Senin, 02 Feb 2026 00:00 WIB

Harga Beras Diprediksi Bakal Naik Lagi, Ini Penyebabnya

Ilustrasi beras. istimewa
Ilustrasi beras. istimewa

selalu.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, harga beras berpotensi naik lagi karena produksi padi pasca-puncak panen raya April-Mei 2024 turun. Kerangka Sampel Area BPS menunjukkan, produksi padi setara gabah kering giling (GKG) pada April dan Mei 2024 masing-masing sebanyak 9,23 juta ton dan 6,21 juta ton.

Adapun produksi di Juni 2024 diperkirakan turun menjadi 3,49 juta ton dan pada Juli 3,73 juta ton. Artinya, produksi padi berpotensi turun sekitar 40-50 persen Juni-Juli 2024 dibanding puncak panen raya padi.

Baca Juga: Respon Bencana Banjir Sumatera, PGN Distribusikan Bantuan Logistik

Seperti diketahui, awal bulan ini (Juni 2024), Pemerintah resmi naikkan harga beras eceran untuk jenis medium dan premium. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Badan Nasional (Perbadan) sesuai kebijakan relaksasi yang saat ini sedang berjalan.

Adapun rinciannya penetapannya; Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium akan naik dari Rp 13.900-Rp14.800/kg jadi Rp 14.900-Rp 15.800/kg, HET beras medium akan naik dari Rp 10.900-Rp11.800/kg jadi Rp 12.500-Rp 13.500/kg.

Adanya skenario penentuan HET tersebut ditujukan untuk menyesuaikan kondisi input biaya produksi yang turut berubah. Sehingga dapat meredam lonjakan harga beras premium hingga medium agar tidak memberatkan konsumen. Padahal, penentuan HET tersebut justru lebih mendorong penjual agar menggelontorkan beras ke pasar, bukan mengatasi input produksi. Artinya, stimulus HET tersebut guna menyasar persoalan pasok.

Baca Juga: Satgas Pengendalian Harga Beras Sidak Pasar Wonokromo, Harga di Surabaya Masih Stabil

"Jika yang disasar pemerintah adalah kenaikan input, maka seharusnya mengutamakan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah ke petani sehingga jelas, bahwa kebijakan tersebut tidak memberikan dampak positif untuk sektor hulu yakni petani sebagai subyek penting dalam memastikan stok produksi beras aman," ujar Arin Setyowati Pakar Ekonomi UM Surabaya. 

Arin menjelaskan, persoalan beras merupakan bahasan penting, mengingat bahwa Indonesia mengonsumsi 35,3 juta metrik ton beras berdasarkan data yang dilansir oleh Katadata 2023 tahun 2022/2023. Sedangkan data CNBC 2023 menunjukkan 98,35 persen masyarakat Indonesia mendorong peningkatan yang berkelanjutan ini, termasuk beras dalam pola makan mereka. 

"Namun, dengan adanya fluktuasi harga beras yang cenderung melonjak tentu akan memberikan dampak besar bagi ekonomi rumah tangga, khususnya rumah tangga miskin," kata Arin.

Baca Juga: Arif Fathoni Salurkan Ribuan Sembako ke Tiga Kecamatan Surabaya

Seperti halnya harga beras di Pasar Pucang Surabaya, yang mengalami sedikit kenaikan Rp 100 hingga Rp 200 tiap kilogram (kg). Meski penjualan beras masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) di Jawa Timur, yakni mencapai Rp 15.500/kg.

Bagi pembeli sudah cukup berpengaruh karena semua kebutuhan pokok banyak yang naik. Dengan adanya penaikkan harga beras tersebut, baik beras premium ataupun medium, membuat sejumlah kalangan masyarakat merasa keberatan.

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Pada laga pekan ke-19 BRI Super League 2025/2026 ini, Bajul Ijo-julukan Persebaya, hanya mampu memetik satu poin, tidak seperti yang diharapkan.

Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto mengatakan bahwa pohon tumbang itu telah dievakuasi dan dinyatakan kondusif.

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.