Selasa, 24 Feb 2026 13:33 WIB

Surabaya Maritime Arts Dome: Bentangan Rumah Peradaban Surabaya

  • Penulis : selalu.id
  • | Selasa, 24 Feb 2026 11:27 WIB
Isa Anshori (dok:ist)
Isa Anshori (dok:ist)

Opini-

Mimpi itu lahir sederhana

Baca Juga: Kebocoran Data Mahasiswa, Bom Waktu di Dunia Pendidikan

Suatu sore, Minggu, 15 Februari 2026, Pasca selesai mengantarkan perhelatan Musyawarah Kebudayaan Surabaya, saya mencoba memanfaatkan waktu senggang sore dengan menyusuri suasana pantai dari Suramadu sampai dengan Keputih. Mengaspal di pinggir pantai—dari Tambak Wedi, melewati Jalan Kedung Cowek, Sukolilo, melintas di sekitar Jembatan Suroboyo, hingga Keputih.

Sepanjang perjalanan itu, laut terbentang tanpa sekat. Angin asin menyentuh wajah. Perahu-perahu nelayan terikat tenang, seakan menunggu pagi.

Di tengah perjalanan itu, muncul satu pertanyaan yang mengusik: Bukankah bentangan pantai ini adalah karunia Tuhan yang layak disyukuri? Dan jika ia karunia, mengapa kita hanya memaknainya sebagai ruang ekonomi—tempat orang mencari ikan—dan belum sepenuhnya sebagai ruang peradaban?

Laut tentu harus tetap menjadi ruang hidup nelayan. Tetapi apakah ia tidak juga layak menjadi ruang hidup kebudayaan?

Di sanalah imajinasi saya melompat jauh, menyeberang samudra, menuju sebuah bangunan di Australia: Sydney Opera House. Sebuah gedung yang berdiri anggun di tepi pelabuhan, menjadi ikon bukan hanya kota, tetapi bangsa. Ia bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan simbol keberanian membangun peradaban melalui seni.

 

Lalu saya kembali menatap Laut Jawa

Surabaya adalah kota maritim. Ia dikaruniai pesisir yang indah, sejarah pelabuhan yang panjang, dan denyut budaya pesisir yang hidup. Namun kita harus jujur: potensi itu belum sepenuhnya dijadikan fondasi penguatan peradaban maritim. Laut sering menjadi latar belakang, belum menjadi pusat kesadaran. Dari perenungan itulah lahir gagasan tentang Surabaya Maritime Arts Dome.

 

Kenjeran–Suramadu: Dari Bentangan Alam ke Bentangan Peradaban

Jika perjalanan pesisir itu diteruskan hingga menghadap Jembatan Suramadu, kita melihat simbol kemajuan infrastruktur. Jembatan Suramadu, jembatan fisik yang menyatukan Surabaya dan Madura.

Kota global tidak cukup hanya dengan jembatan fisik. Ia membutuhkan jembatan kultural.

Surabaya Maritime Arts Dome dapat berdiri sebagai jembatan makna—menghubungkan pesisir dan pusat kota, tradisi dan modernitas, nelayan dan akademisi, seni rakyat dan panggung dunia.

Memilih bentang Kenjeran–Suramadu bukan keputusan teknis semata. Ia adalah pilihan filosofis. Bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat pada kawasan bisnis. Bahwa pesisir—yang sering dipandang pinggiran—berhak menjadi pusat peradaban.

Pembangunan sejati bukan hanya memperindah pusat, tetapi memuliakan tepi.

 

Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

Kita terlalu lama mengukir kemajuan dengan beton. Jalan bertambah, gedung menjulang, angka pertumbuhan dirayakan. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah manusia kita ikut bertumbuh? Peradaban tidak diukur dari tinggi bangunan, melainkan dari kedalaman kesadaran.

Surabaya Maritime Arts Dome harus menjadi ruang di mana seni, riset, dan refleksi bertemu. Ia bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi sekolah karakter. Bukan hanya destinasi wisata, tetapi laboratorium kemanusiaan.

Di sanalah anak nelayan dapat bermimpi setinggi cakrawala tanpa kehilangan identitasnya.

Di sanalah tradisi Madura dan dinamika urban Surabaya berdialog setara.

Di sanalah ekonomi kreatif tumbuh berdampingan dengan nilai keberlanjutan. 

