Senin, 02 Feb 2026 05:26 WIB

Wakil Ketua DPRD Surabaya: Eri Cahyadi Fokus Kerja, Bukan Membangun Citra

Wakil ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni saat bersama Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi
Wakil ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni saat bersama Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi

selalu.id - Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menilai insiden candaan admin media sosial Wali Kota Surabaya yang viral di Instagram sebaiknya tidak dibesar-besarkan.

Menurutnya, kesalahan tersebut murni human error, dan tidak ada hubungannya dengan integritas maupun gaya kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi.

Baca Juga: Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Potongan video itu menampilkan percakapan seorang admin yang tanpa sengaja terekam saat siaran langsung Instagram dijeda. Dalam video tersebut, terdengar candaan,

“Kalau ada hujan lagi, rekaman video bapak wali turun ke lapangan kita simpan aja. Nanti bisa diunggah lagi kalau ada hujan.”

Ucapan itu sempat menuai reaksi dari sebagian warganet yang menilai kegiatan lapangan wali kota hanya pencitraan.

Namun, menurut Arif Fathoni, penilaian itu tidak adil dan terlalu jauh, sebab pada saat kejadian Wali Kota Eri tengah fokus bekerja di lapangan dan tidak mengetahui percakapan tersebut.

“Saya kira itu murni kelalaian individu. Tidak elok kalau kemudian dipukul rata seolah kegiatan lapangan Pak Wali hanya pencitraan. Warga Surabaya tahu, beliau ini pemimpin yang benar-benar hadir di lapangan,” ujar Arif Fathoni, ketika dimintai tanggapan terkait insiden tersebut pada Minggu, (02/11).

Politisi Partai Golkar itu menambahkan, langkah cepat sang admin yang meminta maaf dan memutuskan mundur dari tim media sosial wali kota sudah menunjukkan tanggung jawab moral yang patut diapresiasi.

“Manusia tempatnya salah dan khilaf. Yang penting ketika salah, dia berani bertanggung jawab. Staf itu sudah minta maaf dan mengundurkan diri. Itu langkah terhormat yang jarang dilakukan di birokrasi,” jelasnya.

Menurut politisi yang akrab disapa Mas Toni ini, publik sebaiknya melihat rekam jejak kerja nyata Eri Cahyadi, bukan menilai dari satu kesalahan teknis di lingkaran stafnya.

Ia mencontohkan banyak kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil, mulai dari kenaikan anggaran Rutilahu, program beasiswa Pemuda Tangguh, hingga perluasan akses pendidikan dan kesehatan gratis.

“Justru di masa Wali Kota Eri Cahyadi, anggaran Rutilahu dinaikkan agar warga Surabaya yang tidak beruntung secara ekonomi bisa menikmati rumah yang layak. Rumah yang layak itu kawah candradimuka tumbuh kembang anak,” tegas Mas Toni.

Ia pun menyebut Eri Cahyadi bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di media sosial. Banyak kebijakan dan aksi lapangan yang dilakukan tanpa sorotan kamera.

Baca Juga: Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

“Mas Wali turun malam-malam meninjau jalan rusak di kawasan Jagir sampai Panjang Jiwo. Tidak ada kamera, tidak ada live, tapi sebulan kemudian jalan itu sudah diaspal mulus. Warga yang merasakan manfaatnya,” tuturnya.

Mas Toni juga mengingat peristiwa banjir besar di kawasan Jalan Pemuda beberapa tahun lalu, ketika Eri turun langsung memeriksa saluran air hingga masuk ke gorong-gorong peninggalan Belanda di kawasan pusat kota.

“Sekarang tengah kota sudah jauh lebih baik. Itu kerja nyata, bukan konten,” tambahnya.

Menurut Mas Toni, pemimpin sejati tidak selalu bekerja di depan kamera. Banyak kebijakan strategis Eri yang justru diselesaikan secara senyap namun berdampak besar, seperti penyelesaian konflik sosial dan penguatan toleransi antarwarga.

“Ketika ada pro-kontra pendirian sekolah keagamaan di Gunung Anyar, Mas Wali turun langsung mengajak dialog tokoh masyarakat. Begitu juga saat ada konflik warga di Bubutan, beliau turun mencari solusi sampai semua pihak puas. Itu kepemimpinan yang menenangkan,” tutur Fathoni.

Ia menegaskan bahwa tudingan pencitraan terhadap Eri Cahyadi tidak relevan, sebab masyarakat Surabaya telah dua kali memberikan mandat melalui pemilihan langsung.

Baca Juga: Tips Merawat Motor saat Musim Hujan Supaya Tetap Bandel

“Kalau Mas Wali mau pencitraan, beliau tidak perlu repot. Beliau sudah dua kali dipercaya masyarakat Surabaya. Hari ini beliau bekerja bukan untuk membangun citra, tapi untuk memenuhi amanah itu,” ucapnya.

Mas Toni juga menilai bahwa penggunaan media sosial oleh Eri Cahyadi justru merupakan bentuk pertanggungjawaban publik, bukan alat pencitraan.

“Media sosial digunakan sebagai jembatan komunikasi, agar warga tahu apa yang sudah dan sedang dikerjakan pemerintah kota,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Mas Toni mengajak masyarakat agar lebih bijak menyikapi isu di media sosial.

Ia menekankan pentingnya membangun budaya pemaaf dan mendukung semangat anak muda untuk terus berkreasi.

“Kita harus jadi masyarakat yang pemaaf. Jangan sampai satu kesalahan kecil membuat anak muda kehilangan semangat dan kreativitas. Surabaya ini kota yang besar karena masyarakatnya mau belajar, bukan menghukum,” pungkasnya.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.

Tak Mau Kursi Turun Lagi, Armuji Bidik Gen Z jadi Kader Baru PDIP Surabaya

“Kita harus merebut kembali kursi-kursi yang sempat hilang," ujar Ketua PDIP Surabaya itu.

6 Wisata Banyuwangi dengan Keindahan Memukau

Selain menawarkan pesona alam yang luar biasa, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga menyimpan budaya lokal yang kental.