Kamis, 04 Jun 2026 04:52 WIB

Ahli Gizi UNAIR Sebut Keracunan Massal Masakan Olahan Kurban di Surabaya Karena Daging, Ini Penjelasannya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 02 Jul 2023 09:11 WIB
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa

selalu.id - Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut keracunan massal masakan olahan kurban di Surabaya dikarenakan bahan utama yakni daging.

Pakar Ahli Gizi FKM Unair, Annis Catur mengatakan bahwa komposisi daging sapi dan kambing relatif sama. Meski bedanya tidak terlalu signifikan yakni kandungan lemak dan aroma.

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Annis menilai yang menyebabkan keracunan daging itu bukan karena komposisi, melainkan daging tersebut mengalami kerusakan.

"Karena itu protein tinggi mudah busuk. Antara sapi dan kambing berbeda waktu penanganannya. Jadi kalau sudah lebih dari 6 jam sudah sangat berbeda dan cenderung busuk,"kata Annis, kepada selalu.id, Minggu (2/6/2023).

Terlebih lagi, jika penanganan proses sembelih daging tidak higienis sehingga mempercepat pembusukan protein. Ia menyebut daging rusak mempunyai ciri yakni bau yang tidak sedap.

"Kalau daging kambing jauh lebih cepat pembusukan. Karena kalau udah lewat 6-10 jam pasti rusak,"ungkapnya.

"Apalagi penyembelihan kurang higienis. Kadang masih ada cairan, habis sembelih tidak di taruh ditempat yang bagus, itu menyebabkan kerusakan lebih cepat," lanjutnya.

Annis membandingkan pemotongan yang dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang dilakukan secara higienis dan cepat. Tak lebih dari dua jam, daging kurban sudah langsung disalurkan.

Baca Juga: SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan, Aksi Nyata Dukung Dunia Pendidikan

"Mungkin biasanya kambing dipotong dibiarkan dulu, karena kecil-kecil itu otomatis lebih lama. Pembagiannya dibarengin dengan daging sapi"ucapnya.

Lebih lanjut Annis menerangkan, jika ada tanda-tanda bau harus ditangani dengan merebus di suhu 80 derajat dan pencucian yang tepat.

"Tapi kalau busuknya tajam lebih baik tidak dikonsumsi. Cuci bersih beberapa kali lalu dipanaskan dengan waktu cukup. Kalau kondisinya tidak parah bisa,"tuturnya.

Ia menambahkan, seharusnya daging sapi dan kambing lebih baik jangan dicampur. Menurutnya, daging sapi lebih awet dibandingkan kambing.

Baca Juga: Maling yang Sering Bobol Rumah di Kawasan Semampir Surabaya Ditangkap, Ini Namanya

"Karena sapi lebih keset jadi mikroba tidak cepat berkembang. Kalau kambing lebih lembek, jadi kalau buat sate lebih mudah," jelasnya.

Annis menyebutkan, jika daging bagus dicampur dengan daging rusak, akan menyebar dan membuat daging bagus cepat rusak pula.

"Kalai dicampur bisa keracunan, karena mikroba yang hidup di protein bisa menyebar," pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Beranikah Pemkot Surabaya Tutup Gion Spa, Tempat yang Jadi Eksploitasi Anak?

Fathoni mengatakan predikat Kota Layak Anak yang selama ini disandang Surabaya harus dibuktikan melalui tindakan tegas ketika terjadi kasus eksploitasi anak.

Maling SPPG Itu Bernama Dadan Hindayana

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman membenarkan salah satu pemicu Dadan dicopot dari Kepala BGN adalah dugaan jual beli SPPG.

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Ini Dugaan Kasusnya

Saat ditahan, Dadan mengenakan rompi merah muda dengan dikawal penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejagung.

Foto: Menikmati Rintik Hujan hingga Kuliner di Jalan Hefang Hangzhou

Sore ini, Rabu, 3 Juni 2026, Jalanan Hefang atau Qinghefang terpantau diguyur hujan. Suasananya syahdu.

Respons Santai Istana usai Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung

Presiden Prabowo sebelumnya melakukan pergantian kepemimpinan di BGN sebagai bagian dari evaluasi dan penguatan pelaksanaan program prioritas pemerintah.

Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Antara Bayang-bayang Kekuasaan Eksekutif

Masalah kebijakan luar negeri yang dianggap menyimpang ini, menurut sejumlah pengamat, bermuara pada lemahnya sistem pengawasan dalam tata pemerintahan.