Selasa, 08 Sep 2026 09:57 WIB

Pakar Ekonomi Unair Sebut Pemerintah Terlalu Reaktif Soal Pencabutan Izin ACT

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 12 Jul 2022 12:06 WIB
Pakar Ekonomi Islam Unair, Imron Mawardi
Pakar Ekonomi Islam Unair, Imron Mawardi

selalu.id - Pakar Ekonomi Islam Universitas Airlangga (Unair) Imron Mawardi menyebut pemerintah terlalu reaktif atas keputusan dicabutnya izin pengumpulan dana dan barang Aksi Cepat Tanggap (ACT). Imron Mawardi menyayangkan sikap pemerintah dan masyarakat yang terlalu reaktif.

Menurutnya pembekuan dan pencabutan izin yang dilakukan untuk ACT dianggap terlalu dini. Imron menyebut fungsi pengawasan yang dilakukan pemerintah tidak berjalan dengan baik.

Baca Juga: IKA Unair Jember Resmi Dikukuhkan, Siap Dukung Program Pemkab

"Harusnya ditelusuri dulu, dilakukan audit, kemudian pembinaan. Kan mestinya Kemensos yang memberi izin juga harus melakukan pengawasan. Nah, kenapa kok terjadi gini, padahal sudah sekian tahun," kata Imron, Selasa (12/7/2022).

Imron juga berpesan kepada masyarakan untuk cermat mendonasikan hartanya kepada lembaga filantropi yang tepat dan untuk tidak cepat memberikan justifikasi dan reaksi

"Kalau ada satu yang bermasalah, bukan berarti semua lembaga filantropi itu buruk," ujarnya.

Lebih lanjut, Imron menjelaskan tentang tata kelola keuangan dari ACT. Pasalnya, ACT menggunakan 13,7 persen dana donasi untuk kebutuhan operasional.

Padahal, pada PP No 29 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan, tercantum penggunaan dana donasi untuk operasional paling banyak sebesar 10 persen.

"Ya, ada pelanggaran di sini, dan kalau terjadi pelanggaran, sementara ini sudah berlangsung sekian lama. Juga menjadi pertanyaan, dimana posisi pemerintah dalam mengawasi dana publik, yaitu dana yang diterima seperti lembaga filantropi ini," ujar Imron.

Menurutnya, selama ini masyarakat masih mengkonotasikan keikhlasan dengan keharaman menerima harta atau imbalan dari hasil kinerjanya.

Baca Juga: Menginspirasi Birokrasi: Sekel Surabaya Raih Gelar Doktor Lewat Riset Kelincahan Pegawai

Padahal, dalam pengelolaan dana umat juga dibutuhkan ilmu serta profesionalitas. Apalagi, dana yang dikelola bukan jumlah yang sedikit.

"Kalau mereka digaji tinggi, bagi saya, sebenarnya, biasa saja. Artinya memang seharusnya pekerja sosial baiknya tidak berbeda dengan pebisnis yang seharusnya juga dikelola oleh profesional,"jelasnya.

Menurutnya, tampak berita tentang penyelewangan dana umat itu terlalu berlebihan.

Namun, Imron menyadari bahwa kasus ini akan berdampak pada penurunan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga filantropi.

Hal tersebut menjadi tugas bersama, terutama lembaga itu sendiri untuk menumbuhkan kepercayaannya kembali. Salah satunya dengan transparansi keuangan.

Baca Juga: Tiga Jurusan Paling Diminati di UNAIR pada UTBK 2026

"Siapa pun yang mengelola dana publik, maka disebut lembaga publik. Dan itu terikat dengan ketentuan harus transparan, terus akuntabel, serta penggunaannya disesuaikan dengan kaidah-kaidah lembaga publik," ujarnya.

Ia menambahkan, transparansi dana tersebut ,tentunya akan memberikan ketenangan dan kepuasan bagi pendonor.

"Program yang ditawarkan lembaga haruslah jelas mengenai target, kebutuhan donasi, hingga penyaluran,"pungkasnya. (Ade/SL1)

 

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Fenomena Gunung di Indonesia Erupsi Bersamaan, Mbah Rono Bilang Begini

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekat atau beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari pusat kawah.

Daftar 6 Gunung di Indonesia yang Kini Berstatus Siaga

Masyarakat pun diimbau untuk terus memantau arahan resmi dari PVMBG, serta menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik.

Air Keruh Berbau Kimia Teror Warga Surabaya, Ini Dugaan Penyebabnya

Untuk mengungkap fenomena ini, DPRD Surabaya bakal panggil BBWS dan Perum Jasa Tirta I pekan depan.

Tekan Emisi dan Dukung UMKM, PGN Masifkan Pemanfaatan Gas Bumi di Sidoarjo

Kehadiran gas bumi diproyeksikan mampu menjadi jawaban atas kebutuhan energi yang aman, efisien, dan praktis bagi kawasan industri maupun pemukiman.

Momen Pemkot Mojokerto Gelar Pelatihan Kuliner Kekinian bagi Warga Binaan

Pelatihan difokuskan pada keterampilan praktis yang adaptif terhadap tren pasar saat ini, seperti pembuatan minuman ala kafe hingga olahan keripik.

DPRD Surabaya Desak Evaluasi Total OPD Buntut Kasus Pungli Rekrutmen Kepegawaian

DPRD Surabaya mengatakan bahwa penindakan terhadap oknum yang terlibat dinilai tidak cukup tanpa adanya pembenahan sistem secara menyeluruh.