Ketika Persebaya Mengunci Drama, Menemukan Mahkota di Gianyar Bali
- Penulis : Zain Ahmad
- | Sabtu, 08 Agu 2026 20:45 WIB
selalu.id - Malam di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8/2026), tidak pernah benar-benar menjadi malam yang tenang.
Di bawah sorot lampu stadion yang benderang menembus kelembapan udara pesisir, puluhan ribu pasang mata tertahan pada satu titik: titik putih di tengah kotak penalti.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Juara Piala Presiden 2026
Ketika peluit panjang 120 menit menguap bersama keringat yang membasahi rumput, takdir turnamen pramusim paling bergengsi di Tanah Air, Piala Presiden 2026, tak lagi ditentukan oleh taktik atau susunan formasi.
Ia dipasrahkan pada ketenangan mental, benturan syaraf, dan sepetik keberuntungan dalam drama adu penalti.
Di sanalah, Persebaya Surabaya mengukir sejarah barunya. Sebuah penantian panjang yang ditutup dengan cara yang paling membuat jantung berdegup kencang: menaklukkan sang rival abadi, Persib Bandung, lewat adu penalti berdarah dingin 6-5, setelah skor 1-1 bertahan hingga batas akhir waktu perpanjangan.
Menit-Menit yang Membakar
Partai puncak yang mempertemukan dua kiblat sepak bola Indonesia ini sejatinya telah menyajikan intensitas tinggi sejak ketukan pertama.
Tak ada waktu untuk meraba kekuatan. Persebaya dan Persib saling melempar ancaman melalui jual-beli serangan yang sporadis namun mematikan.
Atmosfer meledak lebih dulu di kubu Bajul Ijo-julukan Persebaya pada menit ke-20. Berdiri di celah sempit barisan pertahanan Maung Bandung, Ramadhan Sananta membuktikan mengapa ia selalu menjadi momok di kotak penalti.
Memanifestasikan ketajamannya sebagai juru gedor utama, Sananta melepas tembakan terukur yang membobol gawang Persib. Skor 1-0 untuk Persebaya, dan gelombang euforia meluap di bangku cadangan Bajul Ijo.
Namun, kebanggaan itu berusia sangat pendek. Hanya berselang empat menit, Persib menyengat balik.
Memanfaatkan situasi bola mati di menit ke-24, bek tangguh asal Argentina, Patricio Matricardi, melompat melintasi gravitasi.
Tandukan dinginnya merobek jaring Persebaya, merubah papan skor menjadi 1-1 dan mengembalikan tensi laga ke titik didih tertinggi.
Benturan Taktik dan Tembok Pertahanan
Sejak gol balasan Matricardi, pertandingan berubah menjadi adu ketahanan fisik dan adu intrik taktik.
Selebrasi kemenangan dari para pemain hingga staf pelatih Persebaya Surabaya usai berhasil keluar sebagai juara di Piala Presiden 2026. (Dok. Official Persebaya Surabaya for selalu.id).
Anak-anak asuh Igor Tolic memilih bermain lebih pragmatis, menunggu momentum lewat skema serangan balik kilat. Di sisi lain, Persebaya merespons dengan tekanan agresif di garis tinggi.
Baca Juga: Pentolan Bonek Andie Peci Berpulang
Masuk interval babak kedua hingga extra time 2x15 menit, duel-duel fisik antar pemain makin tak terelakkan.
Benturan keras, tekel penyelamat, hingga ketangguhan kiper di kedua lini menjadi benteng terakhir yang menggagalkan deretan peluang emas.
Skor 1-1 terkunci rapat, memaksa kedua kubu menyerahkan nasib pada panggung paling kejam dalam sepak bola: titik 12 pas.
Enam Eksekusi Berdarah Dingin
Babak adu penalti adalah ruang sunyi di mana sorak-sorai penonton berubah menjadi doa bersisip kecemasan.
Dalam momen yang sanggup meruntuhkan mental pemain berpengalaman sekalipun, para algojo Persebaya tampil dingin bagai algojo profesional.
Satu per satu, enam eksekutor Bajul Ijo melangkah menuju bola, mengesampingkan beban ribuan pasang mata, dan menyarangkan bola ke dalam jaring tanpa celah.
Sebaliknya, Persib harus menyaksikan impian mengangkat trofi pupus tragis ketika salah satu tendangan mereka gagal berbuah gol, mengunci skor adu penalti di angka 6-5.
Ketika bola terakhir Persebaya menggetarkan jaring, suasananya pecah. Bajul Ijo resmi mengangkat trofi Piala Presiden 2026. Sementara bagi Persib Bandung, malam di Gianyar harus diakhiri dengan kepala tegak namun hati yang getir sebagai runner-up.
Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun Berujung Nyawa
Mengakhiri Dahaga 22 Tahun
Piala Presiden 2026 mungkin hanyalah panggung pramusim, tetapi bagi sang juru taktik Bernardo Tavares, kemenangan Persebaya malam itu adalah pernyataan tegas tentang keberanian dan kekompakan di bawah tekanan ekstrem adalah resep sejati sang juara.
Euforia pemain hingga staf pelatih Persebaya Surabaya usai berhasil keluar sebagai juara di Piala Presiden 2026. (Dok. Official Persebaya Surabaya for selalu.id).
"Sebenarnya saya punya pengalaman buruk di adu penalti, tapi hari ini saya sangat senang. Kami memiliki lebih banyak kesempatan daripada tim lawan," kata pelatih asal Portugal tersebut usai laga.
Tavares juga menyinggung ketatnya jadwal yang membuat intensitas laga final tak melambung tinggi.
"Persib bermain di sore hari saat semifinal, sedangkan kami bermain malam. Jadi waktu pemulihan kami jelas lebih sedikit dibanding mereka," tambah Tavares.
Meski sempat kecolongan gol, rasa bangga Tavares tak terbendung. Melakoni musim pertamanya, ia sukses menyumbangkan trofi pertama bagi Green Force sekaligus mengakhiri dahaga gelar besar klub yang membayang selama lebih dari dua dekade.
"Kami meraih trofi Piala Presiden pertama untuk Persebaya. Dan penantian 22 tahun tanpa trofi besar, sejarah buruk itu resmi terhenti malam ini," pungkas Tavares dengan senyum mengembang.
Editor : Arif ArdiantoURL : https://selalu.id/news-14992-ketika-persebaya-mengunci-drama-menemukan-mahkota-di-gianyar-bali
