Rabu, 22 Jul 2026 02:21 WIB

Penantian 18 Tahun! Akhirnya Lahir Anak Singa di KBS, Bima dan Dona

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 30 Mei 2023 12:57 WIB
Dona dan Bima saat dipamerkan di KBS
Dona dan Bima saat dipamerkan di KBS

Selalu.id - Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS) pamerkan dua ekor bayi singa yang baru lahir pada April 2023 lalu diberi nama Bima berjenis laki-laki dan Dona berjenis perempuan.

"Ahamdullilah pada April pertengahan akhir ini kado untuk Idul Fitri. Lahir lah dua anak singa satu jantan dan satu betina dari indukan bernama Seruni dan penjantan Upin," kata Direktur Operasional, Nurika Widiasanti di KBS, Selasa (29/5/2023).

Baca Juga: KBS Bakal Masuk Penataan Besar, Wali Kota Eri Siapkan Satwa Rahasia dari Jepang

Nurika mengungkapkan pihaknya sudah lama merindukan kelahiran raja hutan asal Afrika setelah 18 tahun lamanya. Sebelumnya, kata dia, KBS bekerjasama dengan Jatim Park mendatangkan sepasang ekor singa pada akhir November 2022 lalu. Hal ini menjadi harapan KBS untuk bisa mengembangbiakan satwa liar.

"Dengan sistem pinjaman satwa ke (Jatim Park). Ini kesempatan besar untuk KBS dalam pengembangbiakan satwa liar ini," kata Nurika, saat ditemui Selalu.id, di KBS, Selasa (29/5/2023).

Dengan mengembangbiakan sepasang raja hutan tersebut, pihaknya melakukan perawatan khusus dengan hati-hati, sabar dan telaten.

"Selama 18 tahun, baru ini ada anak singa lagi. Makanya kami sangat berhati hati, kan sayang susah untuk didapatkan," ungkapnya.

Terkait perawatannya, kata dia, pihaknya selalu mengeluarkan di pagi hari diantara pukul 08.00-09.00 WIB untuk dijemur agar terkena matahari.

Baca Juga: Info Rek! Parkir Kebun Binatang Surabaya Bakal Seperti Gerbang Tol Lho..

"Setiap jam 8 dan 9 ini kita keluarkan untuk kita jemur sekaligus kita cek untuk perkembangan Bima dan Dona," jelasnya

Selebihnya, dua ekor bayi singa itu lebih bagus dirawat oleh induknya sendiri. Pihaknya sendiri dari tim perawat satwa hanya melakukan pengawasan atau siaga untuk induknya.

"Bagaimana pun juga satwa seperti manusia. Lebih bagus kalau dirawat oleh induknya, jadi tetap susu murni dari induknya," tuturnya.

Baca Juga: Kebun Binatang Surabaya Membludak saat Libur Lebaran, Ini yang Jadi Favorit Anak-anak

Lebih lanjut Nurika menyampaikan untuk perawatan khusus, misalnya untuk menggendonag atau memindahkan dua ekor bayi singa itu harus memakai perlengkapan khusus, seperti sarung tangan dan di lap kembali.

Hal itu dilakukan agar induknya tidak suka mencium bau manusia. Sebab, dapat menyebabkan induknya tidak menyusui anaknya.

"Kalau itu sudah bau manusia itu gak mau nyusu lagi. Jadi teman-teman tadi gendong nanti balik sudah lap lagi. Supaya gak bau manusia. Susu paling baik dari induknya kan," pungkasnya. (Ade/Adg)

Editor : Ading
Berita Terbaru

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Pemkot Surabaya mengimbau seluruh pengurus RT dan RW untuk tetap menjaga transparansi dan melakukan pencatatan keuangan secara terbuka.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.