Jumat, 05 Jun 2026 01:29 WIB

Pengusaha Tempe dan Tahu Mogok Produksi, Penjual Gorengan Kelimpungan

  • Penulis : Ade Resty
  • | Senin, 21 Feb 2022 19:46 WIB
Penjual gorengan di Surabaya. Foto: Ade Risti
Penjual gorengan di Surabaya. Foto: Ade Risti

selalu.id - Penjual gorengan terdampak aksi mogok pengusaha tempe dan tahu lantaran tingginya harga kedelai. Stok tahu dan tempe di pasar kosong.

Salah satu penjual gorengan tempe, Mi'an mengaku tidak menjual tempe goreng, padahal tempe goreng banyak diminati oleh pembeli. Sehingga Mi'an terpaksa harus mengosongkan tempe dari etalase jualan,

Baca Juga: Menanti Ending di Balik Proyek Ilegal PT Wulandaya Cahaya Lestari di Surabaya

"Tempenya gak ada, kosong, pembuatnya mogok katanya. Saya juga gak nyetok, kalau tahu masih ada, saya nyetok kemarin," tuturnya, saat ditemui Selau.id, Senin (21/2/2022).

Ditempat yang berbeda, Sindi, salah satu pedagang gorengan di Jalan Kampung Malang, Surabaya masih menjual tempe goreng, namun tempe tersebut adalah stok yang sudah dipersiakanya sejak kemarin.

"Ya itu sisa ini saja tempe, habis itu sudah tidak lagi, apalagi tahu, ini tinggal segitu tahunya, terus habis ini stoknya habis," ungkap Sindi.

Hal yang senada disampaikan ibu rumah tangga di Surabaya, Musrini (51) mengaku tak mendapatkan tahu dan tempe di pasar.

Baca Juga: Remaja di Surabaya Tewas Dikeroyok Pelajar SMA, Sempat Gegar Otak dan Patah Tulang

"Saya tadi mau beli tahu tempe, tapi tidak ada, kosong kata penjualnya," ujarnya.

Sementara itu, salah satu pengusaha di Kampung Tempe Tenggelis, Ghofur, mengaku hari ini dirinya tidak produksi tempe, hanya sisa stok dua hari sebelumnya.

"Respon pelanggan kecewa, hari ini nggak ada produksi, sekarang yang di pasar juga gak ada," kata Ghofur, saat ditemui selalu.id.

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Ghofur mengaku kesal karena harga kedelai setiap tahun naik, Ia menceritakan bahwa sekarang teknologi semakin maju, akan tetapi para petani kedelai seharusnya diajarin oleh pemerintah untuk memproduksi.

"Kesal tiap tahun begini, dulu tahun 1986 kita bisa sembada beli kenapa sekarang ndak bisa wong teknologi lebih maju. Dinas pertanian gimana? Masa ndak bisa ngajarin petani kedelai, untuk apa belajar jauh-jauh?,"ungkapnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Pemain Utama Rantai Halal Nasional

Tantangan berikutnya adalah memastikan daerah-daerah potensial mampu mengambil peran lebih besar sebagai produsen penggerak utama industri halal global.

Lima Mahasiswa FH Untag Surabaya Ajukan Uji Materi ke MK Soal Pembuatan SIM

Namun demikian, para mahasiswa tidak meminta seluruh tes dihapus, melainkan dilakukan penyempurnaan agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.

Pemkab Sidoarjo Komitmen Selesaikan Hak Warga Terdampak Lumpur Lapindo

Pengaktifan kembali Satgas dinilai penting mengingat masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat terdampak lumpur Lapindo.

Ning Ita Ajak ASN Kota Mojokerto Berani Tolak dan Laporkan Gratifikasi

Ning Ita mengatakan upaya pencegahan korupsi tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tapi harus dibangun dengan kesadaran dan integritas setiap pemerintah.

Mahasiswa Statistika Bisnis ITS Pelajari Penerapan ISO 9001:2015 di Terminal Petikemas Surabaya

Mahasiswa diharapkan mampu menjembatani pemahaman teoritis yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata di lapangan.

Polresta Sidoarjo Bongkar Jaringan Narkotika Internasional Senilai Puluhan Miliar

Saat ini penyidik masih mengembangkan kedua perkara tersebut guna mengungkap jaringan yang lebih luas.