Kamis, 04 Jun 2026 05:42 WIB

Muncul Spanduk Tolak Arema di Surabaya Jelang Sidang Tragedi Kanjuruhan

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 13 Jan 2023 15:53 WIB
Spanduk penolakan kedatangan arema di Jalan Arjuno, Surabaya.
Spanduk penolakan kedatangan arema di Jalan Arjuno, Surabaya.

selalu.id - Muncul spanduk penolakan kedatangan Aremania Menjelang Sidang perdana tragedi Kanjuruhan yang akan digelar di Pengadilan Negeri Surabaya pada Senin (16/1/2023) mendatang. Spanduk tersebut terbentang di Jalan Arjuno, Surabaya.

Pantuan selalu.id, spanduk berwarna putih tersebut tampak ditali diantara dua pohon di tengah pembatas jalan. Diketahui, spanduk tersebut sudah terpasang sejak, Kamis (12/1/2023) kemarin. Spanduk tersebut bertuliskan "Tolak Aremania di Surabaya, by: Pembangkang".

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Humas PN Surabaya, Suparno mengatakan, terpasangnya spanduk tersebut merupakan perseteruan antara Bonek dengan Aremania yang memang sejak lama terjadi.

Spanduk itu, kata dia, juga merupakan peringatan agar Aremania tidak datang saat sidang Tragedi Kanjuruhan yang digelar perdana pada pekan depan.

Apabila nantinya mereka nekat, petugas bakal kesulitan melakukan pengamanan.

"Mungkin sudah dipasang spanduk dari Bonek, itu untuk mengantisipasi. Karena antara Bonek dengan Aremania ini bermusuhan sejak tahun 1960," kata Suparno, Jumat (13/1/2023).

Sementara itu, salah satu perwakilan Bonek, Husain Gozali menyampaikan, Bonek menolak kedatangan Aremania saat persidangan Tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya.

Baca Juga: SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan, Aksi Nyata Dukung Dunia Pendidikan

"Untuk menjaga kondusifitas kota Surabaya, kami menolak aremania datang ke Surabaya," kata pria yang akrab disapa Cak Conk ini.

Selain itu, Cak Conk menyebut jika penolakan tersebut lantaran tidak adanya permintaan maaf dari Aremania. Yakni terkait penyerangan rantis barracuda yang dinaiki pemain dan official Persebaya.

Diketahui, sejumlah Aremania sempat melempari kendaraan yang dinaiki pemain dan official Persebaya, usai pertandingan Arema FC kontra Bajul Ijo di Kanjuruhan, Malang, 1 Oktober 2022, lalu.

"Minta usut tuntas tapi suporternya mereka mana mau minta maaf dan mengakui kesalahannya? Mana yang diproses hukum suporternya? Mana yang lempar rantisnya Persebaya itu?," ujarnya.

Baca Juga: Maling yang Sering Bobol Rumah di Kawasan Semampir Surabaya Ditangkap, Ini Namanya

Meski demikian, Bonek masih mempersilahkan bagi keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang datang ke Surabaya, guna memberikan kesaksianya selama proses persidangan berlangsung.

"Kami menghormati proses pengadilan yang ditempati di Surabaya, memang ada saksi korban dari pihak keluarga, kita hormati. Monggo ae (silakan saja) datang asal enggak ada atribut yang provokasi," lanjutnya.

"Kalau keluarga korban itu kan haknya keluarga karena menjadi saksi korban dan lain-lain. Tapi kalau secara Aremania datang pasti ditolak teman-teman," pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Beranikah Pemkot Surabaya Tutup Gion Spa, Tempat yang Jadi Eksploitasi Anak?

Fathoni mengatakan predikat Kota Layak Anak yang selama ini disandang Surabaya harus dibuktikan melalui tindakan tegas ketika terjadi kasus eksploitasi anak.

Maling SPPG Itu Bernama Dadan Hindayana

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman membenarkan salah satu pemicu Dadan dicopot dari Kepala BGN adalah dugaan jual beli SPPG.

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Ini Dugaan Kasusnya

Saat ditahan, Dadan mengenakan rompi merah muda dengan dikawal penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejagung.

Foto: Menikmati Rintik Hujan hingga Kuliner di Jalan Hefang Hangzhou

Sore ini, Rabu, 3 Juni 2026, Jalanan Hefang atau Qinghefang terpantau diguyur hujan. Suasananya syahdu.

Respons Santai Istana usai Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung

Presiden Prabowo sebelumnya melakukan pergantian kepemimpinan di BGN sebagai bagian dari evaluasi dan penguatan pelaksanaan program prioritas pemerintah.

Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Antara Bayang-bayang Kekuasaan Eksekutif

Masalah kebijakan luar negeri yang dianggap menyimpang ini, menurut sejumlah pengamat, bermuara pada lemahnya sistem pengawasan dalam tata pemerintahan.