Kamis, 04 Jun 2026 17:47 WIB

IDI Jatim Sebut Pergantian Musim Sebabkan Meningkatnya Kasus Pneumonia Pada Anak

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 15 Nov 2022 18:14 WIB
Ilustrasi pneumonia pada anak
Ilustrasi pneumonia pada anak

selalu.id - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur menyebut salah satu penyebab meningkatnya kasus penyakit pneumonia pada anak yakni karena peralihan musim.

Ketua IDI Jatim dr Sutrisno mengatakan bahwa penyakit itu memang sepanjang tahun tinggi. Apalagi, saat ini peralihan musim di Jatim sedang naik.

Baca Juga: Tips Jaga Kesehatan Anak di Musim Pancaroba, Catat ya Bunda

"ISPA, penumonia dari riset dasar, tinggi sepanjang tahun. Termasuk musim peralihan seperti ini lebih tinggi lagi,"kata dr Sutrisno, Selasa (15/11/2022).

Oleh karena itu, dr Sutrisno mengimbau kepada masyarakat atau keluarga untuk menjaga kesehatan dan harus mencegah penyakit saluran pernapasan agar tidak bertambah berat.

Kemudian, untuk petugas dan pusat pelayanan kesehatan juga harus siap menangani pneumonia pada anak.

Baca Juga: Tekan Stunting dan Penyakit Kronis, Surabaya Bangun Sistem Kesehatan Berbasis Data RW

dr Sutrisno menyebut, tercatat ratusan dokter anak tersebar di seluruh rumah sakit di Jawa Timur, hal ini seharunya mempercepat penanganan agar kasus pneumonia tidak melonjak.

Di Surabaya sendiri tercatat 16.108 kasus, diantaranya 10.161 kasus menjangkiti anak berusia 0-5 tahun , dan 5.947 kasus pada usia diatas 5 tahun. Data tersebut terhitung selama periode Januari-Oktober 2022

"Kalau berkaca dari data, memang penumonia dan ISPA ada terus sepanjang tahun dan kepada anak ini tinggi. Tentu bahwa daya tahan tubuh anak lebih rendah. Di Jatim dari hasil riset memang tinggi ISPA dan pneumonia," jelasnya.

Baca Juga: Surabaya Mendung dan Gerah, Begini Penjelasan BMKG

Ia menambahkan, penyakit ini bisa disembuhkan. Tentunya tingkat penyembuhannya tergantung dari penyebabnya. Oleh karena itu, ia berpesan kepada orang tua untuk bekerja sama, saat mengetahui anak sakit lekas dibawa ke faskes agar hasilnya jauh lebih baik.

"Untuk ibu dan bapak jangan terlambat membawa putra-putrinya yang sakit ke dokter atau faskes agar cepat tertangani. Zaman sekarang batasi bayi balita keluar, kalau ga perlu jangan. Kalau keluar dilindungi masker, hidup sehat, gizi yang baik dan jangan lupa imunisasi dasar. Imunisasi dasar kita saat covid turun, karena orang-orang fokus ke covid," terangnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Pecah Ban, Pikap Terguling di Tol SuMo 1 Tewas 2 Luka

pikap berwarna putih itu oleng lantaran sopir tidak bisa mengendalikan dan sempat menabrak guardrail atau pembatas jalan sisi kanan dan terguling.

Sedan Baleno Terbakar di SPBU Probolinggo, di Dalam Mobil Petugas Temukan 8 Jeriken Isi Petralite

Setelah pembasahan usai petugas menemukan sekitar delapan jeriken di dalam sedan Suzuki Baleno yang terbakar.

Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Camat Sukolilo Surabaya, M Aries Hilmi mengatakan telah meminta klarifikasi kepada pengembang terkait status lahan yang dipersoalkan warga. Hasilnya begini.

Beranikah Pemkot Surabaya Tutup Gion Spa, Tempat yang Jadi Eksploitasi Anak?

Fathoni mengatakan predikat Kota Layak Anak yang selama ini disandang Surabaya harus dibuktikan melalui tindakan tegas ketika terjadi kasus eksploitasi anak.

Maling SPPG Itu Bernama Dadan Hindayana

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman membenarkan salah satu pemicu Dadan dicopot dari Kepala BGN adalah dugaan jual beli SPPG.

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Ini Dugaan Kasusnya

Saat ditahan, Dadan mengenakan rompi merah muda dengan dikawal penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejagung.