Sabtu, 22 Jun 2024 22:22 WIB

Mahasiswa UK Petra Tampilkan Karya Film Dokumenter tentang Kehidupan Difabel

  • Reporter : Ade Resty
  • | Selasa, 21 Des 2021 22:15 WIB
Film Life of Silence (LOS)

Film Life of Silence (LOS)

Surabaya (selalu.id)- Lima mahasiswa semester 5 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen (UK) Petra, gelar screening film dokumenter karya mereka, di CGV Cinemas BG Junction Surabaya, Selasa (21/12/2021).

Film yang diproduksi oleh lima mahasiswa ini berjudul Life of Silence (LOS) bergenre Dokumenter Biografi. Film berdurasi 20-25 menit ini berkisah mengenai pemeran utama, Maulana Aditya. Ia merupakan seorang pemuda aktivis tuli asal kota Pasuruan.

Baca Juga: Buruan! Bursa Kerja Pemkot Surabaya Buka Ribuan Lowongan, Begini Cara Lamarnya

Pemeran utama dari film ini pun diambil kisah Aditya dalam menjalankan aktivitas kesehariannya, mulai berbisnis dan bersosialisasi bahkan pergumulannya sebagai kaum difabel di Indonesia.

Sutradara Film LOS, Thomas Lesmono mengatakan, karya film ini berawal dari tugas kuliah, Lalu tim kelompoknya mempunyai ide mengangkat kisah teman-teman tuli. Sehingga, mereka berinisiatif mempublikasikan filmnya yang bekerjasama dengan CGV.

"Setelah kita melakukan peliputan, kita lakukan syuting dan melewati banyak hal. Kami merasa apa yang kami anggap ini bukan sekedar tugas kuliah," kata Thomas.

Baca Juga: UK Petra Surabaya Pamerkan Pohon Natal Setinggi 7 Meter Bertema Lintas Dunia

Thomas dan tim kelompoknya berharap, film ini bisa menyampaikan pesan kepada khalayak, karena teman-teman tuli ini sama seperti orang pada umumnya.

"Teman teman tuli bisa membaur seperti kita. Tapi kadang kita juga gak mengerti kondisinya mereka. Kadang kita juga memaksakan berbicara. Kalau mereka diam dianggap sombong. Padalah bukan gitu maksud mereka. Jadi kita merasa teman tuli ini adalah orang-orang yang sama seperti kita. Tapi kok gak segitunya dilihat," terangnya.

Baca Juga: Inovatif, Mahasiswa UK Petra Temukan Metode Kuliah Virtual Serasa Main Game

Oleh karena itu, lanjut ia, film ini bisa ditayangkan dan mengundang beberapa orang penting seperti Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi, dan teman-teman dari komunitas Akar Tuli Malang.

"Kami membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk membuatnya, sejak bulan September," terangnya.

Rencana ke depannya, setelah melakukan screening dan perbaikan, film ini akan diikutsertakan dalam beberapa Festival Film di 2022. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi