Rabu, 22 Jul 2026 17:50 WIB

Banjir Surabaya Lama Surut, Begini Pernyataan BMKG

  • Penulis : Ade Resty
  • | Rabu, 25 Des 2024 18:55 WIB
Banjir Surabaya
Banjir Surabaya

selalu.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyebut fenomena alam menyebabkan banjir melanda sejumlah wilayah sejak Selasa (24/12/2024) sore hingga Rabu (25/12/2024).

Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, Ady Hermanto, mengungkapkan bahwa hujan deras di Surabaya disebabkan oleh pembentukan awan cumulonimbus (CB).

Baca Juga: 440 Titik Genangan Sudah Tuntas, Pemkot Surabaya Sebut Banjir Tak Akan Selesai Tanpa Langkah Pusat

Awan ini terbentuk karena adanya fenomena atmosfer seperti gelombang Kelvin dan Rossby, serta konvergensi di Laut Jawa yang meningkatkan intensitas pembentukan awan hujan.

“Awan cumulonimbus ini sering terbentuk pada sore hingga malam hari dengan durasi sekitar satu hingga empat jam. Intensitasnya cukup sering terjadi minggu ini, sehingga curah hujan semakin tinggi,” ujar Ady.

Selain cuaca ekstrem, kondisi pasang air laut turut memperparah banjir di Surabaya. Pasang laut menghambat aliran air dari daratan menuju laut, menyebabkan genangan air sulit surut.

“Pada 28-29 Desember mendatang, pasang laut akan mencapai puncaknya, dengan ketinggian antara 130-140 cm. Ini berpotensi memperburuk banjir jika curah hujan tinggi terjadi bersamaan,” jelasnya.

Baca Juga: Fenomena Bediding di Surabaya Diprediksi Berlangsung hingga Agustus 2026, Ini Imbauan BMKG

Ady menambahkan, banjir di Surabaya juga diperparah oleh limpasan air dari daerah lain. Hujan deras di wilayah hulu menyebabkan debit air sungai meningkat, yang akhirnya mengalir menuju Surabaya.

“Meskipun curah hujan di Surabaya tidak terlalu tinggi, debit air tambahan dari daerah lain membuat banyak wilayah tergenang,” tambahnya.

Sebelumnya, BMKG bersama pihak terkait telah melakukan operasi modifikasi cuaca (TMC) di Jawa Timur untuk mengantisipasi potensi banjir dan longsor. Operasi ini berlangsung dari 18-22 Desember 2024 di sepanjang pesisir utara Laut Jawa.

Baca Juga: Ketika Kota DIbangun untuk Beton, Bukan untuk Air

Ady mengimbau masyarakat untuk rutin membersihkan saluran air dan memperluas area resapan di lingkungan masing-masing. Hal ini penting untuk mengurangi genangan air ketika aliran ke laut terhambat.

“Selain itu, saat terjadi cuaca ekstrem, hindari berteduh di bawah pohon atau baliho. Lebih baik mencari bangunan kokoh untuk berlindung,” pesannya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Tabrak Truk Parkir, Pasutri di Mojokerto Tewas 

Petugas Unit Gakkum saat ini masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa pasangan suami istri tersebut.

Ketika Wabup Sidoarjo Mimik Pakai Dana Pribadi Bangun Jembatan Kedungbanteng–Balongdowo

Setelah bertahun-tahun menunggu realisasi pembangunan, akses yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat tersebut kini memasuki tahap pemasangan box culvert.

Seorang Kakek di Mojokerto jadi Korban Gendam, Motor Supra Kesayangan Raib

Peristiwa itu terjadi di area Perumahan Flower Garden, Dusun Glonggongan, Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal. Korban saat itu tengah mencari rumput.

Resmikan Closed Barn di Pasuruan, Wamenko Pangan Dorong Pengembangan Sapi Perah Dataran Rendah

Inovasi tersebut diyakini dapat menjadi terobosan untuk meningkatkan produksi susu nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dr WP Djatmiko soal OTT Bupati Lombok Barat: Biaya Politik Tinggi hingga Lemahnya Pengawas Internal

Sebaliknya, publik harus mendorong reformasi sistemik pada legal substance dan legal culture agar kasus-kasus korupsi serupa tidak terus berulang.

Eks Dirut Kebun Binatang Surabaya Ditetapkan Tersangka Korupsi Rp10,2 Miliar

Berdasarkan hasil penyidikan, sekitar Rp7 miliar dari total kerugian negara diduga digunakan untuk kepentingan pribadi tersangka.