Kamis, 17 Sep 2026 11:59 WIB

Misteri Pesugihan Gunung Kawi, Jalan Pintas Menuju Kemakmuran?

Ilustrasi pesugihan Gunung Kawi. (Dok. Google Gemini/Ist).
Ilustrasi pesugihan Gunung Kawi. (Dok. Google Gemini/Ist).

selalu.id - Gunung Kawi tak lepas dengan kata pesugihan, ritual hingga mistisnya. Terletak di barat daya Kabupaten Malang, Gunung Kawi konon disebut-sebut menawarkan kekayaan instan dengan imbalan yang mengerikan.

Selama bertahun-tahun, tempat ini diselimuti aura gaib, menarik perhatian banyak orang yang mencari jalan pintas menuju kemakmuran.

Baca Juga: Menilik Magisnya Tradisi Grebeg Suro di Sidoarjo

Meskipun para juru kunci dan pihak pengelola menegaskan bahwa tempat ini adalah lokasi ziarah, narasi tentang pesugihan tetap menjadi daya tarik misterius yang tak lekang oleh waktu.

Misteri pesugihan ini dikaitkan dengan dua tempat utama, yaitu Pesarean Gunung Kawi dan Keraton Gunung Kawi.

Meskipun keduanya adalah tempat ziarah, masing-masing memiliki cerita pesugihan yang berbeda.

Pesarean Gunung Kawi

Pesarean Gunung Kawi adalah tempat peristirahatan terakhir Eyang Djoego (Kiai Zakaria II) dan murid sekaligus anak angkatnya, Raden Mas Iman Soedjono.

Eyang Djoego bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah cicit dari Pakubuwono I dan pengawal Pangeran Diponegoro yang wafat pada tahun 1871.

Pesarean Gunung Kawi dikenal karena adanya pohon Dewandaru, yang berada tepat di depan makam Eyang Jugo. Pohon ini diyakini membawa keberuntungan bagi siapa saja yang kejatuhan buah atau daunnya saat bertapa.

"Dari ceritanya pohon Dewandaru itu dari tongkat Eyang Jugo yang ditancapkan. Sering buahnya dinantikan karena dipercaya membawa keberuntungan, berbuah biasanya pada Bulan Desember," kata Kadir, Ketua RT setempat.

Konon, siapapun yang bertapa di bawah pohon tersebut dan kejatuhan buah, daun, atau benda lain, diyakini akan mendapat keistimewaan, termasuk keberuntungan besar atau kekayaan. Namun, mendapatkan berkah itu tidaklah mudah. Ada yang harus menunggu hingga berbulan-bulan.

Baca Juga: Polda Jatim Perketat Pengamanan 1 Suro, Larang Bawa Atribut hingga Konvoi

Namun, menurut salah satu penjaga makam, Jono mengatakan, para peziarah datang bukan untuk ritual pesugihan, melainkan mendoakan dan mengenang jasa-jasa para leluhur.

Tradisi ziarah di pesarean ini sudah berlangsung sejak tahun 1871 dan terus ramai, terutama pada malam 1 Suro dan malam Jumat Legi.

"Di sini pengunjung seperti berziarah ke makam-makam pada umumnya, tawasulan, tahlil, ada juga yang menggelar tirakatan, kemudian diakhiri dengan slametan. Tidak ada yang katanya pesugihan dengan syarat tertentu, apalagi nyawa," tegasnya.

Keraton Gunung Kawi

Berbeda dari pesarean, Keraton Gunung Kawi terletak di puncak yang lebih tinggi, tepatnya 2.860 mdpl. Tempat ini memiliki aura mistis yang terasa kental.

Kesan sakralnya semakin nyata begitu memasuki area keraton, di mana banyak ditemukan sesajen yang menunjukkan tempat ini sering digunakan untuk pemujaan.

Baca Juga: Antisipasi Konvoi 1 Suro Perguruan Silat di Surabaya, Senin Malam Ada Pengalihan Arus

Setelah memasuki pintu gapura, pengunjung akan menemui tiga makam yang dipercaya merupakan pengawal setia dari Eyang Tunggul Manik dan istrinya Eyang Tunggul Wati, yang dimakamkan di kompleks dalam keraton. Mereka adalah Eyang Hamid, Eyang Broto dan Eyang Joyo.

Setelah melewati area makam tersebut, pengunjung akan menemui bangunan tepat berada di ujung anak tangga yang dinamai Keraton Gunung Kawi, pada sisi timur bangunan berdiri pohon Dewandaru.

"Tiga makam di depan, merupakan pengawal Eyang Tunggul Manik. Sesuai namanya diyakini merupakan sanepan, Eyang Hamid dimaknai amit atau permisi, Eyang Broto dimaknai bertapa atau meditasi untuk berdoa kepada Tuhan, dan Eyang Joyo melambangkan kejayaan atau barokah. Jadi prosesnya begitu," ungkap Jono.

Meskipun kerap dikaitkan dengan pesugihan, kata Jono, tempat ini adalah lokasi ziarah. Para pengunjung datang untuk mendoakan leluhur yang dimakamkan di sana. Kompleks ini pun selalu ramai peziarah pada malam-malam tertentu yang dianggap sakral.

"Di sini kalau malam Selasa Kliwon, Kamis Kliwon, dan malam 1 Suro selalu ramai para pengunjung untuk berziarah. Mereka dari berbagai daerah luar Malang maupun dari luar Jawa," jelasnya.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Gas Muncul dari Sumur di Sumenep, DPRD Jatim Minta ESDM Pantau Potensi Bahaya

Fenomena tersebut tidak boleh hanya dilihat dari sisi potensi sumber daya alam.

Pedagang Tanjung Sari Cemas dan Pertanyakan Jam Operasional Tak Merata ke Satpol PP Surabaya

Petugas datang berulang kali dalam sehari untuk melakukan pemantauan dan dokumentasi.

Kecelakaan Dua Motor di Mojokerto, Satu Pemotor asal Jombang Tewas

Polisi masih menyelidiki kronologi lengkap dan penyebab pasti tabrakan dua sepeda motor tersebut.

Hasil Carabao Cup: Man United Angkat Koper, Kena Comeback Brighton

Brighton mampu comeback 2-3 dan MU harus angkat koper dari ajang Carabao Cup 2026/2026 di hadapan pendukungnya sendiri.

Sisi Gelap Warkop Jalan Kunti Surabaya, Pesan Kopi Bisa Sambil Nyabu

Dari pengungkapan ini, polisi menyita barang bukti 10 poket sabu seberat total 65,51 gram. Saat ini, kasusnya terus dilakukan pengembangan.

Indonesia Diprediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang Besok, Ini Wilayahnya

Meski sebagian besar wilayah Indonesia tengah dikepung kemarau terik, potensi hujan lebat hingga angin kencang masih mengintai. BMKG mengimbau selalu waspada.