Rabu, 22 Mei 2024 03:11 WIB

Meraih Masa Depan Lewat Pelatihan Vokasional Kemensos

Salah satu pelatihan di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.

Salah satu pelatihan di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.

selalu.id - Semangat belajar dan rasa ingin tahu terlihat dari 46 peserta pelatihan vokasional di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor. Para peserta dengan beragam disabilitas, pada Kamis (4/4) terlihat bersemangat mengikuti pelatihan sesuai minat dan bakatnya selama tiga bulan.

"Mereka dapat memilih salah satu dari tujuh pelatihan yang diberikan," kata Kepala Sentra Terpadu Inten Soeweno Bogor, Dr. M.O. Royani.

Baca Juga: Kemensos Tangani Bayi Tanpa Anus, Ortu: Baru Kali Ini Dapat Perharian

Ketujuh pelatihan tersebut adalah menjahit, desain grafis, logam, komputer, contact center, otomotif dan elektro. Ketujuh program pelatihan tersebut merupakan pengembangan. Semula saat pelatihan vokasional dimulai 1998, hanya empat program pelatihan vokasional yang disediakan yakni menjahit, percetakan yang sekarang menjadi desain grafis, logam dan computer.

"Pengembangan ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat," kata Royani memberikan penjelasan.

Para peserta berasal dari berbagai daerah yang masuk wilayah satuan kerja Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Cibinong Bogor. Ada peserta dari Bogor, Cianjur bahkan Lampung. Sistem perekrutan peserta dilakukan secara terbuka. Pada tahap pertama, STIS Bogor menginformasikan kepada para pihak melalui media sosial dan website STIS. Selain itu STIS juga bersurat dan berkoordinasi dengan kepada dinas sosial setempat.

Tahap selanjutnya, peserta melakukan pendaftaran melalui link yang disediakan masing-masing dinas sosial kabupaten/ kota. Setelah peserta melakukan pendaftaran, barulah STIS Bogor melakukan assessment dengan mendatangi para calon peserta.

Assesment ini penting untuk mengetahui minat dan bakat calon peserta pelatihan serta disesuaikan dengan kondisi disabilitas masing-masing peserta. Tahap terakhir, dilakukan pemanggilan peserta untuk mengikuti pelatihan vokasional yang dilaksanakan di Sentra Terpadu Inten Soeweno Bogor.

"Tidak ada kriteria khusus bagi peserta yang ingin mengikuti pelatihan vokasional. Tetapi, saat ini kami lebih memprioritaskan penyandang disabilitas, baik disabilitas fisik, disabilitas rungu, disabilitas wicara dan sebagainya," kata Kepala Sentra Terpadu Inten Soeweno, Royani.

Baca Juga: Kisah Sukses Made Suliati, Penerima PKH di Bali dengan Berdagang Canang

Pelatihan berlangsung selama tiga bulan. Untuk gelombang kali ini mulai 8 Maret hingga 7 Juni 2004. Selama pelatihan, para peserta tinggal di STIS dan dipenuhi segala kebutuhannya termasuk kebutuhan makan dan tempat tinggal. Bahkan biaya transportasi dari tempat tinggal menuju STIS Bogor semuanya dijamin Kemensos.

Mengenai tenaga pelatih atau instruktur, semuanya merupakan tenaga professional di bidangnya yang memiliki sertifikat kepelatihan. Adapula aparatur sipil negara (ASN) yang sudah pensiun, karena keahliannya sangat dibutuhkan maka diberdayakan Kembali untuk memberikan pelatihan. Khusus untuk vokasional contact center, menjalin kerja sama dengan Indonesia Contact Center Association (ICCA).

Melalui pelatihan vokasional ini, para peserta yang merupakan penyandang disabilitas memiliki keterampilan yang menjadi bekal berharga untuk hidupnya. Hal ini sudah terbukti hasilnya. Dari beberapa kali penyelenggarakan pelatihan, lulusannya ada yang menjadi karyawan instansi pemerintah dan swasta maupun menjadi pengusaha.

Seperti disampaikan Resti Aprilaini (25) penyandang disabilitas fisik yang tinggal di Cikarang, Kabupaten Karawang. Ia mengikuti pelatihan vokasional contact center karena ingin bekerja di perusahaan.

Baca Juga: Kemensos Beri Penanganan Menyeluruh Korban Rudapaksa di Lubuk Linggau

"Saya aslinya pendiam. Sekarang selama mengikuti pelatihan, setiap hari dilatih untuk mahir berbicara. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang, karena saya ingin meraih kesuksesan dengan bekerja di perusahaan," ujarnya penuh semangat.

Hal serupa disampaikan Muhamad Rio (25) penyandang disabilitas netra low vision asal Brebes, Jawa Tengah. Ia mengikuti pelatihan vokasional komputer. Rio mengakui ada kendala penglihatan dalam mengikuti pelatihan. Namun dengan tekad dan semangatnya yang tinggi, ia yakin bisa mengatasi berbagai kendala yang dihadapi tersebut sehingga bisa meraih kesuksesan.

"Di rumah sudah ada usaha printer dan aksesoris handphone. Semoga setelah mengikuti pelatihan ini, kemampuan di bidang komputer saya semakin bertambah sehingga bisa diterima bekerja di perusahaan. Kalaupun tidak, usaha yang sudah dijalani di rumah bisa semakin berkembang," ujarnya bersemangat dan penuh harapan.

Editor : Redaksi