Enam Film Ini Cocok Ditonton Saat Ramadan, Perkaya Perspektif Tentang Hidup
- Penulis : Ade Resty
- | Senin, 27 Mar 2023 16:30 WIB
Selalu.id - Bulan Ramadan menjadi salah satu waktu terbaik untuk mencari, menemukan dan memahami lebih dekat perihal kehidupan dan relasi-relasi yang terjalin antar manusia dengan semestanya, termasuk bagaimana manusia mempercayai sesuatu yang lebih besar dari dirinya, Tuhan dan alam.
Mengkaji kehidupan seperti itupun bisa dilakukan dengan menonton film dan film-film religi mungkin bisa menjadi satu medianya. Tapi, penonton religius bukanlah satu-satunya penonton yang menjadi sasaran sebagian besar film religi. Sama seperti orang yang menganut satu agama dan tetap dapat menikmati film yang tidak memiliki konteks keagamaan sama sekali, demikian juga penonton yang tidak mempraktikkan agama pun dapat menemukan nilai hiburan dan kepuasan emosional dari film tentang agama.
Dengan demikian, terlepas film itu memiliki muatan keagamaan atau tidak, film sebagai karya seni tetap memiliki satu preposisi netral untuk dinonton, dibaca dan dikaji sebagai medium yang mewadahi seperangkat set penalaran dengan kemasannya yang estetik. Untuk itu, Selalu.id mengkurasi beberapa film yang menampilkan agama sebagai tema utama, menampilkan cerita religius, menampilkan karakter yang dominan religius, atau situasi-situasi dimana karakternya secara mendalam memikirkan tentang kehidupan.
Terlepas dari kepercayaan seseorang atas suatu agama dan ketuhanan tertentu, film-film ini mampu menginspirasi mereka yang religius atau bahkan tidak religius sama sekali untuk menemukan makna kehidupannya di dunia ini, dengan suguhan cerita yang dikemas apik dan adegan emosional untuk menggelitik manusia berpikir tentang religusitas dan spiritualitasnya.
MOTHER! (2017)
Mother
Film besutan sutradara Darren Aronofsky ini jika dilihat sekilas tidak terasa seperti film yang menceritakan tentang agama tertentu. Sepanjang film, penontonnya disuguhi skena yang lebih mirip dengan mimpi buruk yang tegang dan memusingkan. Film berkisah di sebuah rumah yang mana karakter utamanya kemudian dibingungkan dengan orang-orang yang terus saja muncul dan mengajak untuk pergi.
Mungkin dibutuhkan kesanggupan lebih untuk menonton film ini karena beberapa dari kita mungkin butuh menontonnya berulang kali agar benar-benar memahami apa maksud cerita yang disuguhkan Darren Aronofsky dalam film ini. Film ini pun lebih cenderung mirip dengan film horor psikologis tapi kajian lebih dalam mungkin bisa ditemukan satu tarikan pemaknaan dari rangkaian alegori-alegori pada skena peristiwa yang konteksnya dekat dengan bagaimana manusia diciptakan dalam perspektif filosofis religius kritis, dan tentu saja jika penontonnya menginginkannya.
THE TREE of LIFE (2011)
The Tree of Life
Terrence Malick mengeksplorasi keyakinan dengan cara yang unik dan menghipnotis dalam The Tree of Life. Terrence Malick memadukan drama keluarga yang intim dengan kisah epik tentang kelahiran alam semesta dan meramu semuanya dengan visual yang spektakuler.
Meski menampilkan visual yang memukau, film ini underrated mungkin karena ia termasuk dalam kategori film yang susah dimengerti. Hal ini disebabkan karena skena yang dikomposisikan oleh Terrence Malick cukup mampu membawa penontonnya dalam perjalanan yang bergelombang. The Tree of Life memiliki ritme yang tidak biasa, beberapa pengulangan adegan cukup sanggup untuk membuat penontonnya merasa frustrasi.
Tokoh-tokoh yang ditampilkan memiliki kerumitan pembabakan dan bagaimana pemaknaannya seakan benar-benar dilimpahkan begitu saja pada interpretasi pribadi masing-masing penonton. Namun, cara sutradara sekaligus penulis naskah dan produser asal Amerika ini, dalam mengeksplorasi makna kehidupan dan keberadaan umat manusia terasa sangat spiritual, dan ini juga dilakukan dengan cara yang tidak mendiskriminasi penonton yang mungkin tidak terlalu spiritual.
