BKKBN Jatim Sebut Pernikahan Dini Jadi Penghambat Penurunan Kasus Stunting
- Penulis : Ade Resty
- | Jumat, 30 Des 2022 15:33 WIB
selalu.id - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Jawa Timur, menyebut bahwa pernikahan dini menjadi penghambat penurunan angka stunting.
Tercatat, berdasarkan data Dispensasi Kawin Pengadilan Tinggi Agama Surabaya. Total jumlah perkara diterima 10.275 Kasus dan dikabulkan 9.863 Kasus atau 96 persen.
Koordinator Bidang Latbang Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim, Sukamto menyebut bahwa wilayah dengan banyaknya kasus pernikahan dini di Jatim diimbangi dengan tingginya angka stunting.
"Data pernikahan dini dibandingkan dengan kabupaten yang stuntingnya tinggi kok ada relevan, artinya ada kaitannya, kalau nikah dini otomatis mental belum siap,fisik juga belum siap," kata Sukamto, Jumat (30/12/2022).
Sukamto menyebut, sebanyak 10 Kabupaten/Kota yang tertinggi pernikahan dininya yakni,
Jember 880 perkawinan, Malang 845 perkawinan, Kraksaan 770 perkawinan, Lumajang 566 perkawinan, Banyuwangi 563 perkawinan.
Kemudian, Bondowoso 471 perkawinan, Pasuruan 464 perkawinan, Bojonegoro 369 perkawinan, Situbondo 346 perkawinan dan. Kediri 346 perkawinan.
Baca Juga: Transformasi Korupsi di DPRD Jatim: Dari P2SEM, Pokir hingga Fee Istri Siri
Sementara, 10 daerah di Jawa Timur yang angka stuntingnya tertinggi adalah Bangkalan 38,9 persen, Pamekasan 38,7 persen, Bondowoso 37 persen, Lumajang 30,1 persen, Sumenep 29 persen, Kota Surabaya 28,9 persen, Mojokerto 27,4 persn, Malang 25,7 persen, Kota Malang 25,7 persen dan Nganjuk 25,3 persen.
Lebih lanjut Sukamto juga menyampaikan, berdasarkan data Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGI) 2021, disebutkan angka stunting Nasional 24,4 persen.
Sedangkan, lanjutnya, di Jawa Timur sebesar 23,5 persen. Pihaknya menarget tahun 2023 turun hingga 16,83 persen
Baca Juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang
"Tahun 2022, datanya belum keluar, hingga 2024 kita targetnya 13,51 persen," ujarnya.
Ia menilai,faktor tingginya angka stunting pertama karena kemiskinan, sanitasi, kesehatan, pendidikan dan air bersih. Fakotr itu menyumbang sekitar 70 persen.
"30 persennya spesifik apa yang ada langsung pada keluarga, satu karena calon pengantin yang usianya di bawah standart, ibu hamil, ibu menyusui yang kekuragn gizi, kemudian pengasuhan anak," pungkasnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi