Sabtu, 28 Feb 2026 15:35 WIB

Merawat Ingatan dari Rumah Radio Bung Tomo yang Dirobohkan

  • Penulis : Tim Selalu
  • | Sabtu, 28 Feb 2026 11:50 WIB
Warsito, Ketua Paguyuban Arek Suroboyo Ngobrol & Olah Pikir (PAS Ngopi).
Warsito, Ketua Paguyuban Arek Suroboyo Ngobrol & Olah Pikir (PAS Ngopi).

Opini - “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Pekik itu bukan sekadar gema masa lalu. Ia adalah denyut keberanian yang pernah menggetarkan Surabaya. Dari sebuah rumah sederhana di Jalan Mawar No. 10, suara Bung Tomo mengalir melalui gelombang radio, membakar semangat rakyat dalam pusaran Pertempuran Surabaya. Di ruang itulah kata-kata berubah menjadi nyali, dan nyali menjelma menjadi perlawanan.

Bung Tomo tidak mengangkat senapan. Ia mengangkat kesadaran. Ia memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya soal strategi militer, tetapi soal keyakinan kolektif. Radio menjadi medium pembentuk identitas, penyatu ketakutan menjadi keberanian. Dari rumah itu, rakyat kecil merasa memiliki republik.

Baca Juga: Surabaya Maritime Arts Dome: Bentangan Rumah Peradaban Surabaya

Kini rumah itu telah hilang. Rata dengan tanah. Di atasnya berdiri aktivitas usaha milik Jayanata. Fakta ini bukan sekadar perubahan fungsi lahan. Sebagaimana kami tegaskan dalam pernyataan sikap Paguyuban Arek Suroboyo Ngobrol & Olah Pikir (PAS Ngopi), pada 26 Februari 2026. ini adalah penghapusan jejak memori kolektif. Sebuah ironi di Kota Pahlawan.

Kami memandang hilangnya Rumah Radio Bung Tomo sebagai kelalaian serius dalam perlindungan situs sejarah perjuangan bangsa. Komersialisasi ruang historis tanpa narasi pelestarian, adalah pemutusan ingatan generasi muda terhadap akar keberanian bangsanya. 

Surabaya tidak boleh kehilangan titik-titik memori yang menjadi fondasi identitasnya.
Dalam konteks ini, saya teringat pemikiran Pramoedya Ananta Toer, yang mengingatkan bahwa bangsa yang kehilangan sejarahnya akan kehilangan keberanian berpikir. Pram percaya bahwa sejarah adalah cermin, dan tanpa cermin, manusia mudah kehilangan wajahnya sendiri. Menghapus jejak sejarah berarti mengaburkan arah masa depan.

Refleksi serupa juga disampaikan oleh Buya Hamka. Ia menekankan bahwa sejarah adalah guru kehidupan. Dalam banyak tulisannya, Buya Hamka mengingatkan bahwa umat yang tidak mau belajar dari perjalanan masa lalunya akan terjebak mengulang kesalahan yang sama. Sejarah, bagi Hamka, bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan sumber hikmah dan pembentuk akhlak bangsa. Tanpa kesadaran sejarah, pembangunan akan kehilangan nilai, dan kemajuan akan kehilangan arah moralnya.

Di sinilah persoalan Rumah Radio Bung Tomo menjadi lebih dari sekadar soal bangunan. Ia menyangkut karakter kota. Apakah kita ingin Surabaya tumbuh tinggi secara fisik, tetapi dangkal secara historis? Apakah nasionalisme cukup diperingati lewat seremoni 10 November, sementara lokasi yang melahirkan semangat itu lenyap tanpa memorial?

Baca Juga: Kebocoran Data Mahasiswa, Bom Waktu di Dunia Pendidikan

Kami tidak menolak pembangunan. Kami tidak anti-investasi. Kami menolak pembangunan yang menegasikan sejarah. Sebagaimana kami nyatakan, kemajuan tanpa memori adalah kemajuan yang rapuh. Modernitas seharusnya berdialog dengan sejarah, bukan menghapusnya.

Karena itu, sikap kami bukan sekadar keluhan, melainkan seruan konstruktif;

  • Kami mendorong audit sejarah dan kebijakan atas hilangnya situs tersebut . Kami menyerukan penetapan resmi Jalan Mawar No. 10 sebagai titik cagar memori perjuangan, meskipun bangunan fisiknya telah tiada.
  • Kami mengusulkan pembangunan penanda sejarah yang layak dan bermartabat—bahkan replikasi rumah radio beserta tetengernya—agar generasi mendatang memiliki ruang belajar kebangsaan.
  • Kami juga mengusulkan dibuatnya patung Bung Tomo di fasilitas publik sekitar Jalan Mawar sebagai pengingat visual bahwa di tanah itu pernah berdiri keberanian.
  • Lebih jauh, kami menuntut pelibatan komunitas sejarah dan masyarakat sipil dalam setiap kebijakan tata ruang yang menyentuh situs perjuangan. Sejarah bukan milik segelintir pejabat atau investor. Ia milik warga.

Pernyataan sikap itu kami bacakan di Taman Bungkul, depan Pesarean Sunan Bungkul, sebagai simbol bahwa refleksi sejarah harus dilakukan di ruang publik, di tengah masyarakat. Di sana kami menyadari bahwa menjaga ingatan adalah bentuk tanggung jawab moral.

Baca Juga: Ketika Candaan Menjadi Kekerasan: Literasi Komunikasi untuk Menghentikan Bullying

Jika dahulu suara radio Bung Tomo mengguncang penjajah, maka hari ini suara nurani warga Surabaya harus menggugah kesadaran pengambil kebijakan. Kita tidak sedang melawan investasi. Kita sedang melawan amnesia. Surabaya tidak boleh amnesia. Sebab ketika ingatan dirobohkan, yang runtuh bukan hanya bangunan—tetapi kesadaran dan karakter kita sebagai bangsa.

 

Oleh: Warsito (Cak War)
Ketua Paguyuban Arek Suroboyo Ngobrol & Olah Pikir (PAS Ngopi) – Majelis Ngopi Maneh Suroboyo

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Ecoton Digandeng SD Muhammadiyah 3 Ikrom Gelar Ramadhan Ramah Lingkungan

Koordinator Zero Waste Cities Ecotonmenjelaskan bahwa sampah organik mendominasi hingga 40-60?ri total sampah di daerah ini.

Tanggapi Moratorium Pendirian Indomaret dan Alfamart, Apindo: Baru Wacana Pak Menteri Saja

Organisasi pengusaha itu menilai, hingga kini belum ada regulasi resmi yang mengatur moratorium tersebut.

Mirip Kapal Pesiar, Masjid Ar Rahman di Mojokerto Miliki Filosofi Mendalam

Tak hanya luar, bagian dalam juga diberi desain layaknya kapal yang lengkap dengan kompas, alat kemudi kapal hingga jangkar.

Tasyakuran HUT Ke-52, SIER Tegaskan Komitmen Naik Kelas dan Berkelanjutan

Rizka menegaskan bahwa usia 52 tahun menjadi pijakan penting bagi SIER untuk terus naik kelas.

Upaya Gerakkan UMKM, Walikota Mojokerto Ning Ita Buka Pasar Takjil Ramadan 1447 H

Selain menjadi pusat kuliner Ramadan, Pasar Takjil Ketidur juga menjadi wadah kreasi seni masyarakat.

DPRD Jatim Bagikan Ribuan Paket Takjil saat Hujan Deras di Surabaya

Ali Kuncoro mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tujuh agenda sosial dan keagamaan rutin yang disusun setiap tahun di bulan suci Ramadan.