Pakar ITS Sebut Jaringan Pipa PDAM Surabaya Harus Diganti, Ini Alasannya
- Penulis : Ade Resty
- | Jumat, 25 Nov 2022 17:16 WIB
selalu.id - Pakar Sanitasi Air dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir Eddy Setiadi Soedjono menyoroti soal kondisi infrastruktur jaringan pipa dan instalasi PDAM Surya Sembada Surabaya.
Eddy menyebut, jaringan pipa milik PDAM di Surabaya telah berusia di atas 50 tahun atau dibangun sekitar tahun 1922.
Baca Juga: TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal
Sedangkan umur teknis maksimal kelaikan penggunaan pipa adalah 25 tahun.
Eddy Soedjono menjelaskan, bahwa kondisi jaringan pipa PDAM Surya Sembada sangat berpengaruh terhadap distribusi kualitas air bersih kepada masyarakat.
Maka, dengan melihat kondisi pipa milik PDAM sekarang, ia tak yakin kualitas air sampai ke rumah-rumah warga akan layak untuk diminum.
"Jadi sangat tidak mungkin, sebab pipanya layak bocor, karena pipa dibangun tahun 1922. Kalau di luar negeri harus dihancurkan (diganti), karena dalam ilmu teknik sipil, lifetime 50 tahun itu rusak ataupun tidak rusak harus diganti," kata Eddy, Jumat (25/12/2022).
Upaya yang harus dilakukan agar distribusi air bersih dari produksi hingga ke rumah pelanggan tetap bagus, kata dia, dengan memastikan jaringan pipa tidak mengalami kebocoran.
"Salah satunya adalah dengan memastikan bahwa pipanya itu tidak bocor. Dan bocornya itu benar-benar bocor yang bagus, bukan bocor dari luar ke dalam, tapi bocor dari dalam ke luar," ujarnya.
Meski demikian, Eddy menyadari, jika melakukan peremajaan atau rehabilitasi jaringan pipa air milik PDAM Surya Sembada tidaklah mudah. Kata dia, selain biayanya yang tidak murah, banyak di antara pipa BUMD milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini yang posisinya sudah berada di tengah jalan raya.
"Nah, pipa kita itu sangat panjang, mungkin puluhan kilometer dan terbangun puluhan tahun yang lalu. Dan mengganti pipa juga tidak mudah, karena pipa-pipa yang lama itu bahkan posisinya sudah di tengah jalan," papar dia.
Selain itu, lanjutnya, dalam proses peremajaan jaringan pipa, tentu PDAM Surya Sembada juga membutuhkan teknologi yang canggih agar dapat diketahui lokasinya.
Baca Juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang
Sebab, sebagian besar pipa yang dulunya berada di tepi jalan, kini telah berubah posisinya.
"Jadi memang PRnya berat, tidak saja (biayanya) mahal, tetapi juga upayanya berat. Supaya warga Surabaya suatu ketika punya air minum yang memang tinggal diminum tanpa dimasak lagi," papar dia.
Untuk menopang tingginya biaya peremajaan jaringan pipa itu, Eddy Soedjono menyarankan PDAM Surya Sembada untuk menyesuaikan kenaikan tarif air bersih. Karena menurutnya, sejak dari awal, pengganti biaya pipa seharusnya sudah dimasukkan di dalam perhitungan tarif.
"Jadi dari awal itu (tarif PDAM) sebenarnya sudah ada aturan di Indonesia. Tidak seenaknya sendiri, tiba-tiba tarifnya dikatakan ketinggian, tidak ada," jelas Alumnus S3 Teknik Lingkungan University of Birmingham, England tersebut.
Mungkin karena tarif batas bawah air minum di Surabaya sudah cukup lama, demikian belum adanya lampu hijau, sehingga penyesuaian harga itu dinilainya belum segera dilakukan PDAM Surya Sembada.
Baca Juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin
Sebab itu, Eddy mendesak PDAM Surya Sembada agar segera menaikkan tarif air bersih.
"Jadinya kayak sekarang ini, ya memang harus segera disesuaikan, disesuaikan berarti dinaikkan (tarifnya)," katanya.
Jika tidak segera menaikkan tarif air bersih, maka dalam kurun waktu 30 tahun ke depan, permasalahan yang sama terhadap kualitas air bakal kembali terulang.
Ia menilai PDAM juga perlu menyiapkan depresiasi untuk 5 hingga 10 tahun ke depan.
"Karena dari sekarang kita tidak menyiapkan depresiasi untuk 5 hingga 10 tahun ke depan. Salah satunya mengganti pipa, dengan menambah instalasi," pungkasnya. (Ade/SL1)
Editor : RedaksiURL : https://selalu.id/news-3097-pakar-its-sebut-jaringan-pipa-pdam-surabaya-harus-diganti-ini-alasannya
