Analisa Keamanan Publik Angkat Bicara Soal Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan
- Penulis : Ade Resty
- | Senin, 03 Okt 2022 14:39 WIB
selalu.id - Tragedi kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/9/2022) lalu jadi perhatian publik, hingga internasional. Pasalnya kejadian tersebut telah memakan ratusan korban jiwa.
Atas tragedi tersebut banyak spekulasi yang berkembang. Apa penyebab kericuhan peristiwa tragedi tersebut?
Baca Juga: Pengamat Pertanyakan Protokoler Wawali Armuji saat ke Yai Mim Malang
Analisa Keamanan Publik Roger P Silalahi mengatakan, pertandingan tersebut dilihat dari persiapan awal yang juga melibatkan
stage holder terkait, Panitia, Klub Sepak Bola, Media, Pemda, Kepolisian, dan juga Supporter.
Menurutnya, persiapan tersebut telah dilakukan. Termasuk larangan hadirnya Suporter Persebaya atau Bonek.Hal itu keputusan Aremania dan Panitia Pelaksana (Panpel).
Ada fakta baru yang menyebutkan bahwa permintaan jam pertandingan dari Polisi agar dilakukan sore hari ditolak oleh Panpel.
" Tapi, saran dan permintaan dari Kepolisian terkait jam penyelenggaraan dan pembatasan jumlah penonton ditolak dan diabaikan oleh Panitia Pelaksana,"kata Roger, melalui keterangannya, Senin (3/9/2022).
Padahal, permintaan Kepolisian tersebut, untuk menurunkan jumlah penonton pastilah terkait dengan ‘risk assessment’ dan ‘risk management’ yang diperhitungkan dan direncanakan Kepolisian.
"Bersikerasnya penyelenggara dapat dianggap meremehkan Kepolisian,"tegasnya.
Roger menjelaskan, jumlah anggota yang tersedia pun pastilah terbatas dan hal ini pun terkait dengan permintaan penurunan jumlah penonton.
"Tapi apa mau dikata, pertandingan dimulai, pertandingan selesai, kerusuhan terjadi,"ujarnya.
Baca Juga: Bendera Onepiece jadi Trending di HUT RI, Legislator Jatim Tuntut Ada Kepekaan Kebijakan
Kepolisian menembakkan gas air mata, Roger menerangkan, sesuai dengan protap dan Perkap Nomor 16 tahun 2006.
"Lalu banyak yang mempersalahkan hal gas air mata ini dengan berpegang pada aturan FIFA Point 19B,"terangnya.
Lebih lanjut Roger menjelaskan, tentunya yang menyelenggarakan termasuk stasiun TV Indosiar yang menayangkan langsung laga itu dan Panpel yang ingin mengejar keuntungan.
"Mereka mengejar keuntungan semaksimal mungkin dengan penjualan tiket masuk. Sehingga, jam tayang pun tidak berubah,"tuturnya.
Untuk kapasitas stadion Kanjuruhan sendiri mampu menampung 42.499 orang dengan maksimal angka 42.000 tiket. Roger menyebut, pihak penyelenggara tidak mengikuti saran Kepolisian.
Baca Juga: Persebaya Siap Tempur di Bali untuk Derby Jatim Kontra Arema FC
"Kepolisian yang menyarankan untuk menurunkan ke angka 25.000 tiket saja,"ucapnya.
Tercatat data yang menunjukkan supporter yang datang saat itu berjumlah sebanyak 42.288 orang. Artinya, sisa 211 orang diluar supporter yang boleh masuk stadion.
"Melihat ini, jika ditambahkan dengan jumlah Pasukan Pengamanan yang terdiri dari unsur Polisi dan TNI (jumlah pasti belum berhasil didapatkan),"ujarnya.
Dengan demikian, lanjut Roger, dipastikan Stadion Kanjuruhan yang memiliki 14 pintu itu menampung jumlah orang melebihi kapasitasnya.
"Bisa dibayangkan, setidaknya 1 pintu harus melayani sekitar 7.265 orang,"pungkasnya. (Ade/SL1)
