Senin, 20 Jul 2026 11:55 WIB

Sebut Nama Madas di Kontennya, Wawali Armuji Minta Maaf dan Tuding Peran JTV

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 06 Jan 2026 13:58 WIB
Jalannya mediasi antara Armuji dan Ormas Madas di Unitomo
Jalannya mediasi antara Armuji dan Ormas Madas di Unitomo

selalu.id – Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada organisasi masyarakat Madura Asli Sedarah (Madas) atas penyebutan nama ormas tersebut dalam sebuah pernyataan yang sempat memicu polemik dan kegaduhan publik.

Permohonan maaf itu disampaikan Armuji dalam pertemuan mediasi terbuka bersama Ketua Umum DPP Madas, Mohammad Taufik, di Universitas dr Soetomo (Unitomo) , Selasa (6/1/2026).

Baca Juga: Demi Target 250 Emas Porprov Jatim 2027, KONI Kota Surabaya Gelar Tes Narkoba

“Saya khilaf menyebut nama ormas. Saya mohon maaf. Tidak ada niat sedikit pun untuk menstigmatisasi Madas,” ujar Armuji.

Armuji menjelaskan, sidak tersebut dilakukan setelah dirinya menerima banyak laporan masyarakat. Peristiwa itu kemudian viral setelah diberitakan media dan tersebar di media sosial.

“Yang memviralkan bukan saya, tapi televisi JTV. Lalu ada telepon ke saya terus berdering, banyak laporan masuk, makanya saya datang,” jelasnya.

Ia mengakui dalam dialog yang disiarkan melalui kanal YouTube dan medsos pribadinya, sempat menyebut nama Madas ketika menanggapi pertanyaan soal oknum yang terlibat. Namun, menurutnya, penyebutan itu dilakukan secara spontan dan tidak dimaksudkan untuk menyudutkan organisasi.

“Saya khilaf, menyebut itu sekali. Bahkan saya kira logonya Madas, ternyata setelah diklarifikasi itu bukan, ternyata tulisan gong xi fa cai,”imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum Madas Mohammad Taufik menegaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak terlibat dalam peristiwa tersebut dan menolak keras stigma premanisme yang sempat dilekatkan.

“Pertama, kami atas nama Madas meminta maaf jika persoalan ini menjadi gaduh dan tidak kondusif. Tapi kami tegaskan, Madas bukan ormas preman,” tegas Taufik.

Ia menjelaskan, kejadian yang dipersoalkan terjadi pada Agustus 2025, sementara dirinya baru menjabat sebagai Ketua Umum Madas pada Oktober 2025. Berdasarkan kajian tim hukum Madas, tidak ditemukan keterlibatan organisasi dalam peristiwa tersebut.

Baca Juga: Gara-gara ini, Rumah Makan AG Ny Suharti Harus Berurusan dengan Bapenda Surabaya

“Tidak ada satu pun berita acara yang menyebut Madas. Tidak ada kejadian ormas di situ. Itu bukan kegiatan organisasi,” ujarnya.

Taufik juga mengakui bahwa salah satu individu yang disebut-sebut dalam kasus tersebut memang hadir dalam acara pelantikan, namun hal itu tidak serta-merta membuktikan keterlibatan ormas.

“Sampai hari ini saya tidak menyangka yang bersangkutan adalah anggota. Kalau memang terbukti melakukan pelanggaran hukum, kami mendukung aparat untuk memproses,” katanya.

Ia menilai, keberadaan tulisan atau logo di pakaian individu tertentu telah berkembang menjadi framing yang merugikan organisasi.

“Ini jadi gorengan. Padahal tidak ada kaitannya dengan Madas,” tambahnya.

Baca Juga: Polisi Gagalkan Tawuran Dua Kelompok Remaja di Surabaya, Amankan 7 Orang dan Sita Sajam

Taufik sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat kepolisian dan mengakhiri polemik di ruang publik.

“Kami dari awal mendukung Polda untuk menyelidiki. Kalau memang bersalah, silakan ditindak,” tegas Taufik.

Lebih lanjut Taufik atas nama pribadi dan organisasi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Madura atas stigma yang sempat berkembang.

“Semoga ini jadi pembelajaran bersama dan tidak ada lagi kesalahpahaman,” pungkasnya.

Editor : Yasin
Berita Terbaru

1 Rumah dan 3 Lapak di Dukuh Kupang Surabaya Terbakar

Berdasarkan laporan petugas, objek yang terbakar meliputi satu rumah milik Suprapti serta tiga lapak usaha.

Ratusan Guru Ikuti TPN XIII Jember, Perkuat Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Berdampak

Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Kabupaten Jember, tetapi juga dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Pasuruan dan Probolinggo.

Bupati Fawait Minta Ribuan Mahasiswa KKN Fokus Dukung Desa dan Validasi Data Kemiskinan

"Mahasiswa jangan hanya menjadi pengamat atau pemberi kritik, tetapi juga ikut menghadirkan solusi," ujar Fawait.

Api Tinggi Tampak di Area TPA Benowo Surabaya, Begini Kesaksian Pengendara

Informan bernama Amar itu menyebut bahwa ia merekam kejadian tepat saat melintasi jalan menuju gerbang tol Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya.

Hukum Pidana Tanpa Kasta: Menepis Hak Istimewa di Hadapan Hukum

Hukum tunduk pada pembuktian, bukan pada jabatan. Kewenangan negara pun dibatasi oleh UU, dan bukan oleh hierarki kekuasaan.

Bisnis Keterampilan Rajut dari Candipari, Perjalanan Ernawati Menembus Pasar Internasional

Meski telah menjangkau pasar internasional, Ernawati tetap mempertahankan prinsip yang sama sejak awal merintis usaha, yakni bekerja dengan sabar dan telaten.