Kamis, 03 Sep 2026 11:31 WIB

Badan Geologi Sebut Erupsi Semeru Hari ini Jadi Titik Kritis, Begini Penjelasannya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Rabu, 19 Nov 2025 20:20 WIB
Guguran awan panas Gunung Semeru
Guguran awan panas Gunung Semeru

selalu.id - Aktivitas Gunung Semeru melonjak selalu.id - Aktivitas Gunung Semeru melonjak drastis pada Rabu (19/11/2025). Badan Geologi Kementerian ESDM resmi menaikkan status Semeru dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada pukul 17.00 WIB setelah rangkaian awan panas terjadi beruntun tanpa jeda sejak siang hari.

Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid menyampaikan bahwa peningkatan status ini dilakukan setelah seluruh instrumen pemantauan menunjukkan adanya eskalasi aktivitas yang signifikan.

Baca Juga: ‎Gempur Rokok Ilegal, Bea Cukai Probolinggo Targetkan Penerimaan Rp1,4 Triliun

“Erupsi mulai terjadi pukul 14.13 WIB berupa awan panas beruntun. Amplitudo maksimum yang terekam mencapai 37 mm, menandakan energi erupsi yang sangat kuat. Visual puncak sempat tertutup kabut sehingga jarak luncur tidak bisa diamati,” jelas Wafid dalam laporan resminya.

Menurut Wafid, kegempaan mencatat aktivitas tinggi dari gempa letusan, gempa guguran, hingga gempa harmonik. Peningkatan paling signifikan terlihat pada gempa guguran, yang berkolerasi dengan intensitas lava pijar yang semakin sering turun ke arah Besuk Kobokan.

“Gempa-gempa ini mengindikasikan masih adanya suplai magma dari bawah permukaan, bersamaan dengan pelepasan material melalui letusan dan hembusan,” ujar Wafid.

Ia menambahkan, variasi kecepatan gelombang (dv/v) menunjukkan pola penurunan sejak pertengahan Oktober, sebagai indikator adanya peningkatan tekanan di dekat permukaan tubuh gunung api.

Meski pemantauan deformasi menunjukkan pola relatif stabil, tanda-tanda tekanan bawah permukaan itulah yang membuat Semeru dinilai memasuki fase yang lebih berbahaya.

Dengan naiknya status menjadi Level IV, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi baru terkait zona bahaya yakni tidak ada aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 km dari puncak.

Kemudian, di luar jarak tersebut, masyarakat dilarang berada dalam 500 meter sempadan sungai sepanjang Besuk Kobokan.

Lalu, seluruh aktivitas dalam radius 8 km dari kawah harus dihentikan total karena bahaya lontaran batu pijar.

“Kami mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun relawan agar mengikuti rekomendasi resmi dan tidak mendekati zona berbahaya. Aktivitas awan panas masih berlangsung hingga laporan ini dibuat,” tegas Wafid.

Hingga Rabu sore, awan panas Semeru masih muncul secara terus-menerus. Badan Geologi mengingatkan bahwa potensi erupsi susulan masih sangat mungkin terjadi.

Wafid meminta masyarakat memantau informasi resmi melalui situs Badan Geologi dan aplikasi Magma Indonesia agar tidak terjebak pada informasi simpang siur.

“Situasi berkembang cepat. Informasi resmi hanya melalui kanal Badan Geologi dan Magma Indonesia,” tutupnya. pada Rabu (19/11/2025). Badan Geologi Kementerian ESDM resmi menaikkan status Semeru dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada pukul 17.00 WIB setelah rangkaian awan panas terjadi beruntun tanpa jeda sejak siang hari.

Baca Juga: Pencuri Truk di Pabrik Gula Jatiroto Lumajang Sudah Tertangkap, Ini Tampangnya

Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid menyampaikan bahwa peningkatan status ini dilakukan setelah seluruh instrumen pemantauan menunjukkan adanya eskalasi aktivitas yang signifikan.

