Senin, 16 Feb 2026 22:34 WIB

YLPK Jatim Klarifikasi Isu Bahaya Asbes dalam Produk Fiber Cement

  • Penulis : Ade Resty
  • | Senin, 02 Des 2024 13:11 WIB
Pengecekan fiber pada asbes
Pengecekan fiber pada asbes

selalu.id – Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Jawa Timur (YLPK Jatim) bergerak cepat menyikapi isu yang menyebut asbes sebagai bahan berbahaya penyebab asbestosis.

Klarifikasi ini dilakukan melalui pertemuan dengan para pelaku usaha asbes yang tergabung dalam Fiber Cement Manufacturers Association (FICMA), ahli kesehatan, dan perwakilan pabrikan asbes di Jawa Timur. Pertemuan berlangsung pada 15 November 2024 di Graha Pasific, Surabaya.

Executive Director FICMA, Jisman Hutasoit, menjelaskan bahwa kandungan asbes putih (chrysotile) dalam produk fiber cement hanya sekitar 7-8%.  Menurutnya, produk ini aman digunakan dengan proporsi bahan lainnya seperti semen (87-88%) dan kertas (5%).

Penjelasan ini diberikan untuk memenuhi kewajiban pelaku usaha sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK).

Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Sjahrul Meizar Nasri, M.Sc., menjelaskan bahwa asbes terdiri dari dua famili, yaitu serpentine (yang mencakup chrysotile) dan amphibole.

Berbeda dari jenis amphibole seperti crocidolite dan amosite yang sudah dilarang, penggunaan chrysotile di Indonesia masih diperbolehkan karena sifatnya yang lebih aman dan ekonomis.

“Asbes putih digunakan sejak zaman kuno karena sifatnya yang tahan panas, listrik, dan zat kimia. Kini, asbes putih dimanfaatkan sebagai bahan penguat dalam produk fiber cement, pembuatan rem kendaraan, dan bahan isolasi,” jelas Prof. Sjahrul.

Jisman Hutasoit mengungkapkan bahwa Indonesia mengimpor 103.747 ton chrysotile pada 2022. Bahan ini dinilai ekonomis karena harganya terjangkau, ringan, mudah dipasang, dan tahan lama.

Ketua YLPK Jatim, Muhammad Said Sutomo, menegaskan pentingnya memberikan informasi yang benar dan jujur kepada konsumen. Hal ini sesuai dengan Pasal 4 dan Pasal 7 UUPK yang mengatur hak konsumen atas informasi yang jelas dan kewajiban pelaku usaha untuk menyediakannya.

Namun, YLPK Jatim meminta adanya pengujian udara untuk memastikan apakah pemasangan, penggunaan, atau pembongkaran produk berbahan asbes menghasilkan kontaminasi udara.

Prof. Sjahrul pun menantang YLPK Jatim untuk melakukan eksperimen di ruang tertutup dengan menghancurkan produk fiber cement berbahan asbes, guna menguji kebenaran isu tersebut.

“YLPK Jatim menyanggupi tantangan ini demi memastikan masyarakat tidak disesatkan oleh framing isu terkait produk berbahan asbes putih,” ujar Muhammad Said.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Apa Sih Makna Filosofis Imlek di Tahun Kuda Api 2026, Ini Penjelasan Dosen UK Petra

Dosen Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra, Dr Olivia menyebut Imlek sebagai titik balik untuk memperbaiki diri dan mempererat relasi.

Buruan Daftar! SIER Gelar Program Mudik 2026, Begini Caranya

Pada mudik tahun ini, SIER menyiapkan sejumlah rute strategis yang menjangkau berbagai wilayah di Jawa Timur

Potret Warga Binaan Lapas Mojokerto Bersih-bersih Masjid Sambut Ramadan

Sebanyak 15 pegawai Lapas Kelas IIB Mojokerto diterjunkan, dibantu oleh empat warga binaan yang telah melalui proses pembinaan serta pengawasan yang ketat.

Universitas Muhammad Seruji Jember Tegaskan Komitmen Cetak Lulusan Unggul

Sebanyak 196 mahasiswa dari enam fakultas resmi dikukuhkan sebagai sarjana dalam prosesi yang berlangsung khidmat, tertib, dan penuh rasa syukur.

Harga Ayam di Surabaya Naik saat Imlek dan Jelang Ramadan, DPRD Minta RPU Dimaksimalkan

Kondisi tersebut berisiko menekan stok di pasaran dan memicu kenaikan harga apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Gila, Paman-Bibi di Surabaya Aniaya Balita 4 Tahun Hingga Terluka dan Kelaparan

Akibat ulah sang paman dan bibinya itu, korban mengalami sejumlah luka di tubuhnya bahkan sampai rambutnya botak.