NOAH (2014)
Noah
Tiga tahun sebelum Mother!, Aronofsky membuat film yang berjudul Nuh yang kisahnya diambil dari salah satu nabi yang dipercayai oleh penganut agama-agama samawi, dengan kisah yang sudah dikenal tentang dunia yang dihancurkan oleh banjir, Nuh dan keluarganya dengan banyak hewan bertahan hidup di bahteranya.
Film ini menjadi menarik karena Aronofsky mengambil pendekatan yang unik dan hampir mengubahnya menjadi film epik bergaya Lord of the Rings, karena ada banyak efek khusus, beberapa urutan pertempuran, dan bahkan beberapa monster batu yang disuarakan oleh Nick Nolte secara misterius. Ini adalah tontonan film religus yang aneh tapi cukup memukau dan memperluas sudut pandang penontonnya tentang kisah nabi-nabi, dengan keberanian dan gaya uniknya yang dikomunikasikan dengan jelas kepada penonton, baik yang religius maupun agnostik.
A SEPARATION (2011)
A Separation
Asghar Farhadi adalah maestro dalam menyuguhkan satu karya seni yang berangkat dari masalah-masalah personal yang intim. Salah satu filmnya yang memukau adalah A Separation. Berkisah tentang satu keluarga kecil Iran yang menghadapi sebuah perceraian, film ini hadir dalam kemasan sinematik yang sederhana dan sentuhan realisme yang sudah lama ditingalkan oleh para sineas saat itu.
Dialognya realis dengan fokus-fokus sorotan pada adegan gerak tubuh kecil seperti sorot mata atau gemetar tangan yang cukup mampu membawa penontonnya merasakan emosi tiap karakter yang dihadirkan secara nyata seperti keadaan yang bisa dirasakan dalam realita masing-masing penontonnya.
Film ini menunjukkan gambaran umum bagaimana keluarga kelas bawah Iran, lengkap dengan representasi perempuan tradisional Iran dengan chador-nya dan ketaatannya pada suami dan agama. A Separation dengan segala cerita yang ditawarkan tetap menyajikan bagaimana religiusitas dihadapkan pada kenyataan dan realitas yang harus dihadapi.
PERSEPOLIS (2006)
Persepolis
Film biografi animasi Prancis-Iran ini harus dimasukkan dalam list kali ini. Film ini diadaptasi dari komik dan novel karya Marjane Satrapi dengan judul yang sama. Film yang kemudian disutradari sendiri oleh Satrapi dan berkolaborasi dengan Vincent Paronnaud ini berkisah tentang bagaimana gadis Iran melihat politik agama di negaranya.
Satrapi tumbuh pada lingkungan dimana agama menjadi rezim yang secara ketat menentukan setiap aspek kehidupan dan pemikiran sedangkan orang tuanya berbicara tentang materialisme dialektik, membuat Satrapi mempertanyakan banyak hal tentang kehidupan yang esensial dan fundamental. Membuat Satrapi kecil ingin menjadi nabi dan berlindung kepada Tuhan yang dia temukan dari semua buku yang dia baca. Ia yang begitu imajinatif dan absurd berkhayal berbincang dengan Tuhan yang dicitrakan berwajah Karl Marx. Menarik bukan?
SILENCE (2016)
Silence
Giliran film dari Martin Scorsese yang gaungnya mungkin jarang terdengar. Tapi film ini cocok untuk mengisi waktu untuk berkontemplasi. Ini adalah film epik yang berlangsung selama hampir tiga jam, yang mengisahkan dua pendeta Yesuit melakukan perjalanan ke Jepang untuk mencari mentor mereka.
Film ini lambat dan meditatif, tetapi mengasyikkan karena secara konsisten berhasil menjadi pandangan yang seimbang dan introspektif tentang apa yang mendorong orang-orang yang mengabdikan hidup mereka pada keyakinan tertentu. Film ini adalah salah satu film terbaik yang berfokus pada agama di abad ke-21 sejauh ini, dengan guliran penalaran yang sangat bijaksana dan sangat berdampak dalam filmografi Scorsese yang luas.
Nah, itulah enam film hasil Kurasi Film Selalu.id yang kiranya bisa ditonton untuk setidaknya membawa kita lebih lebih dekat memahami kehidupan dan segala kaitannya dengan hal-hal di luar kita dalam konteks bagaimana kita membaca religiustias dari berbagai sudut pandang yang ditawarkan dalam film.
Selamat menonton. (Adg)
