Selasa, 06 Okt 2026 11:15 WIB

Dosen Gizi Unusa Bagi Tips Mengolah Daging Kurban yang Aman di Tengah Wabah PMK

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 10 Jul 2022 16:41 WIB
Pemotongan hewan kurban
Pemotongan hewan kurban

selalu.id - Moment Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah kali ini dibayangi dengan adanya penyakit mulut dan kaki (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD). Penyakit PMK ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat merusak jaringan didalam sel hewan ternak.

Dengan kondisi ini, Dosen dari Program Studi (Prodi) S1 Gizi Unusa Rizki Nurmalya Kardina, S.Gz., M.Kes akan memberikan tips mengolah daging dengan benar dan aman di tengah wabah PMK dimulai melihat kondisi daging harus segar, tidak pucat. Biasanya warna daging hewan yang berusia lebih tua akan lebih gelap warnanya. Kedua melihat tekstur yang kenyal dan cepat kembali keposisi semula pada saat ditekan dengan jari.

Baca Juga: Identitas Lima Korban Ledakan di Ruko Pakuwon City Surabaya

"Jika saat ditekan tidak kembali kekondisi semula maka bisa dikatakan kualitasnya mulai menurun," ucapnya.

Ketiga, aroma dagingnya khas sapi bukan yang beraroma amis, keempat Pilihlah daging yang tidak berair, daging yang bagus keset dan tidak mengeluarkan air.

"Pertimbangkan kandungan pada daging yang akan berpengaruh pada cita ras masakan yang akan di olah," ungkap dosen yanh juga menjadi ketua program studi (Kaprodi) S1 Gizi Unusa.

Rizki menjelaskan daging yang terinfeksi oleh penyakit mulut dan kaki tidak dapat dibedakan atau dilihat denga kasat mata. Sehingga, masyarakat untuk menghindari hal tersebut harus memahami serta tahu bagaimna cara mengolahnya, untuk mengurangi resiko dengan cara dimasak dengan baik dan benar.

Baca Juga: Ledakan di Ruko Pakuwon City, Warga: Kencang Banget Suaranya

"Cara memasaknya usahakan kondisi tangan dalam kondisi bersih, lalu jika daging tidak ingin di masak jangan dicuci, lebih baik pindahkan ke wadah yang kedap udara lalu simpan didalam freezer," Ungkapnya.

Jika akan memasak daging harus memasaknya hingga matang sempurna dengan suhu 700C dengan waktu 30 menit dan air rebusan pertama wajib dibuang baru kemudian baru diolah. Selain itu, jeroan yang ingin dikonsumsi sebaiknya direbus dengan air mendidih terlebih dahulu selama 30 menit sebelum diolah atau disimpan dalam pendingin.

"Kemasanan daging yang terkena PMK jangan langsung dibuang, namun harus direndam terlebih dahulu dengan deterjen untuk mencegah penularan virus," ucapnya.

Baca Juga: Ledakan di Ruko San Antonio Pakuwon City Surabaya, 5 Orang Luka Bakar

Dengan pengolahan yang benar, Rizki mengatakan daging tersebutbmasih dapat dikonsumsi dengan baik asalkan melewati proses yang baik dan benar.

"Jika sudaha mengkonsumsi daging jangan lupa untuk mengkonsumsi sayuran dan buah buahan," terangnya. (CIN/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Emil Audero jadi Pahlawan!

Kemenangan bersejarah Indonesia akhirnya dikunci oleh aksi gemilang Emil Audero yang menepis sepakan penalti Sayriya.

Densus 88 Antiteror Polri Sergap 11 Teroris di Indonesia saat Latihan Militansi

Saat ini, Densus 88 masih terus mendalami seluruh barang bukti yang disita untuk membongkar kemungkinan adanya keterlibatan pihak atau jaringan teror lain.

Sidang Kasus Pengeroyokan Maut Oknum Pesilat Nganjuk, Kuasa Hukum Ajukan Eksepsi

Kendati mengajukan keberatan, Asmijan menegaskan pihak penasihat hukum tetap mendukung jalannya penegakan hukum secara adil dan rasional.

HUT TNI ke-81 di Jember: Ojol hingga Mahasiswa Melebur, Bukti Kemanunggalan Rakyat

Menurut Abdus Salam, konsep peringatan yang digelar sederhana justru memperlihatkan kedekatan TNI dengan masyarakat secara nyata.

Makin Mudah, Posisi dan Jadwal Trans Jatim serta Suroboyo Bus Kini Bisa Dipantau Lewat HP

Kadishub Jatim, Nyono, menyatakan integrasi ini merupakan langkah pengembangan layanan agar masyarakat memperoleh kepastian saat menggunakan angkutan umum.

Kafe Tanpa IPAL Buang Limbah Lemak Sembarangan di Saluran Air Tunjungan Surabaya

Atas temuan ini, Hidayat mengimbau pelaku usaha di kawasan perkotaan agar tidak langsung membuang limbah yang mengandung minyak atau lemak ke saluran umum.