Selasa, 21 Jul 2026 16:06 WIB

Moroseneng Tak Pernah Padam, Rahasia Esek-esek Murah Rp200 Ribu di Surabaya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 10 Okt 2025 13:08 WIB

selalu.id – Malam Minggu, 5 Oktober 2025. Jarum jam mendekati pukul 22.52 WIB ketika mobil berhenti di depan gang kecil di kawasan Sememi Jaya I, Benowo, Surabaya. Jalanan sepi, hanya beberapa lampu jalan yang redup, menyorot rumah-rumah tua yang tampak seperti permukiman biasa.

 

Baca Juga: Kunjungi Balai Desa Kebaron Tulangan, Wabup Sidoarjo Tampung Aspirasi Warga

Namun, dari balik tembok kusam itu, Surabaya bagian gelap kembali berdenyut. Samar terdengar musik dangdut dari pengeras kecil, diikuti tawa perempuan. Gang sempit itu mengantar ke lorong-lorong rumah yang kini disulap menjadi wisma-wisma kecil, bekas lokalisasi Moroseneng yang dulu dinyatakan tutup total sejak 2015 oleh Wali Kota Eri Cahyadi.

Lokalisasi MorosenengLokalisasi Moroseneng

“Dua ratus ribu, Mas, satu jam,” sapa seorang perempuan yang dikenal warga sebagai pelayan, istilah lokal untuk muncikari. Tangannya menunjuk ke arah gang kecil yang lebih gelap, tempat deretan pintu kamar berdiri rapat.

 

Tim selalu.id menelusuri sedikitnya lima rumah. Di tiap pintu, kehidupan malam berputar pelan tapi nyata. Para perempuan duduk dengan pakaian minim di balik tirai tipis, lampu redup menerangi kamar sempit berukuran 3x4 meter. Salah satunya DL, 22 tahun, asal Indramayu.

Bilik-bilik kamar di lokalisasi MorosenengBilik-bilik kamar di lokalisasi Moroseneng

“Awalnya saya kerja di klub Jakarta, jadi sexy dancer. Tapi di sini katanya lebih cepat dapat uang,” ujarnya sambil menyulut rokok.

 

Sudah setahun DL menetap di Moroseneng. Setiap malam, ia bisa melayani hingga sepuluh tamu. Tapi keuntungan bersih yang dibawa pulang tak sebanding dengan lelahnya malam.

“Tarif Rp200 ribu. Tapi itu dibagi tiga. Aku bersihnya cuma Rp80 ribu,” katanya lirih.

Pekerja seks di lokalisasi MorosenengPekerja seks di lokalisasi Moroseneng

Sisanya untuk pemilik wisma dan pelayan yang membawa tamu. Dalam semalam, satu rumah bisa meraup omzet jutaan rupiah. Namun uang itu tak hanya berputar di lingkaran kecil para bos. Di sekitar lokasi, ekonomi malam ikut berdenyut: kios kecil menjual bir, toko kelontong menjual alat kontrasepsi dan obat kuat, rumah-rumah separuh terbuka jadi tanda “ada tamu”.

 

Semua tahu perannya. Semua saling bergantung. Semua bergerak di bawah “keamanan tak tertulis”.

Saat ditanya soal razia, DL hanya tersenyum.

Baca Juga: Sidak Alun-alun Sidoarjo, Wabup Catat Persoalan Parkir dan Penerangan

“Di sini aman,” katanya. “Ada setoran. Kadang uang, kadang rokok. Pokoknya ada buat yang patroli.”

 

Sinyal peringatan tentang razia selalu cepat menyebar. Para pekerja akan disuruh bersembunyi di rumah bos sampai keadaan tenang. “Kami nggak pernah sampai ketahuan,” ujarnya lagi.

Sidak Dewan ke lokalisasi MorosenengSidak Dewan ke lokalisasi Moroseneng

Malam itu, tim selalu.id tak sendirian. Anggota DPRD Surabaya Imam Syafi’i turut mendampingi dalam sidak tanpa pengawalan. Ia terkejut melihat aktivitas di dalam gang.

Sidak anggota DPRD Surabaya Imam Syafi'i bersama selalu.idSidak anggota DPRD Surabaya Imam Syafi'i bersama selalu.id

“Bangunannya seperti rumah biasa, tapi di dalamnya banyak kamar kecil. Saya bahkan ditawari dua kali, Rp200 ribu sekali main,” ujarnya.

 

Imam menyebut temuan ini membantah klaim Pemkot Surabaya bahwa Moroseneng sudah steril. “Di lapangan, praktik prostitusi masih berjalan. Ini fakta,” tegasnya.

Baca Juga: Sambil Gowes, Wali Kota dan Wawali Mojokerto Mitigasi Tanggul Sungai Brangkal

 

Namun Camat Benowo Denny Christupel Tupamahu bersikukuh kawasan itu telah diawasi ketat.

“Eks lokalisasi Moroseneng sudah ditutup sejak 2015. Setiap malam Satpol PP patroli memastikan tidak ada kegiatan terlarang,” katanya.

Kawasan lokalisasi MorosenengKawasan lokalisasi Moroseneng

Denny menegaskan pengawasan akan terus ditingkatkan. “Kami tidak lengah. Ini akan kami evaluasi bersama Forkopimka,” ujarnya.

 

Di atas kertas, Moroseneng memang telah mati. Tetapi di balik tembok kusam dan lampu redup, denyut lamanya tak sepenuhnya padam. Bisnis tubuh masih hidup di ruang-ruang sempit, bersembunyi di antara celah aturan dan uang pelicin. Dalam diam, Moroseneng terus bernapas.

 

Editor : Ading
Berita Terbaru

MTQ ke-32 Kabupaten Sidoarjo Resmi Ditutup, Berikut Daftar Juaranya

Fenny mengatakan lomba ini sejalan dengan upaya mencetak generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik.

Presiden Prabowo Serukan Kebangkitan Koperasi, DEKOPIN Yakin jadi Pilar Ekonomi Nasional

Menurut Prabowo, kekuatan koperasi terletak pada semangat gotong royong. Ia mengibaratkannya seperti sapu lidi yang akan menjadi kuat ketika bersatu.

Program Bunga Desaku Jember, Dari Bantuan UMKM hingga Rencana Investasi Rp2 Triliun

Fawait mengingatkan agar seluruh bantuan yang diberikan pemerintah dimanfaatkan sesuai tujuan dan tidak dialihkan untuk kepentingan lain.

Serunya Slimetastic Lab: Cara Kreatif Luminor Hotel Surabaya Jemursari Manjakan Tamu Cilik

Luminor Hotel Surabaya Jemursari terus berkomitmen menjadi destinasi pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati liburan yang nyaman dan edukatif.

Pemkab Jember Alokasikan Rp400 Miliar untuk Layanan Kesehatan Gratis Warga

Fawait menegaskan seluruh fasilitas kesehatan wajib memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh pasien, baik peserta UHC maupun pasien umum.

PAN Mulai Panaskan Mesin Politik Hadapi Pemilu 2029

Acara ini juga untuk memperkuat struktur partai hingga tingkat bawah dan mendekatkan partai dengan masyarakat.