Jumat, 05 Jun 2026 01:26 WIB

Begini Cerita Saksi Suporter saat Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 19 Jan 2023 20:57 WIB
Sidang kedua tragedi Kanjuruhan Malang
Sidang kedua tragedi Kanjuruhan Malang

selalu.id - Sidang lanjutan Tragedi Kanjuruhan mengagendakan pemeriksaan saksi. Sebanyak 29 orang saksi untuk dimintai keterangan, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (17/1/2023).

Dalam pemeriksaan saksi, satu per satu JPU meminta keterangan para saksi salah satunya mereka dari Suporter, yakni Estu Aji Kuncoro yang menceritakan dirinya sebelum dan saat kejadian Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 lalu.

Baca Juga: Menanti Ending di Balik Proyek Ilegal PT Wulandaya Cahaya Lestari di Surabaya

Menjelang pertandingan Arema FC dan Persebaya, Estu bersama temannya berangkat menggunakan motor sekitar pukul 17.00 WIB. Sampai ke stadion Kanjuruhan Pukul 18.00 WIB. Saat itu Estu masuk ke pintu 13 dan 12 melihat keadaan pintu tersebut telah penuh. Akhirnya, Estu masuk ke Pintu 14.

"Masuk ke 14 pintu sampai ke 13 sampai ke tribun. Saya paling atas karena tempat duduk penuh, saya berdiri di tribun bersama teman-teman,"kata Estu, saat memberi keterangan menghadap Majelis Hakim.

Sampai pertandingan berakhir saat wasit meniup peluit sekitar pukul 21.40 WIB lebih. Estu mengaku melihat jelas di saat penonton mulai turun ke lapangan.

"Melihat upaya petugas baju oranye mengurangi penonton yang masuk ke lapangan akan kembali ke tribun. Penonton semakin banyak yang turun. Ada beberapa petugas yang bawa tameng, dan baju loreng-loreng,"ujarnya.

Kemudian, Estu melihat petugas memakai helm dan seragam hitam atau Brimob yang menembak asap tersebut atau gas air mata pertama di Lapangan. Kedua, ke arah tribun 3 dan 4. Lalu ketiga tribun 7, 9 dan 10.

"Saat letupan itu pecah serbu sebelum keluar asap (di ke tribun 13) kemana-mana. Saya terjatuh di tribun atas dan satu tingkat saja. Ada efek lemas pada tubuh. Saya telungkup ditendang satu orang, saya diamankan petugas. Saya keluar lewat pintu darurat bawah,"jelasnya.

"Tidak ada petugas yang membantu saya, saya dirawat sebelum korbannya banyak. Saya disitu 20 menit lemas mata saya tak bisa melihat setelah itu banyak korban,"lanjutnya.

Baca Juga: Remaja di Surabaya Tewas Dikeroyok Pelajar SMA, Sempat Gegar Otak dan Patah Tulang

Estu juga menjelaskan menghadap Hakim, saat itu pergerakan penonton sudah mundur. Namun, beberapa kali petugas menembakkan kembali ke arah tribun.

"Mulai panik, suara anak kecil dan ibu lari ke pintu 13. Saya di atas menghindar pakai bendera yang menmpel di tembok. Saya bisa lihat dari atas tidak bisa melihat. Pintu 13,12, 14 bergerembol tak bisa turun. Saat itu terjadi penumpukan,"tuturnya.

Selain Estu, Saksi Suporter lain yakni Eka Sandi juga menceritakan kejadian tersebut usai pertandingan. Eka hanya melihat banyak asap yang mengarah ke tribun 13, yang banyak perempuan dan anak-anak kecil.

"Saat asapya arah ke utara saya langsung turun ke bawah keluar lewat pintu utama. Saya menolong saya sendiri, penonton saat itu juga lemas tak bisa melihat. Saat keluar saya langsung beli air mineral,"ujarnya.

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Saat dirinya keluar dari Stadion Kanjuruhan. Eka Sandi mengaku ada penembakan dari sebuah mobil ke arah dia.

"Saya keluar, kedepan, saya beli air mineral. Ada penembakan dari mobil ke arah saya. Asapnya muncul, tembakan keluar stadion di area parkiran. Waktu muncul kepanikan. Spontan badan lemas sesak napas dan berlarian,"pungkasnya.

Diketahui JPU menghadirkan 29 orang saksi dalam Sidang kedua agenda pemeriksaan saksi. Hal itu disampaikan oleh Kasi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim), Fathur Rohman mengatakan para saksi terdiri dari korban hingga anggota Polri.

"Saksi yang kami panggil antara lain korban 18 orang, steward tujuh orang, pegawai Dispora Kabupaten Malang tiga orang, Polri satu orang," ujarnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Pemain Utama Rantai Halal Nasional

Tantangan berikutnya adalah memastikan daerah-daerah potensial mampu mengambil peran lebih besar sebagai produsen penggerak utama industri halal global.

Lima Mahasiswa FH Untag Surabaya Ajukan Uji Materi ke MK Soal Pembuatan SIM

Namun demikian, para mahasiswa tidak meminta seluruh tes dihapus, melainkan dilakukan penyempurnaan agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.

Pemkab Sidoarjo Komitmen Selesaikan Hak Warga Terdampak Lumpur Lapindo

Pengaktifan kembali Satgas dinilai penting mengingat masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat terdampak lumpur Lapindo.

Ning Ita Ajak ASN Kota Mojokerto Berani Tolak dan Laporkan Gratifikasi

Ning Ita mengatakan upaya pencegahan korupsi tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tapi harus dibangun dengan kesadaran dan integritas setiap pemerintah.

Mahasiswa Statistika Bisnis ITS Pelajari Penerapan ISO 9001:2015 di Terminal Petikemas Surabaya

Mahasiswa diharapkan mampu menjembatani pemahaman teoritis yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata di lapangan.

Polresta Sidoarjo Bongkar Jaringan Narkotika Internasional Senilai Puluhan Miliar

Saat ini penyidik masih mengembangkan kedua perkara tersebut guna mengungkap jaringan yang lebih luas.