Selasa, 08 Sep 2026 13:20 WIB

Beredar Foto Ajakan Kasar Demo Driver Ojek Online, Ini Reaksi Humas Frontal

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 20 Jul 2023 11:54 WIB
tangkapan layar dugaan seruan paksa sesama driver ojol untuk demo
tangkapan layar dugaan seruan paksa sesama driver ojol untuk demo

selalu.id - Ribuan massa yang bergabung dalam Front Driver Online Tolak Aplikator Nakal (Frontal) Jawa Timur melakukan aksi di Surabaya hari ini, Kamis (20/7/2023). Namun, di balik itu ternyata ada dugaan sesama driver ojek online (ojol) melakukan pemaksaan terhadap driver ojol lainnya untuk demo bersama-sama melakukan aksi turun ke jalan.

Disinyalir dari beberapa informasi yang didapat selalu.id, bahwa beberapa driver ojol yang memutuskan untuk tetap bekerja dan menerima pesanan antar makanan, mendapat pesan kasar di kolom chat orderan gofood.

Baca Juga: Demo di Jakarta Memanas: Gerbang Tol Dalam Kota Ditutup Total, Berikut Daftarnya

Isi dari pesan kasar tersebut adalah ajakan untuk mengikuti demo atau aksi turun ke jalan dengan paksa, "Goblok melok o demo, melok o demo cok goblok," tulis catatan pesanan yang diterima driver ojol tersebut.

Hal tersebut tak hanya terjadi pada satu driver ojol saja, melainkan beberapa driver mengaku mendapat seruan aksi secara paksa dengan modus pesanan makanan palsu.

"Masuk kamar jenasah di belakang, cepat cok, liane online, raimu online," pesan yang didapat driver ojol lainnya.

Menanggapi hal itu, Humas Frontal, Daniel Lukas Rorong membantah pihaknya memaksakan aksi turun ke jalan tersebut dan menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menghimbau kepada semua driver ojol untuk berbuat anarkis apa lagi kepada sesama driver ojol.

Baca Juga: Jeritan Hati Tukang Becak di Mojokerto, Berjuang Rebut Kembali Tanah yang Dirampok Mafia

"Gak ada larangan teman-teman (driver ojol) untuk ngebid (aktif akun order) hari ini. Kita gak ada himbauan berbuat anarkis ya seperti itu," tegas Daniel, saat dihubungi selalu.id.

Daniel kembali menegaskan bahwa himbauan Frontal Jatim tidak mengharuskan semua driver ojol mengikuti aksi demonstrasi tersebut. Sebab, menurutnya yang ngebid atau menerima orderan itu adalah kebutuhannya masing-masing yang tidak bisa dipaksakan.

"Kita gak ada himbaunan harus wajib ikut demo ya, yang ngebid monggo, yang ikut berjuang aksi ini ya monggo. Kita gak tahu setiap kebutuhan masing-masing orang kan," ujarnya

Baca Juga: Aksi Damai Wartawan-Jurnalis di Nganjuk Sikapi Istilah Londo Ireng

"Siapa tahu yang ngebid hari ini, memang lagi ada kebutuhan biaya anak sekolah atau siapa tahu mereka ada yang sakit atau gimana butuh orderan. Sekali lagi, saya pribadi tidak ada himbauan melarang ngebid ataupun sekasar itu," imbuhnya.

Apabila memang ditemukan driver ojol yang berpesan kasar seperti itu, Daniel mengungkapkan bahwa pihaknya bakal memberi teguran langsung.

"Saya melihat sendiri tidak ada, tapi kalau ada saya langsung untuk tegur untuk tidak anarkis," pungkasnya. (Ade/Adg)

Editor : Ading
Berita Terbaru

Fenomena Gunung di Indonesia Erupsi Bersamaan, Mbah Rono Bilang Begini

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekat atau beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari pusat kawah.

Daftar 6 Gunung di Indonesia yang Kini Berstatus Siaga

Masyarakat pun diimbau untuk terus memantau arahan resmi dari PVMBG, serta menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik.

Air Keruh Berbau Kimia Teror Warga Surabaya, Ini Dugaan Penyebabnya

Untuk mengungkap fenomena ini, DPRD Surabaya bakal panggil BBWS dan Perum Jasa Tirta I pekan depan.

Tekan Emisi dan Dukung UMKM, PGN Masifkan Pemanfaatan Gas Bumi di Sidoarjo

Kehadiran gas bumi diproyeksikan mampu menjadi jawaban atas kebutuhan energi yang aman, efisien, dan praktis bagi kawasan industri maupun pemukiman.

Momen Pemkot Mojokerto Gelar Pelatihan Kuliner Kekinian bagi Warga Binaan

Pelatihan difokuskan pada keterampilan praktis yang adaptif terhadap tren pasar saat ini, seperti pembuatan minuman ala kafe hingga olahan keripik.

DPRD Surabaya Desak Evaluasi Total OPD Buntut Kasus Pungli Rekrutmen Kepegawaian

DPRD Surabaya mengatakan bahwa penindakan terhadap oknum yang terlibat dinilai tidak cukup tanpa adanya pembenahan sistem secara menyeluruh.