Jumat, 06 Nov 2026 18:53 WIB

Rapimwil ALFI Jatim Bahas Ancaman Regulasi KBLI bagi Industri Logistik

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 22 Jan 2026 18:28 WIB
Foto: Pelaku usaha PPJK dan anggota aktif ALFI Jatim, Budi Leksono
Foto: Pelaku usaha PPJK dan anggota aktif ALFI Jatim, Budi Leksono

selalu.id - Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (DPW ALFI) Jawa Timur menggelar Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) 2026 di Surabaya Suites Hotel, Kamis (22/1/2026).

 

Rapimwil kali ini memfokuskan pembahasan pada rencana perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang dinilai berpotensi berdampak langsung terhadap sektor logistik.

 

Ketua DPW ALFI Jatim, Sebastian Wibisono, mengatakan Rapimwil merupakan forum evaluasi dan konsolidasi organisasi, sekaligus ruang untuk menyerap aspirasi anggota terkait dinamika kebijakan nasional yang memengaruhi iklim usaha logistik.

 

“Rapimwil ini bukan hanya laporan kinerja pengurus, tetapi juga wadah untuk menyampaikan keresahan anggota. Terutama terkait rencana perubahan KBLI yang saat ini sedang dibahas pemerintah,” ujar Sebastian.

 

Menurutnya, isu yang paling disoroti adalah rencana perubahan KBLI Nomor 7 yang menyasar sektor Jasa Pengurusan Transportasi (JPT). Selama lima tahun terakhir, pelaku usaha JPT mengacu pada KBLI 52291 yang telah menjadi dasar perizinan dan operasional usaha.

 

Sebastian menilai, perubahan KBLI tanpa koordinasi yang matang berpotensi menimbulkan kebingungan di lapangan serta memicu biaya tambahan bagi pelaku usaha.

 

“Kami masih punya waktu sekitar lima bulan sebelum kebijakan ini diterapkan penuh. Harapannya, pemerintah membuka ruang dialog agar perubahan tidak menimbulkan dampak ekonomi yang tidak perlu,” katanya.

 

Sebagai langkah tindak lanjut, DPW ALFI Jatim bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ALFI telah melakukan komunikasi dengan kementerian terkait untuk menyampaikan masukan dari daerah, termasuk permintaan agar kebijakan disusun secara bertahap dan melibatkan pelaku usaha.

 

Pandangan serupa disampaikan Budi Leksono, Anggota DPRD Kota Surabaya yang juga merupakan pelaku usaha PPJK dan anggota aktif ALFI Jatim. Ia menilai persoalan KBLI tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga pada efisiensi sistem logistik secara nasional.

 

“Keluhan ini tidak hanya datang dari Jawa Timur, tetapi juga dari daerah lain. Karena itu, perlu ada perhatian serius di tingkat pusat agar regulasi yang dibuat tidak justru membebani sektor logistik,” ujar Budi.

 

Ia menambahkan, dari sisi legislatif daerah, komunikasi dengan DPR RI juga akan dibangun agar persoalan perubahan KBLI dapat dibahas secara lebih komprehensif di tingkat nasional.

 

Melalui Rapimwil 2026, ALFI Jatim berharap pemerintah dapat mempertimbangkan masukan pelaku usaha dalam merumuskan kebijakan, sehingga regulasi yang dihasilkan tetap memberikan kepastian hukum sekaligus mendukung pertumbuhan sektor logistik dan perekonomian.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Kisah Pilu Warga Madiun Bayar Utang Bank Orang Lain Rp170 Juta, Rumah juga Terancam Dilelang

Langkah berat itu terpaksa ia tempuh semata-mata demi pertahankan rumah tinggalnya di Sukomoro, Nganjuk yang ia beli secara sah sejak 13 tahun lalu.

BPOM Ungkap Pabrik Kosmetik Ilegal di Jatim, Omzetnya Setahun Ugal-ugalan

Dalam ungkap ini, petugas juga menemukan berbagai produk berupa krim, losion, dan toner yang dikemas dalam wadah polos tanpa label maupun izin edar.

Asa Baru Kebangkitan Jaranan Pogogan Nganjuk

Jaranan Pogogan mengisahkan perjalanan prajurit dari Bantarangin, Ponorogo, menuju Kediri untuk melamar Putri Kediri Dewi Songgolangit.

Nasdem Setuju Pemprov Sisihkan Dana 600 Miliar Lewat Skema Dana Ditanggung Bersama

Pengumpulan dana dilakukan bertahap selama 3 tahun anggaran.

DPRD Jatim Desak Evaluasi Sabo Dam dan Percepat Relokasi Warga Rawan Banjir Lahar Semeru

selalu.id — Anggota DPRD Jawa Timur Lailatul Qodriyah meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur mitigasi bencana Gunung Semeru, m

Pemkot Surabaya Bangun Shortcut Saluran Atasi Genangan di Semolowaru

Infrastruktur tersebut dirancang mengalirkan debit air hingga 23 meter kubik per detik.