Cerita Gek Resya, Penari Difabel yang Jadi Sorotan di Ajang Forum Tingkat Tinggi ASEAN 2023
- Penulis : Arif Ardianto
- | Rabu, 11 Okt 2023 09:25 WIB
Cerita Gek Resya, Penari selalu.id - Seorang penari Bali berusia 10 tahun menjadi sorotan tamu-tamu undangan pada acara Forum Tingkat Tinggi ASEAN atau ASEAN High Level Forum (AHLF) on Disability-inclusive Development and Partnership beyond yang digelar di Makasar selama dua hari (10-11 Oktober 2023. Gadis dengan disabilitas fisik tersebut tampil enerjik dalam setiap gerakannya.
Baca Juga: Breaking News! Risma Bakal Mundur dari Jabatan Mensos, Besok Menghadap Jokowi

Gusti Ayu Resya Iswarya atau akrab dipanggil Gek Resya adalah salah satu penari difabel asal Bali yang menjadi penampil di forum internasional tersebut. Bersama kawan-kawannya Gek Resya tamil sebagai pembuka forum diskusi tersebut.
Saat dikonfirmasi penampilannya yang ditonton tamu-tamu mancanegara, Gek Resya mengaku senang sekaligus grogi.
"Awalnya grogi banget, setelah selesai aku senang banget bisa tampil di depan tamu-tamu penting," ujarnya kepada selalu.id saat ditemui usai menampilkan tari Bali.
Perjalanan gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar ini untuk menjadi seorang penari tidaklah gampang. Dengan memiliki keterbatasan fisik sudah tentu membutuhkan mental yang kuat untuk tampil di panggung.
"Aku cerita ya, dulu pas nganter kakakku, aku lihat bunda (guru tari) lagi ngajar. Aku duduk sambil menonton, trus aku diajak kakekku untuk ikut belajar tari Bali," cerita Gek Rasya dengan riang.
"Awalnya aku malu, trus pas hari Minggu aku gabung sama kakak-kakak yang normal, aku seneng banget, aku punya banyak teman. Dari situ aku suka banget sama tari Bali," kenang Gek Rasya.
Berbekal mendapat teman-teman baru yang menerima Gek Rasya apa adanya itulah, gadis asal Jembrana, Bali ini menggeluti tari hingga berhasil menjadi penampil tari Bali di ajang Internasional.
Kadek Astini, guru tari Gek Rasya mengaku bangga sekaligus senang dengan perkembangan murid didiknya ini hingga percaya diri, ceria sekaligus berprestasi.
"Awalnya agak sulit juga, karena saya bukan ahli dibidang menangani anak-anak spesial (difabel), saya menyebutnya. Tapi karena teman-temannya yang normal menerima dengan baik, akhirnya bisa seperti ini," Timpal pengasuh Sanggar Tari Pradnya Swari, Jembrana, Bali ini.
Dengan sabar Kadek Astini mengajari tari kepada Gek Rasya serta beberapa penari difabel lainnya. Ketelatenannya tersebut membuahkan hasil dengan membentuk penari difabel yang pernah tampil di beberapa ajang internasional.
"Saya selalu bilang ke anak-anak, Ini anak yang spesial, tapi tetap perlakukan layaknya anak normal lain, biar nyaman. Makanya semua selalu welcome dengan anak yang spesial dan bisa berbaur dengan nyaman," tambahnya.
Para penari difabel ini menjadi sorotan lantaran penampilannya sempurna layaknya para penari profesional. Dengan ceria dan semangat mereka membawakan tarian Bali dengan sempurna di hadapan tamu undangan dari mancanegara. 
Jadi diawal tentu tidak langsung latihan bersama. Apalagi di sanggar kami banyak juga yang normal. Tapi setelah sekian bulan baru mereka kita tampilkan untuk berlatih bersama dan yg normalpun bisa menerima " lanjut Kadek Astini.
Gek Resya bersama guru dan teman sanggarnya menjadi bintang dalam opening ceremony The ASEAN High Level Forum ( AHLF ) on Enabling Disability - Inclusive Development and Partnership beyond 2025 yang berlangsung di Kota Makasar.
Tepuk tangan bergemuruh usai Gek Resya bersama Sang Guru Kadek Astini dan anak anak Sanggar Pradnya Swari Jembrana Bali tampil dihadapan tamu dari negara ASEAN.
" Gek Resya sudah tampil beberapa kali dalam ajang internasional bahkan saat pertemuan disabilitas Asia -Pasifik dia juga menari " ujar Sang Guru Kadek Astini.
Proses untuk menjadi penari dengan menyandang disabilitas fisik tentu bukan hal mudah. Kadek Astini menuturkan bahwa diawal tentu tidak langsung bergabung. Butuh waktu untuk penyesuaian.
" Jadi diawal tentu tidak langsung latihan bersama. Apalagi di sanggar kami banyak juga yang normal. Tapi setelah sekian bulan baru mereka kita tampilkan untuk berlatih bersama dan yg normalpun bisa menerima " lanjut Kadek Astini.
Sanggar Tari Pradnya Swari meski menjadi sanggar tari biasa namun banyak penyandang disabilitas yang ikut serta. Mereka tidak hanya terbatas pada disabilitas fisik tapi juga tuna netra yang ikut bermain musik.
Kadek Astini menuturkan bahwa dirinya bukanlah guru disabilitas, namun belajar untuk berbagi ilmu menari dan musik dengan bahasa tubuh dan kesabaran yang bisa memoles bakat para penyandang disabilitas untuk tampil luar biasa.
" Saya bukan guru bahasa isyarat. Bahkan saya tidak paham karenanya saya menggunakan bahasa tubuh untuk mengajari mereka " ungkap Kadek Astini.
Sementara itu bagi Gusti Ayu Resya Iswarya, Kadek Astini sudah dianggap orang tuanya. Gek Resya mengaku senang mengenalnya dan bisa sukses menjadi penari karena sentuhan dingin tangan Kadek Astini
" Jadi diawal saya antar kakak berlatih menari, tapi saya diajak berlatih juga. Saya senang karena mereka sangat baik " ujar Gek Resya menceritakan kisah awal menjadi penari Bali meski menyandang disabilitas fisik.
Keduanya sangat akrab dan saling mendukung. Kadek Astini berharap Gek Resya terus semangat untuk berlatih dan diharapkan bisa mendunia dan bisa menginspirasi para penyandang disabilitas tidak putus asa dan berprestasi.
" Saya ingin Gek Resya terus berlatih dan semangat. Semoga kelak bisa menjadi besar dan menginspirasi disabilitas untuk tetap semangat dan mengembangkan diri. Jangan takut untuk berprestasi " pungkas Kadek Astini.
Baca Juga: Kembalinya Risma
Editor : Ading