Senin, 02 Feb 2026 11:08 WIB

Galang Kekuatan Warga Produsen Baju Kucing Surabaya Hadapi Gempuran Produk Impor

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 11 Nov 2022 04:19 WIB
Rumah Produksi aksesoris hewan milik Dini Arianti di Jalan Pakis 2 no 10
Rumah Produksi aksesoris hewan milik Dini Arianti di Jalan Pakis 2 no 10

selalu.id - Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bisa disebut pahlawan di bidang ekonomi. Mereka membantu perekonomian lingkungannya dan tak jarang pula menyelamatkan rumah tangga dengan tindakan ekonomi yang menyokong keuangan tambahan sebuah keluarga.

Minim sentuhan industrialisasi, para pelaku UMKM biasanya memanfaatkan tenaga manusia untuk mengerjakan setiap detail tindakan usahanya. Hal ini sudah tentu menyerap banyak tenaga kerja dan menjadikan lingkungan tempat pelaku UMKM menjadi padat karya yang berujung pada peningkatan ekonomi. Untuk start up, pelaku UMKM minimal mempekerjakan antara 5 - 10 orang karyawan. Jika terus berkembang, secara otomatis tenaga yang terserap akan semakin besar pula. Ini menjadi salah satu tiang penyangga ekonomi mikro sebuah negara dan meringankan beban pemerintah dalam hal pengentasan pengangguran serta kemiskinan.

Baca Juga: Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United

Tidak semudah yang dibayangkan, dalam dunia UMKM perlu pemikiran kreatif dan inovatif untuk membuat produk yang dapat diterima oleh pasar di tengah minimnya modal yang dimiliki. Pelaku UMKM dituntut untuk dapat memaksimalkan minimnya sumber daya yang ada.

Kemampuan manajerial, kemampuan berinovasi serta pengambilan keputusan cepat dan tepat diperlukan agar tindakan usahanya mampu bersaing dengan produk-produk hasil industri. Tidak berlebihan, paket komplit seorang pengusha tersebut disematkan pada salah satu pelaku UMKM asal Surabaya, Dini Arianti. Jatuh bangun menggeluti bisnis UMKM membawanya pada kondisi sekarang ini yang berhasil mengajak puluhan orang warga sekitarnya untuk menambah penghasilan dengan berkarya.

Berbekal tekad, wanita beusia 40 tahun ini memberanikan diri menggeluti dunia usaha setelah memutuskan resign dari kerjanya sebagai marketing di perusahan laboratorium Pramita. Awalnya Dini membuka usaha toko baju muslim impor yang dijualnya secara online dan offline.

"Aku awalnya memulai usaha jual baju-baju busana muslim impor. Sempat rame lewat online, tapi lambat laun berangsur sepi. Penasaran dong, aku cari tahu ternyata ada pemodal besar yang langsung direct dari produsen ke daerah. Aku susah masarin, penjualanku lewat online barabg dari Surabaya aku jual ke daerah dengan daya tawar mode yang lagi ngetren. Akhirnya aku putuskan untuk menutup toko karena rugi dan hutang menumpuk," kenangnya.

Memiliki mental pengusaha, Dini berfikir cepat dan tepat menutup usaha busana muslimnya lantaran kekuatan finansialnya tak mampu bersaing dengan pengusaha besar dan mengalihkan bisnisnya menjadi produksi aksesoris hewan terutama untuk anjing dan kucing.

"Saat itu aku berfikir agar tahan banting dengan serangan barang impor, aku harus produksi sendiri. Aku kok melihat ada ceruk bisnis di perlengkapan hewan peliharaan, ditambah pemainnya sedikit. Akhirnya bisnis ini yang aku pilih," ujarnya.

Kejelian membaca peluang membuat bisnis Dini membuahkan hasil. Tercatat sudah puluhan tetangga yang terlibat proses produksi aksesoris hewan tersebut dan sudah tentu mendapatkan penghasilan untuk membantu keuangan rumah tangganya. Tercatat saat ini dini mempekerjakan tetap 15 orang tetangga sekitar serta beberapa freelance.

