ITS Temukan Alat Pemantau Pasien Stroke Lewat Sinyal Listrik Otak
- Penulis : Ade Resty
- | Sabtu, 15 Jan 2022 10:00 WIB
selalu.id - Rehabilitasi pasien stroke kini bisa tidak lagi mengandalkan metode pengamatan visual yang membuat perkembangan fisik pasien pascastroke sulit dipantau karena kurang akuratnya pengamatan.
Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo dan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) menginovasikan alat monitoring rehabilitasi stroke dengan peninjauan sinyal listrik otak.
Baca Juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang
"Gejala stroke mampu merusak kemampuan motorik seseorang, sehingga pemantauan motorik pasien secara berkala dapat meningkatkan akurasi diagnosis," kata, Ketua tim penelitian, Adhi Dharma Wibawa
Adhi menjelaskan, kemampuan motorik itu dapat ditinjau berdasarkan sinyal listrik otak manusia atau yang dikenal dengan istilah Electro Encephalography (EEG).
"Alat dapat digunakan pasien secara mandiri dengan bantuan tenaga kesehatan dari jarak jauh, sehingga mengurangi aktivitas fisik yang dapat memperburuk kondisi pasien," tutur Adhi.
Selain itu, sinyal EEG akan muncul setiap manusia melakukan aktivitas. Adhi meyebut sinyal itu mulai dari mengingat, mendengarkan, melihat, bahkan saat menggerakkan anggota tubuh.
Maka dari itu, pasien akan diminta untuk melakukan beberapa pergerakan fisik oleh tenaga kesehatan untuk menganalisis sinyal EEG pasien.
"Pasien hanya perlu menggunakan alat di kepala, lalu elektroda yang mengenai kulit kepala akan menangkap dan menguatkan sinyal EEG," jelasnya.
Kata dia, sinyal listrik yang dihasilkan otak sendiri sangat kecil hanya berskala mikro volt, sehingga dibutuhkan penguatan sinyal dan penyaringan noise yang berulang.

Setelah dikuatkan, lanjut Adhi, sinyal EEG akan difilter berdasarkan frekuensinya dan dikelompokkan menjadi empat jenis sinyal dasar, yaitu delta, theta, alpha, dan beta.
Baca Juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin
Sinyal yang telah dikelompokkan tersebut akan difilter sekali lagi untuk menghilangkan noise yang timbul.
"Alat sangat sensitif terhadap noise bahkan dengan kedipan mata saja dapat mempengaruhi hasil," ujarnya.
Lebih lanjut Adhi menerangkan, sinyal EEG yang telah difilter ini akan dihitung nilai daya yang ada dalam sinyal sebagai fungsi frekuensi.
Nilai ini disebut dengan Power Spectral Density (PSD) yang dinyatakan dalam watt per hertz (W/Hz). Dalam kondisi normal, nilai PSD pada otak kanan akan meningkat bila terjadi pergerakan di tubuh bagian kiri begitu pun sebaliknya.
"Pada pasien stroke kondisi tersebut dimungkinkan terjadi perubahan abnormal. Nilai PSD pasien stroke lebih kecil dibandigkan dengan kondisi orang normal," tuturnya.
Alat itu juga, kata Adhi, perlu disambungkan terlebih dahulu ke perangkat komputer melalui port yang tersedia saat pemakaian alat.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Gagal Menang atas Dewa United
"Hal ini dimaksudkan untuk membaca nilai PSD secara real time serta mengkonversikan hasil perekaman EEG ke dalam bentuk txt yang akan tersimpan di komputer milik pasien," ucapnya.
Sementara itu, Adhi menjelaskan bahwa berkas tersebut selanjutnya perlu diunggah ke sistem terintegrasi yang telah disediakan, sehingga penting bagi pasien melakukan registrasi terlebih dahulu.
Database pasien ini akan ditinjau langsung oleh dokter yang bertanggung jawab tanpa harus bertemu langsung
"Perkembangan pasien dapat dilihat berdasarkan nilai PSD-nya melalui data yang diunggah pasien," terangnya.
"Kami berharap bahwa alat ini dapat segera mendapat izin untuk digunakan secara masal dan membawa manfaat bagi masyarakat," imbuhnya. (Ade/SL1)
Editor : RedaksiURL : https://selalu.id/news-932-its-temukan-alat-pemantau-pasien-stroke-lewat-sinyal-listrik-otak
