Senin, 15 Jul 2024 02:26 WIB

Industri Pengolahan Jatim jadi Penyumbang Perekonomian Terbesar di Pulau Jawa

Foto: Pj. Adhy Karyono

Foto: Pj. Adhy Karyono

selalu.id - Terkait pembangunan ekonomi di Provinsi Jawa Timur, Pj. Gubernur Jatim, Adhy Karyono menyebut bahwa Jawa Timur sendiri terus mengalami pertumbuhan yang positif, dimana kinerja pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan I tahun 2024 tumbuh sebesar 4,81 persen secara year-on-year (yoy).

"Angka pertumbuhan ekonomi ini sekaligus menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di pulau Jawa dengan kontribusi 25,07 persen," katanya kepada selalu.id, Jumat (21/6/2024).

Adhy menguraikan, kinerja perekonomian Jawa Timur didominasi oleh kontribusi industri pengolahan sebesar 31,54 persen, diikuti sektor perdagangan sebesar 19,01 persen, dan disusul sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 9,71 persen.

Di sisi lain, Adhy juga menyampaikan bahwa pada triwulan I tahun 2024, capaian realisasi investasi Jatim mencapai Rp36,2 triliun atau sebesar 36,2 persen dari target yang sudah ditetapkan. Secara y-o-y angka tersebut meningkat 20,7 persen dibanding triwulan I 2023 sebesar 30 persen.
Capaian triwulan I 2024 tersebut terbagi pada kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 20,1 persen atau senilai Rp20,1 trilliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar 16,1 persen atau senilai Rp16,1 trilliun.

"Capaian PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jatim Tahun 2023 berhasil memberikan kontribusi sebesar 14,22 persen terhadap pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia dan berkontribusi sebesar 24,99 persen terhadap PDRB Pulau Jawa," ungkapnya.

Sedangkan terkait kemiskinan, lanjut Adhy, Jawa Timur telah berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem sebanyak 3,58 persen.  Dimana pada tahun 2020 kemiskinan ekstrem di Jawa Timur berada pada angka 4,4 persen, dan pada Maret 2023 turun drastis menjadi 0,82 persen.

“Alhamdulillah, capaian dan penurunan kemiskinan ekstrem di Jatim pada tahun 2023 lebih baik dari capaian secara nasional, kita terus berupaya maksimal di tahun 2024 ini Jawa Timur untuk kemiskinan ekstrem bisa mencapai 0 persen,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa juga menyampaikan, saat kolaborasi pemanfaatan sistem data Regsosek ini sebagai aktualisasi dari arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam pelaksanaan Reformasi perlindungan sosial.

"Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat memperbaiki basis data penerima manfaat atas belanja-belanja sosial yang dialokasikan pada APBN. Sehingga dengan adanya data Regsosek ini, mudah-mudahan kita bisa mengatasi kemiskinan ekstrem dan kemiskinan pada umumnya," paparnya, Kamis (20/6/2024) kemarin.

Lebih lanjut, Menteri Suharso mengatakan bahwa tahun 2025 merupakan awal dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 20 tahun kedua, yakni tahun 2025 sampai tahun 2045, dimana tahun 2045 adalah tahun yang menjadi target mewujudkan Indonesia Emas.

"Tahun 2045 merupakan tahun menjemput 100 tahun Indonesia merdeka, dengan target sasaran pembangunan yang terdiskripsikan sedemikian rupa agar kita menjadi negara dan bangsa yang benar-benar mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia yang lebih luas," tandasnya.

Baca Juga: Pj. Gubernur Jatim Ajak Bapanas Jaga Ketahanan dan Kesehatan Pangan

Editor : Ading