Sabtu, 07 Nov 2026 00:03 WIB

Ini Penyebab Harga Ayam Potong di Surabaya Terus Naik Pascalebaran

Ilustrasi ayam potong
Ilustrasi ayam potong

selalu.id - Memasuki hari ke empat lebaran 2024, harga daging ayam yang ada dibeberapa pasar tradisional Surabaya mengalami lonjakan cukup signifikan. Tak tanggung-tanggung, daging ayam kini naik menjadi Rp 45 - 50 ribu per kg.

Pantauan selalu.id di Pasar Manggadua dan Pasar Keputran Surabaya harga daging ayam potong saat ini mencapai Rp 48 ribu per kg. Padahal, pekan lalu harga daging ayam Rp 35 ribu per kg.

Baca Juga: Gudang Penyimpanan Kabel-Genset di Mastrip Surabaya Terbakar

"Setiap hari mesti ada kenaikan terus mas. Tapi sekarang harganya langsung meloncat mencapai Rp 48.500 per kilogramnya. Naiknya ya tinggi sekali," ujar Hodijah (52) salah satu pedagang ayam potong di pasar Keputran Surabaya, Sabtu (13/4/2024).

Senada dengan Hodijah, Husein (46) pedagang ayam potong di Pasar Manggadua Surabaya juga mengatakan, bahwa tingginya permintaan saat lebaran tak diimbangi dengan pasokan dari tingkat peternak. Sehingga membuat lonjakan harga daging ayam naik.

"Hampir tiap hari naiknya, cuma karena kita gak mau kehilangan pelanggan, jadi kemarin masih saya kasih harga tetap. Tapi, kalau sekarang ini naiknya memang ugal-ugalan mas, karena stok (ayam potong) dari peternak kosong," jelasnya kepada selalu.id.

Meski begitu, naiknya harga daging ayam ini, jelas dia, membuat para pedagang mengalami penurunan penjualan. Jika sebelumnya pedagang mampu menjual hingga 70-80kg dalam sehari, kini mereka hanya mampu menjual 20-40kg saja selama periode lebaran ini.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Bangun Shortcut Saluran Atasi Genangan di Semolowaru

Hal ini memang diakui oleh sejumlah pedagang ayam potong, bahwa turunnya omzet jualan tersebut karena sepinya minat belanja pembeli dikarenakan momen lebaran, masyarakat sedang mudik. Kenaikan ini juga diikuti oleh komoditas pangan lainnya yang setiap hari juga naik.

Para pedagang memprediksi, lonjakan harga daging ayam potong akan terus terjadi hingga Senin (15/4/2024) nanti. Sementara itu, para pembeli yang notabenenya pemilik usaha kuliner juga mengeluhkan naiknya harga daging ayam.

M. Alfisena (43) salah satunya. Dia mengeluh naiknya harga daging ayam ini membuatnya harus merogoh kocek agak dalam.

Baca Juga: DPRD Surabaya Pertanyakan Ratusan Miliar Anggaran Kecamatan Masuk Pos Pendidikan

"Ya bingung juga, karena punya warung, tidak beli daging ayam ya tidak bisa. Mau naikkan harga juga belum berani. Ini aja di Keputran sudah segini, belum lagi dipasar-pasar kecil yang kulaknya di pasar besar seperti keputran dan manggadua. Berapa harganya kalau beli di pasar kecil itu!!," terangnya.

Pria yang akrab disapa Sena juga sekaligus pemilik warung makan ini mengaku dilema karena tidak bisa serta merta menaikkan harga yang ada di warungnya. Baik pedagang maupun pembeli rumahan berharap harga kebutuhan pokok bisa kembali normal seperti sediakala.

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Polisi Bongkar Pabrik Oli Palsu Beromzet Rp260 Juta di Mojokerto, Ini Mereknya

Atas ungkap ini, polisi mengimbau masyarakat dan pemilik bengkel agar lebih waspada saat membeli oli kendaraan, dengan memastikan logo SNI dan izin NPT resmi.

Mitos Naga Putih dan Emas di Balik Erupsi Gunung Semeru

Saat ini Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara.

Gunung Semeru Erupsi Lagi, Kini Level Siaga

Erupsi kali ini meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur sejauh 5 kilometer dari puncak ke arah tenggara atau Besuk Kobokan.

Kasus Hibah Pokmas Jatim: Jaksa KPK Ultimatum Anwar Sadad Hadir di Sidang Minggu Depan!

Jaksa menegaskan tidak akan main-main jika Anwar Sadad mangkir dari kewajiban hukumnya. Pihaknya siap melakukan pemanggilan paksa.

Era Baru Layanan RSUD Jatim: Mulai dari KRIS, Sistem iDRG hingga Kelola Keuangan Pakai AI

Rumah sakit juga wajib memvalidasi data pasien melalui NIK terintegrasi Dukcapil dan menggunakan tanda tangan elektronik tersertifikasi. 

Kisah Pilu Warga Madiun Bayar Utang Bank Orang Lain Rp170 Juta, Rumah juga Terancam Dilelang

Langkah berat itu terpaksa ia tempuh semata-mata demi pertahankan rumah tinggalnya di Sukomoro, Nganjuk yang ia beli secara sah sejak 13 tahun lalu.