Baca Juga: Dua Anak Terjebak Lumpur di Pantai Kenjeran Diselamatkan Polisi Perairan

Inilah pembangunan humanis: membangun manusia beradab.

 

Selaras dengan Visi Kota Global, Modern, Humanis, dan Berkelanjutan

Gagasan ini bukan mimpi yang terlepas dari arah pembangunan kota. Ia justru sejalan dengan visi Surabaya sebagai kota global, modern, humanis, dan berkelanjutan.

Global—karena membuka dialog budaya lintas bangsa.

Modern—karena berbasis inovasi dan arsitektur masa depan.

Humanis—karena membangun manusia, bukan sekadar struktur.

Berkelanjutan—karena menghormati laut sebagai ekosistem dan ruang kehidupan.

Surabaya tidak hanya ingin dikenal sebagai kota transaksi. Ia ingin dikenal sebagai kota makna.

 

Dari Mimpi Warga, Menuju Warisan Peradaban

Pada akhirnya, Surabaya Maritime Arts Dome bukan tentang kubah. Bukan tentang kemegahan arsitektur.

Baca Juga: Dua Hari Berturut-Turut, Pembobolan Terjadi di Jalan Kenjeran

Bukan pula tentang menandingi Sydney Opera House. 

Ia tentang kesadaran. Kesadaran bahwa kota tidak cukup hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi harus matang secara kultural.

Kesadaran bahwa laut bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi ruang makna. 

Kesadaran bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan manusia.

Mimpi ini lahir bukan dari ruang rapat, melainkan dari perjalanan sunyi menyusuri pesisir—dari desir angin laut dan cakrawala yang terbuka. Ia lahir dari rasa syukur atas karunia Tuhan yang begitu indah, sekaligus kegelisahan: apakah kita sudah memuliakan karunia itu sebagai fondasi peradaban? 

Surabaya tidak kekurangan gedung. Yang kita butuhkan adalah simbol jiwa. Jika suatu hari kubah itu benar-benar berdiri menghadap Jembatan Suramadu, ia bukan sekadar bangunan. Ia adalah pesan lintas generasi: bahwa pernah ada keberanian untuk membangun bukan hanya kota, tetapi karakter.

Karena kota besar lahir bukan hanya dari pemimpin yang visioner, tetapi dari warga yang mencintainya dengan pikiran dan nurani.

Dan setiap peradaban besar selalu dimulai dari satu mimpi yang sederhana— mimpi yang dibangun dengan cinta pada tanahnya sendiri.

 

Surabaya, 15 Februari 2026

M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi, Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua ICMI Jatim, Warga Majelis Ngopi Suroboyo

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Rute Feeder Wira Wiri Suroboyo dari Purabaya-Kenpark Kini Kembali Lewat Tol

Kebijakan ini diklaim memangkas waktu tempuh hingga 50 menit dibanding saat rute dialihkan ke jalur arteri tanpa tol.

Ular Piton Muncul Lagi di Surabaya, Kali Ini Mangsa Ayam Milik Warga Manyar Jaya

Berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya, ular piton itu ditemukan di pinggir jalan tengah melilit ayam milik warga.

Bingung Ajak Ayang Bukber di Mana? Tempat di Surabaya Ini Bisa Jadi Rekomendasi

Bingung mencari tempat untuk kencan, apalagi saat ini lagi bulan puasa, mungkin ini bisa jadi rekomendasi tempat buka bersama (bukber) pasanganmu.

Prakiraan Cuaca Indonesia Hari Ini: Dari Hujan Lebat hingga Angin Kencang

Sejumlah daerah di Indonesia diprediksi mengalami hujan lebat hingga cuaca ekstrem. Lengkap, dari Aceh hingga Papua.

Tips Belanja Online Agar Terhindar dari Penipuan, Nomor 6 Harus Diperhatikan

Belanja secara online kini lebih banyak dipilih orang. Sebagian alasan karena instans dan tidak ingin capek, namun harus waspada.

Ramalan Zodiak Hari Ini: Leo Angka Keberuntungan 11 dan 80, Aquarius Temukan Kebahagiaan

Ramalan zodiak hari ini meliputi seputar percintaan, keuangan dan karier bisa menjadi prediksi peruntungan di masa depan.