Senin, 09 Feb 2026 19:10 WIB

Identitas Mayat di Wonokusumo Terungkap, Diduga Dibacok Sekitar 60 Meter dari TKP

Foto: Korban pembacokan ditemukan meninggal dunia di depan warung kopi kawasan Wonokusumo, Surabaya, Minggu (18/1/2026).
Foto: Korban pembacokan ditemukan meninggal dunia di depan warung kopi kawasan Wonokusumo, Surabaya, Minggu (18/1/2026).

selalu.id - Umar (34), warga Jalan Kedung Mangu, ditemukan tewas bersimbah darah di depan Warkop Coffee Black, Jalan Wonokusumo Jaya, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 05.45 WIB.

Saat ditemukan, korban mengenakan sarung dan peci putih. Di samping jasad korban terdapat sepeda motor Yamaha warna biru tua bernomor polisi L 5506 DAM.

Baca Juga: Pria Tewas Dengan Luka Bacok di Wonokusumo Surabaya, Identitas Belum Diketahui

Petugas gabungan dari Polsek Semampir, Unit Inafis Polres Pelabuhan Tanjung Perak, dan BPBD Kota Surabaya mengevakuasi jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban mengalami sejumlah luka akibat senjata tajam di bagian perut kanan, kaki, dan punggung. Kanit Reskrim Polsek Semampir Iptu Su’ud menyebut korban diduga diserang di lokasi lain sebelum ditemukan tergeletak di depan warung kopi.

“Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban pertama kali ditusuk di depan rumah Jalan Wonokusumo Jaya Nomor 14 RT 4, sekitar 60 meter dari lokasi ditemukan. Di sekitar lokasi penusukan terdapat banyak ceceran darah,” ujar Su’ud saat dikonfirmasi, Senin (19/1/2026).

Informasi tambahan disampaikan Wakil Ketua RW XI Kecamatan Semampir, Anwar. Ia mengatakan pembacokan diduga dilakukan oleh sekitar empat orang yang datang menggunakan mobil berwarna putih.

Baca Juga: Cekcok, Adik Bacok Kakak Ipar di Mojokerto

“Saksi mata melihat korban dibacok saat masih berada di atas sepeda motor. Korban bukan warga wilayah sini, begitu juga pelaku yang diduga bukan orang sekitar,” kata Anwar.

Identitas korban terungkap setelah polisi menelusuri data kendaraan bermotor yang ditemukan di lokasi. STNK sepeda motor tercatat atas nama MZAK alias Abidin, warga Dupak Bangunsari, Surabaya.

Orang tua Abidin, Bukhori, menyampaikan bahwa sepeda motor tersebut telah dipinjam Umar selama sekitar lima bulan. Menurut Abidin, ia mengenal korban dan pernah tergabung dalam komunitas Biker Scoopy.

Baca Juga: Diduga Sopir Mengantuk, Truk Cabai Tewaskan Pemotor di Mojokerto

Abidin juga menyebut korban sempat memiliki permasalahan dengan seseorang terkait dugaan penipuan. “Menurut cerita dari Fauzen, Umar pernah bermusuhan karena masalah penipuan dengan orang yang disebut berasal dari Sidoarjo,” ujarnya.

Kapolsek Semampir Kompol Herry Iswanto menyatakan pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif dan mengidentifikasi pelaku pembacokan.

“Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Kami terus melakukan pendalaman agar pelaku segera terungkap,” tegasnya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Peredaran Pupuk Bersubsidi Ilegal di Ngawi Digagalkan, 6 Orang Ditetapkan Tersangka

Kasus ini terbongkar setelah petugas menerima informasi pengiriman pupuk bersubsidi ilegal dari Kabupaten Lamongan ke Ngawi.

Jelang Imlek, Salon di Surabaya Diserbu Pelanggan

Banyak masyarakat memilih untuk merapikan penampilan sebagai bentuk persiapan menyambut tahun baru, dengan tren gaya rambut yang semakin beragam dan bebas.

Menanti Siapa Saja Anggota DPRD Surabaya yang Jadi Tersangka Kasus Bimtek

Kasus ini berpusat pada dugaan penyalahgunaan anggaran kegiatan bimtek bagi anggota DPRD Surabaya yang menyedot anggaran hingga miliaran rupiah.

Tingkatkan Layanan Terminal Peti Kemas, Pelindo Datangkan Alat Bongkar Muat Baru

Alat-alat tersebut rencananya akan mulai tiba secara bertahap pada semester-II tahun 2026.

Kasus Korupsi Bimtek DPRD Surabaya, Siapa yang Akan Jadi Tersangka?

Kasus ini berpusat pada dugaan penyalahgunaan anggaran kegiatan bimtek bagi anggota DPRD Surabaya dengan anggaran miliaran rupiah.

Khofifah Dirujak Netizen usai Mangkir di Sidang Korupsi Dana Hibah Jatim: Pedes Banget!

Tak banyak dari mereka, menyatakan kekhawatiran akan kemungkinan penyelidikan tidak berjalan transparan, hingga menginginkan proses hukum berjalan cepat.