandungan. Karena menurut versi dokter M, kondisi bayi sudah matang dan berat badan sudah memenuhi (estimasi 2,6Kg) dan juga sehat," ungkapnya.

Pada pukul 21.00 Wib masih di hari Kamis saya datang ke rumah sakit dan saya langsung masuk ke kamar S, juga meminta keterangan sama perawat jaga. Tapi saya belum mendapat jawaban yang memuaskan, akhirnya saya meminta untuk ketemu sama dokter M yang pada saat itu masih praktek.

"Akhirnya selesai praktek, saya di temui sama dokter M, beliau menjelaskan kalau bayi S, sebenarnya sudah bisa dikeluarkan. Karena menurut analisa dokter M, bayi sudah matang dan berat juga sudah memenuhi. Beliau juga heran dengan analisa dokter EY, yang menyatakan bayi belum matang dan kalau di paksakan melahirkan akan lahir premature," urainya.

Kejadian masih berlanjut, malamnya pada pukul 23.30 Wib, pihak RSIA Gedangan, Sidoarjo memutuskan untuk memberi obat pendorong meskipun bayi yang ada dalam kandungan sudah meninggal biar bisa keluar secara normal. Akhirnya di tunggu sampai dengan hari Jumat (25/2/2022) jam 07.00 Wib l, belum ada tanda-tanda bayi bisa keluar.

"Jam 09.00 Wib, saya akhirnya marah-marah sama perawat dan juga staf rumah sakit, meminta untuk segera di lakukan opersai caesar. Karena terjadi kegaduhan di rumah sakit akhirnya saya di ajak keruangan direktur untuk diskusi, dan saya tetap ngotot untuk dilakukan operasi caesar. Karena melihat kondisi S yang sudah agak membiru di wajahnya dan juga kesakitan, akhirnya pihak rumah sakit menyetujui untuk di lakukan tindakan operasi caesar. Kurang lebih dua jam akhirnya bayi berhasil di keluarkan dalam keadaan meninggal dunia, dengan berat 2,65Kg," pungkas LM.

Sementara itu, dokter RSIA Gedangan, Sidoarjo yang bersangkutan saat di konfirmasi melalui sambungan telepon mengatakan, belum bisa memberikan komentar terkait permasalahan tersebut, karena masih sibuk operasi pasien. Dan mengaku akan menghubungi balik. (SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Viral Satpol PP Kota dan Kabupaten Probolinggo Nyaris Baku Hantam saat Penertiban PKL, Ini Penyebabnya

Kabid Tantribum Satpol PP Kota Probolinggo, Angga Budi Pramudya, menegaskan bahwa penertiban dilakukan sesuai aturan.

TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit selaku SMC mengatakan, korban ditemukan berjarak sekitar 1 mil laut dari titik awal kejadian.

Transformasi Korupsi di DPRD Jatim: Dari P2SEM, Pokir hingga Fee Istri Siri

Anggaran Pokir yang sebelumnya dikelola secara terpusat kini "disembunyikan" dalam alokasi anggaran berbagai dinas daerah.

Mayat Bayi Perempuan Dalam Tas Ransel Ditemukan di Hutan Mojokerto

Mayat bayi tersebut ditemukan oleh Sukkamto, petugas Tahura yang saat itu berpatroli mengecek irigasi sungai di atas area hutan.

Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang

Kejadian tersebut berlansung cepat. Dan saat ini satu orang tenaga kerja bongkar muat (TKBM) dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian.

Pimpinan Fraksi DPRD Jatim Disebut Terlibat dalam Dugaan Korupsi Pengadaan Laptop Ponpes 

Informasi yang diperoleh dari sumber selalu.id menyebut, pimpinan fraksi itu berasl dari partai berwarna kuning.