Rabu, 29 Jul 2026 16:17 WIB

Pinjam Uang, Kok Rumah Hilang? Ketika Utang Disamarkan Menjadi Jual Beli Rumah 

  • Penulis : selalu.id
  • | Minggu, 14 Jun 2026 13:24 WIB
Krisdiyansari KR, S.H., M.H. | Advokat dan Konsultan Hukum ATHENA & Partners 
Krisdiyansari KR, S.H., M.H. | Advokat dan Konsultan Hukum ATHENA & Partners 

selalu.id | OPINI - Dalam praktik sebagai advokat, saya kerap menerima konsultasi dari masyarakat yang menghadapi persoalan serupa.

Mereka datang dengan keyakinan bahwa dahulu hanya melakukan pinjaman uang 
dengan menjaminkan rumah. Namun ketika masalah muncul, mereka justru 
dihadapkan pada dokumen yang menunjukkan seolah-olah rumah tersebut telah 
dijual kepada pihak pemberi pinjaman.

Baca Juga: Diperas, Kehilangan Kerja dan Foto Syurnya Tersebar: Ibu di Sidoarjo Awalnya Hanya Pinjam Rp200 Ribu

Kondisi inilah yang sering menimbulkan pertanyaan: “Bagaimana mungkin utang berubah menjadi jual beli?”

Jawabannya adalah karena adanya praktik yang dalam ilmu hukum sering disebut sebagai penyelundupan hukum.

Ketika Bentuk Perjanjian Berbeda dengan Tujuan Sebenarnya

Pada dasarnya, hukum tidak hanya melihat apa yang tertulis dalam suatu dokumen, 
tetapi juga melihat apa tujuan sebenarnya dari para pihak. Sering kali seseorang membutuhkan dana cepat. Pemberi pinjaman kemudian menawarkan pinjaman dengan jaminan rumah.

Namun alih-alih membuat perjanjian utang piutang dan pengikatan jaminan yang 
benar, pihak pemberi pinjaman justru meminta dibuatkan Akta Jual Beli, kuasa 
menjual, atau pengalihan hak atas rumah.

Di atas kertas tampak seperti transaksi jual beli. Padahal kenyataannya tidak pernah ada maksud menjual rumah. Yang ada hanyalah hubungan utang piutang. Di sinilah letak persoalan hukumnya.

Mengapa Cara Ini Berbahaya?

Karena begitu dokumen jual beli ditandatangani, posisi hukum pemilik rumah 
menjadi sangat lemah. Ketika terjadi sengketa, pemberi pinjaman sering berargumentasi bahwa rumah tersebut telah dibeli secara sah.

Padahal nilai rumah yang dialihkan sering kali jauh lebih tinggi dibanding jumlah uang yang dipinjam.Tidak jarang rumah bernilai miliaran rupiah "berpindah tangan" hanya karena utang beberapa ratus juta rupiah. 

Apa Kata Hukum?

Dalam berbagai putusan pengadilan, hakim tidak hanya melihat judul dokumen, 
tetapi juga memeriksa substansi hubungan hukum para pihak.

Baca Juga: Beli Daihatsu GrandMax Berujung Petaka, Warga Surabaya Tertipu Sales Gadungan Ratusan Juta

Apabila terbukti bahwa transaksi tersebut sebenarnya adalah utang piutang yang 
disamarkan sebagai jual beli, maka hakim dapat menyatakan bahwa perjanjian 
tersebut mengandung cacat hukum.

Hukum Indonesia pada prinsipnya tidak membenarkan penggunaan perjanjian jual 
beli untuk menghindari ketentuan hukum mengenai jaminan utang. Karena itu, apabila terbukti bahwa jual beli hanya digunakan sebagai kedok untuk mengamankan pinjaman, maka perjanjian tersebut dapat dipersoalkan secara hukum. 

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Masyarakat perlu berhati-hati apabila menemukan kondisi berikut:

 Ada pinjaman uang tetapi diminta menandatangani Akta Jual Beli. 
 Harga jual dalam akta sama dengan jumlah pinjaman. 
 Rumah tetap ditempati oleh pemilik lama. 
 Tidak pernah ada proses tawar-menawar sebagaimana jual beli normal. 
 Terdapat janji bahwa rumah akan dikembalikan setelah utang dilunasi. 
 Dibuat kuasa menjual yang tidak dapat dicabut.

Apabila ciri-ciri tersebut muncul bersamaan, maka patut diduga bahwa hubungan 
hukum yang sebenarnya bukanlah jual beli, melainkan utang piutang dengan jaminan rumah.

Baca Juga: Polres Gresik Ungkap Tersangka Penipuan PPPK, Modus Janjikan Lolos ASN

Jangan Korbankan Rumah Karena Tidak Memahami Dokumen

Banyak orang merasa aman karena beranggapan pihak yang memberikan pinjaman 
adalah teman, kerabat, atau kenalan lama. Namun sengketa hukum hampir selalu bermula dari satu hal yang sama: dokumen ditandatangani tanpa dipahami sepenuhnya.

Dalam hukum perdata, tanda tangan bukan sekadar formalitas. Tanda tangan adalah persetujuan. Dan persetujuan dapat menentukan nasib aset yang dikumpulkan seseorang selama puluhan tahun.

Karena itu, sebelum menandatangani dokumen apa pun yang berkaitan dengan tanah, rumah, atau aset bernilai tinggi, pastikan memahami hakikat transaksi yang sebenarnya. 
Jangan sampai niat meminjam uang berakhir dengan kehilangan rumah.

Sebab dalam banyak perkara yang sampai ke pengadilan, masalahnya bukan karena 
orang tersebut tidak memiliki hak, melainkan karena ia terlambat memahami 
konsekuensi hukum dari dokumen yang telah ditandatanganinya.

Oleh: Krisdiyansari KR, S.H., M.H. | Advokat dan Konsultan Hukum ATHENA & Partners 

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Bupati Fawait Gandeng Kader Posyandu dan RT/RW Sukseskan Program Home Care di Jember

Selain memberikan tindakan medis, tim kesehatan juga akan mengedukasi anggota keluarga agar mampu melakukan perawatan dasar secara mandiri.

Kabar Baik, Intensif Guru Ngaji di Jember Segera Cair

Gus Fawait juga mengajak para guru ngaji menjadi mitra pemerintah dalam menyosialisasikan Program Universal Health Coverage (UHC) kepada masyarakat.

Ansor Sidoarjo Minta Pemkab Serius Tertipkan Peredaran Miras Ilegal, Beri Waktu 7x24 Jam

Selain pemeriksaan izin usaha, Ansor juga meminta adanya tindakan tegas dari pemerintah apabila ditemukan pelanggaran aturan. 

Babak Baru Korupsi ESDM Jatim: Satu Cewek jadi Tersangka, Sita Uang Rp1,48 M

Setelah menjalani pemeriksaan, ED langsung ditahan di Rumah Tahanan Kejati Jatim untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.

Shio Paling Hoki di Tahun 2026, Cek Apakah Kamu Termasuk yang Dapat

Menurut kalender lunar, dipandang oleh pakar feng shui tahun ini sebagai masa yang sangat dinamis dan penuh perubahan.

Harga Emas Antam Hari Ini: Menurun Lagi Tante, Tetap Senyum jangan Ngambek Terus

Dikutip dari situs Logam Mulia Antam, satuan harga emas hari ini yang terkecil ukuran 0,5 gram berada di angka Rp1.449.500.