Senin, 19 Okt 2026 17:09 WIB

Ahli Gizi UNAIR Sebut Keracunan Massal Masakan Olahan Kurban di Surabaya Karena Daging, Ini Penjelasannya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 02 Jul 2023 09:11 WIB
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa

selalu.id - Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut keracunan massal masakan olahan kurban di Surabaya dikarenakan bahan utama yakni daging.

Pakar Ahli Gizi FKM Unair, Annis Catur mengatakan bahwa komposisi daging sapi dan kambing relatif sama. Meski bedanya tidak terlalu signifikan yakni kandungan lemak dan aroma.

Baca Juga: Kapolda Jatim Atur Lalu Lintas di Surabaya

Annis menilai yang menyebabkan keracunan daging itu bukan karena komposisi, melainkan daging tersebut mengalami kerusakan.

"Karena itu protein tinggi mudah busuk. Antara sapi dan kambing berbeda waktu penanganannya. Jadi kalau sudah lebih dari 6 jam sudah sangat berbeda dan cenderung busuk,"kata Annis, kepada selalu.id, Minggu (2/6/2023).

Terlebih lagi, jika penanganan proses sembelih daging tidak higienis sehingga mempercepat pembusukan protein. Ia menyebut daging rusak mempunyai ciri yakni bau yang tidak sedap.

"Kalau daging kambing jauh lebih cepat pembusukan. Karena kalau udah lewat 6-10 jam pasti rusak,"ungkapnya.

"Apalagi penyembelihan kurang higienis. Kadang masih ada cairan, habis sembelih tidak di taruh ditempat yang bagus, itu menyebabkan kerusakan lebih cepat," lanjutnya.

Annis membandingkan pemotongan yang dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang dilakukan secara higienis dan cepat. Tak lebih dari dua jam, daging kurban sudah langsung disalurkan.

Baca Juga: Kuota Haji Jatim Tetap, Kemenhaj: Jemaah Harus Sehat untuk Dapat Surat Istithaah

"Mungkin biasanya kambing dipotong dibiarkan dulu, karena kecil-kecil itu otomatis lebih lama. Pembagiannya dibarengin dengan daging sapi"ucapnya.

Lebih lanjut Annis menerangkan, jika ada tanda-tanda bau harus ditangani dengan merebus di suhu 80 derajat dan pencucian yang tepat.

"Tapi kalau busuknya tajam lebih baik tidak dikonsumsi. Cuci bersih beberapa kali lalu dipanaskan dengan waktu cukup. Kalau kondisinya tidak parah bisa,"tuturnya.

Ia menambahkan, seharusnya daging sapi dan kambing lebih baik jangan dicampur. Menurutnya, daging sapi lebih awet dibandingkan kambing.

Baca Juga: Hari jadi Humas Polri ke-75, Polda Jatim Jalin Sinergi Komunitas Ojol Jaga Kamtibmas

"Karena sapi lebih keset jadi mikroba tidak cepat berkembang. Kalau kambing lebih lembek, jadi kalau buat sate lebih mudah," jelasnya.

Annis menyebutkan, jika daging bagus dicampur dengan daging rusak, akan menyebar dan membuat daging bagus cepat rusak pula.

"Kalai dicampur bisa keracunan, karena mikroba yang hidup di protein bisa menyebar," pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Cerita Warga Jember Rasakan Manfaat Mobil Cinta, Pulang Berobat Tak Lagi Pikir Biaya

Zaini mengaku bersyukur karena keluarganya tidak harus memikirkan biaya transportasi, mulai dari proses mendapatkan pelayanan kesehatan hingga kembali ke rumah.

Kapolresta Sidoarjo Berganti, Ini Pesan Khusus Bupati Subandi

Kombes Pol Christian Tobing, mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh pihak selama dua tahun sepuluh bulan masa jabatannya saat jadi Kapolresta Sidoarjo.

Sekolah di Surabaya Diminta Outing Kelas di Ruang Publik Tanpa ke Luar Kota

Surabaya memiliki banyak ruang publik dan destinasi edukasi yang bisa dimanfaatkan sekolah.

Ketua DPRD Jatim: Pembangunan Harus Merata, Berkelanjutan, dan Diawasi Ketat

Ia juga menyoroti pentingnya kemitraan antara DPRD dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

RSD Soebandi Jember Gelar Skrining Gratis, Target 10 Ribu Peserta Jember Cinta Kesehatan

Masyarakat dari kabupaten lain di Jawa Timur yang membutuhkan penanganan medis juga dipersilakan ikut.

5 Tahun Beroperasi, Pabrik Kosmetik Ilegal Rp 16 Miliar di Mojokerto Dibongkar BPOM

Dalam penggerebekan pada 8 Oktober 2026, BPOM menyita barang bukti senilai Rp 16 miliar.