"Awalnya dikerjakan sendiri sama suami, kok rame, lantas beberapa tetangga tak tawari untuk membantu. Diajari dulu, kalau sudah bisa, mereka bisa ambil garapan (pekerjaan) untuk dikerjakan di rumah. Kalau sudah selesai baru setor lagi," jelasnya.

Tak hanya mempekerjakan orang-orang dewasa, usaha warga Pakis 2 Surabaya ini sempat dibantu oleh anak-anak (smp dan sma) yang hampir putus sekolah lantaran kurang biaya.

"Kalau itu ada tetangga dan saudara minta garapan ke sini. Mereka masih sekolah, aku juga bingung. Akhirnya aku bolehkan dengan syarat jam kerjanya harus pendek. mulai pulang sekolah sampe sore aja. Sekitar 4 jam an lah sehari. Tapi kalau pas ujian, ndak boleh masuk kerja. Harus libur dan belajar di rumah. Mereka mau, ya sudah, itung-itung daripada mereka main lebih baik disini sambil belajar. Magang kerja lah istilahnya," urainya.

Tak selalu berjalan lancar, pada satu waktu usaha aksesoris hewan peliharaanya sempat mengalami kelesuan. Gempuran produk-produk impor membuat pelanggan beralih. Tak patah arang, Berbekal kemampuan berinovasi seorang pengusaha, Dini lantas belajar dan menambah variasi produknya sesuai kebutuhan pasar dengan sentuhan sedikit kreativitas.

"Dulu aku hanya produksi kalung untuk anjing dan kucing saja, tapi barang-barang impor datang dan bagus-bagus. Sempat sedih juga, karyawan sudah ada tapi penjualan sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk beli mesin jahit dan memperbaiki kualitas serta bikin baju untuk hewan. Daya tariknya adalah baju hewan itu didesain dengan tulisan-tulisan yang lagi ngetren. Alhamdulillah permintaan banyak," syukurnya.

Baca Juga: Hujan Angin Terjang Surabaya, 9 Pohon Tumbang

Berbekal kemampuan manajerial yang baik, Dini berhasil mengembangkan usahanya dan membuat tempat produksi di samping rumahnya yang menampung para karyawan untuk berproses kreatif memproduksi aksesoris hewan. Tercatat beberapa produk hasil karya warga Pakis diantaranya, kalung, harnes, tali tuntun hewan, baju, tempat tidur, kaos dan masih banyak lagi pernak-pernik yang lain.

"Dulu kerjanya di ruang tamu. Penuh pokoknya rumahnya. Alhamdulillah sekarang bisa bikin tempat kerja sendiri meskipun kecil-kecilan," imbuhnya.

Terjangan pandemi Covid-19 yang melumpuhkan sendi ekonomi Indonesia khususnya pekerja informal, justru membuat usaha wanita ini kebanjiran order. Pada momen itu, Dini bercerita, banyak tetangga sekitar bahkan luar kampungnya terutama ibu-ibu berbondong-bondong meminta pekerjaan untuk menyelamatkan ekonomi keluarganya.

"Waktu pandemi itu permintaan luar biasa banyak. Infonya karena lockdown mereka sering di rumah dan bingung mau ngapain. Akhirnya yang hobi hewan peliharaan, sibuk melengkapi aksesorisnya. Senang bisa membantu tetangga dan masyarakat sekitar," bangganya.

Tia, salah satu karyawan Dini mengaku merasa terbantu dengan adanya usaha aksesoris hewan ini. Tia sendiri sudah ikut berproduksi dengan Dini semenjak masih duduk di bangku SMA.

"Dulu masih sekolah, lumayan buat tambahan bayar uang spp dan jajan. Setelah lulus kok masih nyaman di sini, akhirnya sampai sekarang. Banyak juga anak-anak yang seperti saya. Bekerja mulai sekolah sampai sekarang. Ada juga yang setelah lulus dan punya ijazah kerja di tempat lain," ujarnya sembari merangkai aksesoris hewan.

