Jumat, 04 Sep 2026 13:17 WIB

Ahli Gizi UNAIR Sebut Keracunan Massal Masakan Olahan Kurban di Surabaya Karena Daging, Ini Penjelasannya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 02 Jul 2023 09:11 WIB
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa

selalu.id - Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut keracunan massal masakan olahan kurban di Surabaya dikarenakan bahan utama yakni daging.

Pakar Ahli Gizi FKM Unair, Annis Catur mengatakan bahwa komposisi daging sapi dan kambing relatif sama. Meski bedanya tidak terlalu signifikan yakni kandungan lemak dan aroma.

Baca Juga: Ketika Korban Penganiayaan di Surabaya Diintimidasi dan Ditawari Uang Damai Rp150 Juta

Annis menilai yang menyebabkan keracunan daging itu bukan karena komposisi, melainkan daging tersebut mengalami kerusakan.

"Karena itu protein tinggi mudah busuk. Antara sapi dan kambing berbeda waktu penanganannya. Jadi kalau sudah lebih dari 6 jam sudah sangat berbeda dan cenderung busuk,"kata Annis, kepada selalu.id, Minggu (2/6/2023).

Terlebih lagi, jika penanganan proses sembelih daging tidak higienis sehingga mempercepat pembusukan protein. Ia menyebut daging rusak mempunyai ciri yakni bau yang tidak sedap.

"Kalau daging kambing jauh lebih cepat pembusukan. Karena kalau udah lewat 6-10 jam pasti rusak,"ungkapnya.

"Apalagi penyembelihan kurang higienis. Kadang masih ada cairan, habis sembelih tidak di taruh ditempat yang bagus, itu menyebabkan kerusakan lebih cepat," lanjutnya.

Annis membandingkan pemotongan yang dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang dilakukan secara higienis dan cepat. Tak lebih dari dua jam, daging kurban sudah langsung disalurkan.

Baca Juga: Ini Nama Dapur SPPG yang Diduga Bikin Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG

"Mungkin biasanya kambing dipotong dibiarkan dulu, karena kecil-kecil itu otomatis lebih lama. Pembagiannya dibarengin dengan daging sapi"ucapnya.

Lebih lanjut Annis menerangkan, jika ada tanda-tanda bau harus ditangani dengan merebus di suhu 80 derajat dan pencucian yang tepat.

"Tapi kalau busuknya tajam lebih baik tidak dikonsumsi. Cuci bersih beberapa kali lalu dipanaskan dengan waktu cukup. Kalau kondisinya tidak parah bisa,"tuturnya.

Ia menambahkan, seharusnya daging sapi dan kambing lebih baik jangan dicampur. Menurutnya, daging sapi lebih awet dibandingkan kambing.

Baca Juga: Ratusan Santri Sidoarjo Keracunan MBG Dirawat di 7 Rumah Sakit, Ini Daftarnya

"Karena sapi lebih keset jadi mikroba tidak cepat berkembang. Kalau kambing lebih lembek, jadi kalau buat sate lebih mudah," jelasnya.

Annis menyebutkan, jika daging bagus dicampur dengan daging rusak, akan menyebar dan membuat daging bagus cepat rusak pula.

"Kalai dicampur bisa keracunan, karena mikroba yang hidup di protein bisa menyebar," pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Lepas Puluhan Tukik ke Laut, PMI Surabaya Ikut Dukung Pelestarian Penyu di Banyuwangi

Ketua Harian PMI Surabaya, Taufik Rohman, turut melepas langsung puluhan tukik tersebut ke laut.

Cerita Pemuda Lamongan Sulap Kamar di Sambikerep Surabaya jadi Gudang Transit Sabu

Kini, langkah BN terhenti. Pemuda Lamongan itu harus menukar kamar kontrakannya di Sambikerep dengan dinginnya sel tahanan Polrestabes Surabaya.

Taman Dayu Rayakan Anniversary Lewat Turnamen Golf Bernuansa Bali

General Manager Taman Dayu Golf Club & Resort Brendan Sentosa mengatakan perayaan anniversary ini menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada komunitas.

Mangkrak dan Tak Ada Kepastian, Tiga Pembeli Apartemen PT TPI Gugat Pengembang Rp6,49 Miliar di PN Surabaya

Langkah hukum ini ditempuh lantaran unit yang telah dilunasi sejak 2024 tak kunjung diserahterimakan.

Ketika Peziarah Terusik dengan Markanya Anjal dan Pengemis di Kawasan Sunan Ampel Surabaya

Aduan tersebut mengalir deras ke hotline Lapor Cak Eri. Sejumlah peziarah mengaku kerap diresahkan oleh aksi anjal yang meminta uang dengan berbagai macam cara.

Resmi Dikelola Pemkab Pasuruan, Rest Area dan Tengger Cultural Center Tosari Siap Dihidupkan

Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menegaskan komitmennya untuk segera mengaktifkan fasilitas penunjang wisata tersebut.