Sabtu, 26 Sep 2026 03:57 WIB

YLPK Jatim Klarifikasi Isu Bahaya Asbes dalam Produk Fiber Cement

  • Penulis : Ade Resty
  • | Senin, 02 Des 2024 13:11 WIB
Pengecekan fiber pada asbes
Pengecekan fiber pada asbes

selalu.id – Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Jawa Timur (YLPK Jatim) bergerak cepat menyikapi isu yang menyebut asbes sebagai bahan berbahaya penyebab asbestosis.

Klarifikasi ini dilakukan melalui pertemuan dengan para pelaku usaha asbes yang tergabung dalam Fiber Cement Manufacturers Association (FICMA), ahli kesehatan, dan perwakilan pabrikan asbes di Jawa Timur. Pertemuan berlangsung pada 15 November 2024 di Graha Pasific, Surabaya.

Executive Director FICMA, Jisman Hutasoit, menjelaskan bahwa kandungan asbes putih (chrysotile) dalam produk fiber cement hanya sekitar 7-8%.  Menurutnya, produk ini aman digunakan dengan proporsi bahan lainnya seperti semen (87-88%) dan kertas (5%).

Penjelasan ini diberikan untuk memenuhi kewajiban pelaku usaha sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK).

Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Sjahrul Meizar Nasri, M.Sc., menjelaskan bahwa asbes terdiri dari dua famili, yaitu serpentine (yang mencakup chrysotile) dan amphibole.

Berbeda dari jenis amphibole seperti crocidolite dan amosite yang sudah dilarang, penggunaan chrysotile di Indonesia masih diperbolehkan karena sifatnya yang lebih aman dan ekonomis.

“Asbes putih digunakan sejak zaman kuno karena sifatnya yang tahan panas, listrik, dan zat kimia. Kini, asbes putih dimanfaatkan sebagai bahan penguat dalam produk fiber cement, pembuatan rem kendaraan, dan bahan isolasi,” jelas Prof. Sjahrul.

Jisman Hutasoit mengungkapkan bahwa Indonesia mengimpor 103.747 ton chrysotile pada 2022. Bahan ini dinilai ekonomis karena harganya terjangkau, ringan, mudah dipasang, dan tahan lama.

Ketua YLPK Jatim, Muhammad Said Sutomo, menegaskan pentingnya memberikan informasi yang benar dan jujur kepada konsumen. Hal ini sesuai dengan Pasal 4 dan Pasal 7 UUPK yang mengatur hak konsumen atas informasi yang jelas dan kewajiban pelaku usaha untuk menyediakannya.

Namun, YLPK Jatim meminta adanya pengujian udara untuk memastikan apakah pemasangan, penggunaan, atau pembongkaran produk berbahan asbes menghasilkan kontaminasi udara.

Prof. Sjahrul pun menantang YLPK Jatim untuk melakukan eksperimen di ruang tertutup dengan menghancurkan produk fiber cement berbahan asbes, guna menguji kebenaran isu tersebut.

“YLPK Jatim menyanggupi tantangan ini demi memastikan masyarakat tidak disesatkan oleh framing isu terkait produk berbahan asbes putih,” ujar Muhammad Said.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Layanan Home Care Pemkab Jember Dilirik Kemenkes, Jadi Inspirasi Daerah Lain

Meski begitu, Kemenkes tetap memberikan perhatian pada evaluasi program secara berkala guna memastikan efektivitasnya di lapangan.

ASN Surabaya jangan Enak-anakan, Begini Pesan Tegas DPRD

Sebelumnya, Wali Kota Eri Cahyadi telah menginstruksikan seluruh jajaran Pemkot untuk memindahkan sebagian aktivitas kerjanya ke Balai RW mulai Oktober 2026.

Progres RSUD Sedati Lampaui Target, Wabup Sidoarjo Wanti-wanti soal Kualitas Material

Inspeksi mendadak ini dilakukan menyusul adanya laporan dari masyarakat terkait dugaan lambannya pengerjaan fisik di lokasi.

Pemkot Surabaya Larang Sekolah Jual Seragam Mulai Tahun Depan, Ini Penjelasannya

Selain penyelarasan desain, Pemkot Surabaya secara eksplisit melarang pihak sekolah negeri melakukan aktivitas jual beli seragam kepada siswa maupun orang tua.

RAPBD Jatim 2027 Turun 8,2 Persen, Golkar Pertanyakan Pemangkasan Belanja Modal

Golkar pun meminta Pemprov Jawa Timur menjelaskan strategi menjaga ketersediaan infrastruktur, konektivitas, hingga pemerataan layanan publik.

Viral Wadah MBG di Patrang Jember Disebut Kurang Bersih, Ini Kata Pihak Pengelola

Keluhan tersebut mengemuka setelah akun Facebook IWJ Ofisial milik Muhamad Abas mengunggah foto wadah makanan atau ompreng MBG yang dinilai kurang bersih.