Sabtu, 05 Sep 2026 19:37 WIB

Resmikan Closed Barn di Pasuruan, Wamenko Pangan Dorong Pengembangan Sapi Perah Dataran Rendah

  • Penulis : Ariyanto
  • | Rabu, 22 Jul 2026 16:06 WIB
Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq saat meresmikan closed barn dan menyerahkan sapi impor di Purwodadi, Pasuruan. (Dok. Pemkab Pasuruan).
Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq saat meresmikan closed barn dan menyerahkan sapi impor di Purwodadi, Pasuruan. (Dok. Pemkab Pasuruan).

selalu.id - Peluang pengembangan sapi perah di wilayah dataran rendah mulai terbuka seiring hadirnya teknologi closed barn yang mampu merekayasa kondisi lingkungan sesuai kebutuhan ternak. 

Inovasi tersebut diyakini dapat menjadi terobosan untuk meningkatkan produksi susu nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Teknologi itu diperkenalkan melalui peresmian fasilitas closed barn dan serah terima sapi impor dari Nestle Indonesia kepada peternak sapi perah binaan KUD Dadi Jaya di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Selasa (21/7/2026). 

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq.

Dalam kesempatan itu, Hanif menilai sistem kandang tertutup menjadi jawaban atas tantangan pengembangan sapi perah yang selama ini lebih banyak terkonsentrasi di kawasan pegunungan. 

Melalui pengaturan suhu, ventilasi, dan kelembapan secara otomatis, kondisi di dalam kandang dapat disesuaikan dengan kebutuhan ternak.

"Dalam artian sistem ini dirancang untuk menjaga lingkungan di dalam kandang tetap optimal, melindungi ternak dari perubahan cuaca ekstrem, dan mencegah penularan penyakit," jelasnya.

Menurut Hanif, selama ini sentra sapi perah nasional berada di daerah dengan suhu relatif dingin seperti kawasan Lembang di Jawa Barat maupun beberapa wilayah di Jawa Timur, termasuk Pasuruan dan Malang. 

Kehadiran teknologi closed barn dinilai membuka peluang baru agar sapi perah dapat dikembangkan di wilayah yang lebih rendah tanpa mengurangi produktivitasnya.

"Karena semua sapi perah kita hidup di gunung, mulai dari Jabar ada Lembang. Kemudian di Jatim ada Pasuruan, Malang dan lainnya. Tapi ya itu lagi, sapi-sapi kita hidupnya di daerah pegunungan saja. Dan dengan inovasi Nestle ini, sapi-sapinya bisa ditarik ke bawah sehingga produktifitas akan bisa naik terus," kata Hanif.

Ia juga mengapresiasi komitmen Nestle Indonesia yang dinilai tidak hanya berfokus pada industri pengolahan susu, tetapi turut memperkuat sektor peternakan dari tingkat hulu melalui kemitraan dengan peternak sapi perah.

Di sisi lain, kebutuhan susu nasional yang terus meningkat masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. 

Hanif menyebut konsumsi susu nasional saat ini mencapai sekitar 4,7 juta ton per tahun. Namun sebagian besar kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Produksi susu dalam negeri, baru mampu memenuhi sekitar seperempat kebutuhan nasional akibat populasi sapi perah yang masih terbatas. Karena itu, berbagai inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas peternakan dinilai perlu terus didorong.

"Di Indonesia, khususnya di Jawa Timur menjadi salah satu penghasil susu terbesar. 60 persen atau 57 persen produksinya ada di Jatim," sebutnya.

Hanif berharap kolaborasi antara Nestle Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan dapat terus diperkuat, khususnya dalam pengembangan riset rekayasa mikroklimat yang memungkinkan sapi perah dari wilayah subtropis beradaptasi dengan baik di daerah dataran rendah.

"Harapannya, antara Nestle dengan Pemkab Pasuruan terus bekerja sama. Dikembangkan lagi penelitiannya secara massive, karena kita meyakinkan nantinya sapi-sapi yang di atas bisa diturunkan ke daerah di bawah. Di atas bertugas mengatur tata air, di bawah menjadi daerah produksi," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menyampaikan apresiasi kepada Nestle Indonesia atas kontribusinya dalam mendukung pengembangan peternakan sapi perah di Kabupaten Pasuruan. 

Selain membantu peningkatan produktivitas peternak, perusahaan tersebut juga terlibat dalam berbagai program sosial, termasuk upaya penanganan stunting.

"Terima kasih kepada Nestle Indonesia yang terus berkontribusi dalam memperhatikan para peternak sapi perah di daerah, serta program lain yang sangat bagus seperti penanganan stunting," ungkapnya.

Rusdi menilai pengembangan closed barn merupakan langkah strategis untuk membantu menyelesaikan persoalan mendasar sektor persusuan nasional yang hingga kini masih bergantung pada pasokan impor.

"Masalah utamanya adalah pemenuhan kebutuhan susu dari sapi perah yang masih impor. Dan Nestle ini keren sekali, karena jarang ada perusahaan berskala dunia yang memperhatikan sampai di pondasi awal, yakni kemitraan dengan petani atau peternak sapi," jelasnya.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Kebakaran Landa Pabrik Rokok di Jabon Sidoarjo

Petugas mencatat area gudang yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 700 meter persegi.

Hadiri Raker Gabungan DPP Apeksi, Wali Kota Mojokerto Ning Ita: TKD Harus Fleksibel

Ning Ita menegaskan Apeksi akan terus mendorong agar relasi pusat dan daerah dibangun dengan prinsip kuat, adil, dan adaptif.

Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Soal harga, produk Sango Ceramics dibanderol mulai dari Rp15.000 per item

DPRD Surabaya Temukan Anak Putus Sekolah, Data Desilnya di Atas 5

“Masih banyak ternyata anak-anak yang butuh sekolah karena biaya. Sementara ternyata desilnya di atas 5,” kata Imam.

Menyoal Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo, Kemenag RI Dorong Upaya Investigasi

Wamenag menegaskan, program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi pesantren dan madrasah.

Kenang Setahun Wafatnya Affan Kurniawan, Forkopimda Sidoarjo Bagi Beras ke Seribu Driver Ojol

Bantuan bertepatan dengan satu tahun wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol asal Jakarta yang meninggal dunia setahun lalu dalam aksi ujuk rasa.