Minggu, 01 Feb 2026 22:29 WIB

Ahli Gizi UNAIR Sebut Keracunan Massal Masakan Olahan Kurban di Surabaya Karena Daging, Ini Penjelasannya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 02 Jul 2023 09:11 WIB
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa
Ilustrasi keracunan makanan. Gambar: istimewa

selalu.id - Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut keracunan massal masakan olahan kurban di Surabaya dikarenakan bahan utama yakni daging.

Pakar Ahli Gizi FKM Unair, Annis Catur mengatakan bahwa komposisi daging sapi dan kambing relatif sama. Meski bedanya tidak terlalu signifikan yakni kandungan lemak dan aroma.

Baca Juga: Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Annis menilai yang menyebabkan keracunan daging itu bukan karena komposisi, melainkan daging tersebut mengalami kerusakan.

"Karena itu protein tinggi mudah busuk. Antara sapi dan kambing berbeda waktu penanganannya. Jadi kalau sudah lebih dari 6 jam sudah sangat berbeda dan cenderung busuk,"kata Annis, kepada selalu.id, Minggu (2/6/2023).

Terlebih lagi, jika penanganan proses sembelih daging tidak higienis sehingga mempercepat pembusukan protein. Ia menyebut daging rusak mempunyai ciri yakni bau yang tidak sedap.

"Kalau daging kambing jauh lebih cepat pembusukan. Karena kalau udah lewat 6-10 jam pasti rusak,"ungkapnya.

"Apalagi penyembelihan kurang higienis. Kadang masih ada cairan, habis sembelih tidak di taruh ditempat yang bagus, itu menyebabkan kerusakan lebih cepat," lanjutnya.

Annis membandingkan pemotongan yang dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang dilakukan secara higienis dan cepat. Tak lebih dari dua jam, daging kurban sudah langsung disalurkan.

Baca Juga: Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

"Mungkin biasanya kambing dipotong dibiarkan dulu, karena kecil-kecil itu otomatis lebih lama. Pembagiannya dibarengin dengan daging sapi"ucapnya.

Lebih lanjut Annis menerangkan, jika ada tanda-tanda bau harus ditangani dengan merebus di suhu 80 derajat dan pencucian yang tepat.

"Tapi kalau busuknya tajam lebih baik tidak dikonsumsi. Cuci bersih beberapa kali lalu dipanaskan dengan waktu cukup. Kalau kondisinya tidak parah bisa,"tuturnya.

Ia menambahkan, seharusnya daging sapi dan kambing lebih baik jangan dicampur. Menurutnya, daging sapi lebih awet dibandingkan kambing.

Baca Juga: Tips Merawat Motor saat Musim Hujan Supaya Tetap Bandel

"Karena sapi lebih keset jadi mikroba tidak cepat berkembang. Kalau kambing lebih lembek, jadi kalau buat sate lebih mudah," jelasnya.

Annis menyebutkan, jika daging bagus dicampur dengan daging rusak, akan menyebar dan membuat daging bagus cepat rusak pula.

"Kalai dicampur bisa keracunan, karena mikroba yang hidup di protein bisa menyebar," pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.

Tak Mau Kursi Turun Lagi, Armuji Bidik Gen Z jadi Kader Baru PDIP Surabaya

“Kita harus merebut kembali kursi-kursi yang sempat hilang," ujar Ketua PDIP Surabaya itu.

6 Wisata Banyuwangi dengan Keindahan Memukau

Selain menawarkan pesona alam yang luar biasa, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga menyimpan budaya lokal yang kental.