Senada dengan Tia, Lies, wanita berusia 57 tahun ini mengaku sudah sekitar 5 tahun ikut berproduksi disana dan juga merasa terbantu dengan adanya usaha produksi aksesoris hewan tersebut.

Baca Juga: Tips Merawat Motor saat Musim Hujan Supaya Tetap Bandel

"Alhamdulillah bisa ikut di sini, ada tambahan untuk ekonomi keluarga saya. Senang kerjanya dekat rumah, ndak perlu dandan, ndak perlu keluar uang transport. Senang lah pokoknya. Semoga usaha ini bisa lancar terus dan makin berkembang," ujar Lies dan diamini oleh pekerja yang lain. Tak hanya ibu-ibu, tukang becak dan beberapa pemuda pun kebagian rezeki sebagai pengantar barang serta bagian pembelian bahan.

Tidak membutuhkan lahan yang luas serta peralatan canggih. Rumah produksi milik Dini berada di dalam gang sempit yang berlokasi di Jalan Pakis 2 no 10 Surabaya.

Dengan ukuran sekitar 5 x 7 meter. Terlihat hanya beberapa mesin jahit serta tumpukan bahan serta hasil produksi. Para pekerja terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Lalu lalang warga yang mengambil pekerjaan serta menyetorkan hasil pekerjaan menghiasi rumah sederhana itu.

Banyaknya warga yang ikut membantu di rumah produksi Dini, membuat namnya terkenal di kawasan tersebut. Terbukti saat selalu.id mencari alamat dan menanyakan kepada warga di ujung kampung langsung mendapat respon, "Oh....Dini kucing, lurus ae, omah sing akeh tandurane kanan jalan (Oh...Dini kucing, lurus aja, rumah yang banyak tanamanya kanan jalan)" jawab seorang warga.

Meski berada di lokasi yang kurang strategis untuk usaha, namun dengan berbekal kemauan serta memiliki kemampuan berinovasi, kemampuan managerial yang baik, terbukti seorang ibu rumah tangga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya dan menjadikan kampung tersebut menjadi padat karya.

Tak berlebihan jika menyematkan julukan pahlawan ekonomi untuk seorang warga kampung seperti Dini Arianti yang berusaha membuka lapangan pekerjaan untuk tetangga sekitar tanpa perlu tanda jasa. Para pelaku UMKM seperti Dini Arianti sudah sepatutnya mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintah lantaran telah berperan menyangga tiang ekonomi negara dalam lingkup mikro. (Ade/SL1)

 

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Ramalan Zodiak Hari Ini: Banyak Kabar Gembira, Dari Keuangan hingga Karier

Ramalan zodiak hari ini meliputi seputar percintaan, keuangan dan karier bisa menjadi prediksi peruntungan di masa depan.

Hujan dan Angin Kencang Landa Mojokerto, Rusak 39 Rumah Warga

Selain mengakibatkan puluhan rumah rusak, angin kencang juga menumbangkan puluhan pohon di beberapa jalan raya dan desa.

Persebaya Surabaya Vs Dewa United: Duel Panas Sarat Ambisi di GBT

Laga ini diprediksi berlangsung panas dan sengit, mengingat kedua tim sama-sama memburu poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Bentuk Satgas Khusus, Cara Bupati Jember Atasi Banjir dan Kemiskinan

Pembentukan ini menjadi upaya serius pemerintah daerah dalam menangani persoalan banjir, kemiskinan ekstrem, hingga masalah kesehatan ibu dan anak.

205 Ribu KK Surabaya Belum Terdata, Banyak Warga Pakai Alamat Numpang

Banyak KK tercatat di satu alamat, tetapi secara fisik rumah tersebut tidak mungkin dihuni sebanyak itu.

Tak Mau Kursi Turun Lagi, Armuji Bidik Gen Z jadi Kader Baru PDIP Surabaya

“Kita harus merebut kembali kursi-kursi yang sempat hilang," ujar Ketua PDIP Surabaya itu.