Senin, 19 Okt 2026 18:02 WIB

BKKBN Jatim Sebut Pernikahan Dini Jadi Penghambat Penurunan Kasus Stunting

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 30 Des 2022 15:33 WIB
Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan

selalu.id - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Jawa Timur, menyebut bahwa pernikahan dini menjadi penghambat penurunan angka stunting.

Tercatat, berdasarkan data Dispensasi Kawin Pengadilan Tinggi Agama Surabaya. Total jumlah perkara diterima 10.275 Kasus dan dikabulkan 9.863 Kasus atau 96 persen.

Baca Juga: DPRD Jatim Sahkan Perda Hak Disabilitas, Perkuat Perlindungan dan Kesetaraan Hukum

Koordinator Bidang Latbang Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim, Sukamto menyebut bahwa wilayah dengan banyaknya kasus pernikahan dini di Jatim diimbangi dengan tingginya angka stunting.

"Data pernikahan dini dibandingkan dengan kabupaten yang stuntingnya tinggi kok ada relevan, artinya ada kaitannya, kalau nikah dini otomatis mental belum siap,fisik juga belum siap," kata Sukamto, Jumat (30/12/2022).

Sukamto menyebut, sebanyak 10 Kabupaten/Kota yang tertinggi pernikahan dininya yakni,
Jember 880 perkawinan, Malang 845 perkawinan, Kraksaan 770 perkawinan, Lumajang 566 perkawinan, Banyuwangi 563 perkawinan.

Kemudian, Bondowoso 471 perkawinan, Pasuruan 464 perkawinan, Bojonegoro 369 perkawinan, Situbondo 346 perkawinan dan. Kediri 346 perkawinan.

Baca Juga: RAPBD Jatim 2027 Turun 8,2 Persen, Golkar Pertanyakan Pemangkasan Belanja Modal

Sementara, 10 daerah di Jawa Timur yang angka stuntingnya tertinggi adalah Bangkalan 38,9 persen, Pamekasan 38,7 persen, Bondowoso 37 persen, Lumajang 30,1 persen, Sumenep 29 persen, Kota Surabaya 28,9 persen, Mojokerto 27,4 persn, Malang 25,7 persen, Kota Malang 25,7 persen dan Nganjuk 25,3 persen.

Lebih lanjut Sukamto juga menyampaikan, berdasarkan data Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGI) 2021, disebutkan angka stunting Nasional 24,4 persen.

Sedangkan, lanjutnya, di Jawa Timur sebesar 23,5 persen. Pihaknya menarget tahun 2023 turun hingga 16,83 persen

Baca Juga: Kekeringan di Jatim Makin Parah, Fraksi PKS Sentil Pemprov: Jangan Cuma Sibuk Bagi-bagi Air!

"Tahun 2022, datanya belum keluar, hingga 2024 kita targetnya 13,51 persen," ujarnya.

Ia menilai,faktor tingginya angka stunting pertama karena kemiskinan, sanitasi, kesehatan, pendidikan dan air bersih. Fakotr itu menyumbang sekitar 70 persen.

"30 persennya spesifik apa yang ada langsung pada keluarga, satu karena calon pengantin yang usianya di bawah standart, ibu hamil, ibu menyusui yang kekuragn gizi, kemudian pengasuhan anak," pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Cerita Warga Jember Rasakan Manfaat Mobil Cinta, Pulang Berobat Tak Lagi Pikir Biaya

Zaini mengaku bersyukur karena keluarganya tidak harus memikirkan biaya transportasi, mulai dari proses mendapatkan pelayanan kesehatan hingga kembali ke rumah.

Kapolresta Sidoarjo Berganti, Ini Pesan Khusus Bupati Subandi

Kombes Pol Christian Tobing, mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh pihak selama dua tahun sepuluh bulan masa jabatannya saat jadi Kapolresta Sidoarjo.

Sekolah di Surabaya Diminta Outing Kelas di Ruang Publik Tanpa ke Luar Kota

Surabaya memiliki banyak ruang publik dan destinasi edukasi yang bisa dimanfaatkan sekolah.

Ketua DPRD Jatim: Pembangunan Harus Merata, Berkelanjutan, dan Diawasi Ketat

Ia juga menyoroti pentingnya kemitraan antara DPRD dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kapolda Jatim Atur Lalu Lintas di Surabaya

Jalan Ahmad Yani, Taman Bungkul, Jalan Wonokromo, Jalan Ciliwung, Jalan Jagir, serta Bundaran CITO Surabaya.

Kuota Haji Jatim Tetap, Kemenhaj: Jemaah Harus Sehat untuk Dapat Surat Istithaah

Jemaah yang dinyatakan tidak sehat oleh tim kesehatan tidak akan diterbangkan, dan tidak ada jalan lain untuk memaksakan keberangkatan.