Jumat, 31 Jul 2026 21:16 WIB

Misteri Pesugihan Gunung Kawi, Jalan Pintas Menuju Kemakmuran?

Ilustrasi pesugihan Gunung Kawi. (Dok. Google Gemini/Ist).
Ilustrasi pesugihan Gunung Kawi. (Dok. Google Gemini/Ist).

selalu.id - Gunung Kawi tak lepas dengan kata pesugihan, ritual hingga mistisnya. Terletak di barat daya Kabupaten Malang, Gunung Kawi konon disebut-sebut menawarkan kekayaan instan dengan imbalan yang mengerikan.

Selama bertahun-tahun, tempat ini diselimuti aura gaib, menarik perhatian banyak orang yang mencari jalan pintas menuju kemakmuran.

Baca Juga: Menilik Magisnya Tradisi Grebeg Suro di Sidoarjo

Meskipun para juru kunci dan pihak pengelola menegaskan bahwa tempat ini adalah lokasi ziarah, narasi tentang pesugihan tetap menjadi daya tarik misterius yang tak lekang oleh waktu.

Misteri pesugihan ini dikaitkan dengan dua tempat utama, yaitu Pesarean Gunung Kawi dan Keraton Gunung Kawi.

Meskipun keduanya adalah tempat ziarah, masing-masing memiliki cerita pesugihan yang berbeda.

Pesarean Gunung Kawi

Pesarean Gunung Kawi adalah tempat peristirahatan terakhir Eyang Djoego (Kiai Zakaria II) dan murid sekaligus anak angkatnya, Raden Mas Iman Soedjono.

Eyang Djoego bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah cicit dari Pakubuwono I dan pengawal Pangeran Diponegoro yang wafat pada tahun 1871.

Pesarean Gunung Kawi dikenal karena adanya pohon Dewandaru, yang berada tepat di depan makam Eyang Jugo. Pohon ini diyakini membawa keberuntungan bagi siapa saja yang kejatuhan buah atau daunnya saat bertapa.

"Dari ceritanya pohon Dewandaru itu dari tongkat Eyang Jugo yang ditancapkan. Sering buahnya dinantikan karena dipercaya membawa keberuntungan, berbuah biasanya pada Bulan Desember," kata Kadir, Ketua RT setempat.

Konon, siapapun yang bertapa di bawah pohon tersebut dan kejatuhan buah, daun, atau benda lain, diyakini akan mendapat keistimewaan, termasuk keberuntungan besar atau kekayaan. Namun, mendapatkan berkah itu tidaklah mudah. Ada yang harus menunggu hingga berbulan-bulan.

Baca Juga: Polda Jatim Perketat Pengamanan 1 Suro, Larang Bawa Atribut hingga Konvoi

Namun, menurut salah satu penjaga makam, Jono mengatakan, para peziarah datang bukan untuk ritual pesugihan, melainkan mendoakan dan mengenang jasa-jasa para leluhur.

Tradisi ziarah di pesarean ini sudah berlangsung sejak tahun 1871 dan terus ramai, terutama pada malam 1 Suro dan malam Jumat Legi.

"Di sini pengunjung seperti berziarah ke makam-makam pada umumnya, tawasulan, tahlil, ada juga yang menggelar tirakatan, kemudian diakhiri dengan slametan. Tidak ada yang katanya pesugihan dengan syarat tertentu, apalagi nyawa," tegasnya.

Keraton Gunung Kawi

Berbeda dari pesarean, Keraton Gunung Kawi terletak di puncak yang lebih tinggi, tepatnya 2.860 mdpl. Tempat ini memiliki aura mistis yang terasa kental.

Kesan sakralnya semakin nyata begitu memasuki area keraton, di mana banyak ditemukan sesajen yang menunjukkan tempat ini sering digunakan untuk pemujaan.

Baca Juga: Antisipasi Konvoi 1 Suro Perguruan Silat di Surabaya, Senin Malam Ada Pengalihan Arus

Setelah memasuki pintu gapura, pengunjung akan menemui tiga makam yang dipercaya merupakan pengawal setia dari Eyang Tunggul Manik dan istrinya Eyang Tunggul Wati, yang dimakamkan di kompleks dalam keraton. Mereka adalah Eyang Hamid, Eyang Broto dan Eyang Joyo.

Setelah melewati area makam tersebut, pengunjung akan menemui bangunan tepat berada di ujung anak tangga yang dinamai Keraton Gunung Kawi, pada sisi timur bangunan berdiri pohon Dewandaru.

"Tiga makam di depan, merupakan pengawal Eyang Tunggul Manik. Sesuai namanya diyakini merupakan sanepan, Eyang Hamid dimaknai amit atau permisi, Eyang Broto dimaknai bertapa atau meditasi untuk berdoa kepada Tuhan, dan Eyang Joyo melambangkan kejayaan atau barokah. Jadi prosesnya begitu," ungkap Jono.

Meskipun kerap dikaitkan dengan pesugihan, kata Jono, tempat ini adalah lokasi ziarah. Para pengunjung datang untuk mendoakan leluhur yang dimakamkan di sana. Kompleks ini pun selalu ramai peziarah pada malam-malam tertentu yang dianggap sakral.

"Di sini kalau malam Selasa Kliwon, Kamis Kliwon, dan malam 1 Suro selalu ramai para pengunjung untuk berziarah. Mereka dari berbagai daerah luar Malang maupun dari luar Jawa," jelasnya.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Urgent! Balita Sakit Anemia Berat di Mojokerto Butuh Bantuan Donor Darah O Bombay Rhesus Positif

Saat ini, bayi yang berusia 2 tahun 3 bulan itu tengah dirawat di RS Sido Waras, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Membutuhkan bantuan segera.

Bukan Sekadar Jeruk: Cerita dari Bantaran Sungai Balongcangkring Mojokerto yang Menghidupi Sekolah

Di bawah kepemimpinan Eko Darsono, 200 pohon jeruk Siam Madu ditanam di atas lahan bantaran seluas sekitar 10 hektare. Hasilnya, untuk kebutuhan SPPG.

Pelindo Regional 3 dan Kejati Jatim Sepakati Optimalisasi Tata Kelola Perusahaan

Perjanjian Kerja Sama (PKS) kali ini juga memperkuat aspek pemulihan aset sebagai bagian penting dalam menjaga aset strategis negara.

APBD Sidoarjo 2025 Surplus Rp61,7 Miliar, DPRD Minta Percepatan Penyerapan Belanja

Namun di balik capaian tersebut, DPRD Sidoarjo tetap memberikan sejumlah catatan evaluatif, terutama terkait optimalisasi penyerapan belanja daerah.

Operasi URC Polda Jatim: Ringkus 206 Pelaku 3C, Sita Ratusan Kendaraan

Dalam ungkap ini, sejumlah kendaraan hasil curian yang disita penyidik juga telah diserahkan kembali kepada pemiliknya.

IJTI Surabaya Desak Presiden Prabowo Minta Maaf soal Istilah Londo Ireng

Falentinus Hartayan menilai pernyataan Presiden Prabowo berpotensi melukai martabat profesi jurnalistik yang selama ini bekerja berdasarkan Undang-Undang Pers.