“Erupsi mulai terjadi pukul 14.13 WIB berupa awan panas beruntun. Amplitudo maksimum yang terekam mencapai 37 mm, menandakan energi erupsi yang sangat kuat. Visual puncak sempat tertutup kabut sehingga jarak luncur tidak bisa diamati,” jelas Wafid dalam laporan resminya.

Menurut Wafid, kegempaan mencatat aktivitas tinggi dari gempa letusan, gempa guguran, hingga gempa harmonik. Peningkatan paling signifikan terlihat pada gempa guguran, yang berkolerasi dengan intensitas lava pijar yang semakin sering turun ke arah Besuk Kobokan.

“Gempa-gempa ini mengindikasikan masih adanya suplai magma dari bawah permukaan, bersamaan dengan pelepasan material melalui letusan dan hembusan,” ujar Wafid.

Ia menambahkan, variasi kecepatan gelombang (dv/v) menunjukkan pola penurunan sejak pertengahan Oktober, sebagai indikator adanya peningkatan tekanan di dekat permukaan tubuh gunung api.

Meski pemantauan deformasi menunjukkan pola relatif stabil, tanda-tanda tekanan bawah permukaan itulah yang membuat Semeru dinilai memasuki fase yang lebih berbahaya.

Dengan naiknya status menjadi Level IV, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi baru terkait zona bahaya yakni tidak ada aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 km dari puncak.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Lereng Semeru Meluas hingga 592 Hektar, Pendakian Ditutup Total

Kemudian, di luar jarak tersebut, masyarakat dilarang berada dalam 500 meter sempadan sungai sepanjang Besuk Kobokan.

Lalu, seluruh aktivitas dalam radius 8 km dari kawah harus dihentikan total karena bahaya lontaran batu pijar.

“Kami mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun relawan agar mengikuti rekomendasi resmi dan tidak mendekati zona berbahaya. Aktivitas awan panas masih berlangsung hingga laporan ini dibuat,” tegas Wafid.

Hingga Rabu sore, awan panas Semeru masih muncul secara terus-menerus. Badan Geologi mengingatkan bahwa potensi erupsi susulan masih sangat mungkin terjadi.

Wafid meminta masyarakat memantau informasi resmi melalui situs Badan Geologi dan aplikasi Magma Indonesia agar tidak terjebak pada informasi simpang siur.

“Situasi berkembang cepat. Informasi resmi hanya melalui kanal Badan Geologi dan Magma Indonesia,” tutupnya.

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Air PDAM Bocor Rp400 Miliar, DPRD Surabaya Ungkap Praktik Pengelolaan Air Mandiri di Perumahan Elit

Hingga 28 Agustus 2026, dari total pagu anggaran mencapai Rp1,9 triliun, BPKAD baru merealisasikan anggaran sebesar Rp11 miliar.

Pengumuman Beasiswa Cinta Bergema Jember, 7.566 Mahasiswa Lolos Administrasi

Pemkab Jember nantinya hanya akan menyaring sekitar 4.200 mahasiswa sesuai batas kuota yang tersedia.

Potensi Pendapatan PDAM Hilang, DPRD Surabaya Bakal Panggil Pengelola Air Mandiri di Perumahan Elit

Machmud membeberkan, sejumlah pengelola kawasan perumahan elit memproduksi air sendiri dan menetapkan tarif secara sepihak kepada para penghuninya.

Sering Bikin Bahaya, Arus Lalu Lintas Embong Gayam dan Embong Sawo Surabaya Kini Dibalik

Selama masa uji coba, Dishub Surabaya tidak hanya memfokuskan pemantauan pada Jalan Basuki Rahmat, tetapi juga mengevaluasi kawasan sekitarnya secara berkala.

Ternyata, Ada 21 SPPG MBG di Sidoarjo Belum Berizin

Imbas keracunan massal santri, Pemkab Sidoarjo mendesak agar pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada program MBG benar-benar diperketat.

Wakapolda Metro Jaya Dekananto Eko Purwono Resmi Sandang Pangkat Irjen Pol

Salah satu keberhasilan paling menonjol saat memimpin Dinas Intelkam Polda Jatim adalah penanganan konflik antar perguruan pencak silat.