Rabu, 22 Jul 2026 00:44 WIB

Mudik 2022

Disebut Takut Aturan Prokes, Pemudik di Jawa Timur Enggan Naik Bus

  • Penulis : Ade Resty
  • | Sabtu, 30 Apr 2022 18:06 WIB
Suasana mudik gratis yang digelar oleh Pemprov Jatim
Suasana mudik gratis yang digelar oleh Pemprov Jatim

selalu.id - Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Timur menyebut bahwa belum ada peningkatan penumpang bus yang signifikan pada H-2 Hari Raya Idul Fitri 2022.

Wakil Ketua DPD Organda Jatim, Firmansyah Mustafa, mengatakan bahwa peningkatan yang terjadi saat ini tidak seperti sebelum pandemi Covid-19.

Baca Juga: Perkuat Konsolidasi di Jawa Timur, Ali Mufthi Pastikan Golkar Hadir Melayani Rakyat

"Biasanya peningkatan sudah mulai terasa sejak 10 hari lalu, sekarang ini baru kemarin terasa ada peningkatan, harusnya hari ini puncaknya," kata Firman, Sabtu (30/4/2022).

Tercatat peningkatan yang terjadi saat ini hanya sekitar 40 persen. Meski begitu, Firman menyampaikan, pelaku moda transportasi bus telah menyiapkan armadanya untuk momen mudik tahun ini.

"Peningkatannya itu masih bisa tercover lah, bus tidak ada kekurangan, armada masih siap, teman-teman juga di garasinya masih ada cadangan," ungkapnya.

Tidak ada kenaikan yang signifikan penumpang bus pada arus mudik 2022 ini, lanjut Firman, dikhawatirkan penumpang beralih ke angkutan umum ilegal dan mobil pribadi.

Kata dia, kekhawatiran ini muncul karena selama 2 tahun Pandemi, kebiasaan masyarakat menggunakan angkutan ilegal dan mobil pribadi masih dilakukan.

Baca Juga: Sambangi Bawean, Golkar Jatim Serap dan Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Pulau

"Setelah dua tahun ini, kebiasaan masyarakat bergeser dari yang biasanya menggunakan angkutan umum resmi, mereka beralih ke angkutan travel tidak resmi," jelas Firman.

Menurut Firman, penumpang angkutan umum sedikit terbebani dengan sejumlah persyaratan seperti tes Covid-19 dan vaksin.

"Itu yang membuat kami khawatir, mereka menganggap ada aturan itu lagi, ya sudah lebih baik memilih angkutan ilegal, atau banyak yang menggunakan kendaraan pribadi," jujurnya.

Lebih lanjut Firman menjelaskan, meski aturan tersebut tak seketat momen Idul Fitri 2 tahun lalu. Ia tetap khawatir, masyarakat menganggap akan ada razia di tengah jalan jika tidak memenuhi persyaratan tersebut.

Baca Juga: Wapres Gibran Puji Perekonomian Jatim

"PR (Pekerjaan Rumah) kami adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum," tuturnya.

Menurutnya, pemerintah harusnya tidak menerapkan kebijakan persyaratan mudik. Hal ini agar masyarakat tidak ragu menggunakan angkutan umum.

"Harusnya, sekalian saja Pemerintah tidak menerapkan persyaratan mudik," pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Pemkot Surabaya mengimbau seluruh pengurus RT dan RW untuk tetap menjaga transparansi dan melakukan pencatatan keuangan secara terbuka.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.