Rabu, 04 Nov 2026 06:03 WIB

Bupati Mojokerto Tegaskan Bansos Harus Tepat Sasaran Sesuai DTSEN

Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra saat menghadiri Sosialisasi Data Tunggal Sosial Ekonomi dan Nasional (DTSEN) di Kantor Kecamatan Dlanggu. (Dok. Pemkab Mojokerto).
Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra saat menghadiri Sosialisasi Data Tunggal Sosial Ekonomi dan Nasional (DTSEN) di Kantor Kecamatan Dlanggu. (Dok. Pemkab Mojokerto).

selalu.id - Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra menyoroti berbagai aduan masyarakat terkait belum meratanya penyaluran bantuan sosial (bansos) di Kabupaten Mojokerto.

Ia mengungkapkan, masih ditemukan warga yang layak menerima bantuan namun belum terakomodasi, sementara di sisi lain terdapat penerima yang dinilai tidak tepat sasaran.

Baca Juga: Kabar Gembira Warga Probolinggo, Gubernur Jatim Khofifah Gelontorkan Bantuan Rp19,6 M

Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai kesalahan teknis semata, melainkan menjadi indikator bahwa sistem pendataan yang ada perlu segera dibenahi secara menyeluruh.

Itu disampaikan Bupati yang akrab disapa Gus Barra saat menghadiri Sosialisasi Data Tunggal Sosial Ekonomi dan Nasional (DTSEN) di Kantor Kecamatan Dlanggu.

"Kami sudah menindaklanjuti berbagai aduan masyarakat dengan melakukan pengecekan langsung di lapangan. Hasilnya, memang masih ada ketidaktepatan dalam penyaluran bansos. Ini bukan sekadar kekeliruan data, tetapi menunjukkan bahwa sistem data kita harus diperbaiki secara serius," kata Gus Barra dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, pemutakhiran data menjadi hal krusial karena berkaitan langsung dengan berbagai kebutuhan dasar masyarakat. Ketidaktepatan data berpotensi menimbulkan risiko seperti lansia terlantar, anak putus sekolah, hingga masyarakat yang tidak dapat mengakses layanan kesehatan.

"Saya minta dilakukan pemutakhiran data DTSEN secara berkala, akurat, dan berbasis kondisi riil di lapangan. Kita tidak hanya mengejar jumlah penyaluran, tetapi juga ketepatan sasaran. Peran kecamatan dan desa sangat penting karena paling memahami kondisi masyarakat," jelas Gus Barra.

Ia menyebut desil 1 hingga desil 4 merupakan kelompok prioritas dalam skala kesejahteraan nasional, yang merepresentasikan 10–40 persen masyarakat dengan kondisi ekonomi terendah berdasarkan 39 variabel dari pemerintah pusat.

Kelompok ini menjadi sasaran utama berbagai program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako, sementara desil 5 dapat diusulkan untuk PBI-JK.

Dalam kondisi ideal, masyarakat pada desil 1 seharusnya memperoleh perlindungan sosial secara menyeluruh.

Baca Juga: Tok! Gerindra Kota Mojokerto Dinakhodai Ika Puspitasari, Fokus 3 Konsolidasi Pemilu 2029

Oleh karena itu, jika masih terdapat masyarakat dalam kelompok tersebut yang belum menerima bantuan, maka hal tersebut menjadi indikator adanya kesalahan sistem yang harus segera diperbaiki.

"Cermati masyarakat desil 1 sampai 4 yang belum menerima bansos. Jika layak, segera diusulkan. Jika tidak sesuai kondisi, lakukan pembaruan desil. Perhatikan juga masyarakat pada desil 6 hingga 10 yang secara riil membutuhkan bantuan. Ini harus ditindaklanjuti dengan pemutakhiran data. Kecamatan agar berperan sebagai penghubung administratif dan memantau desa dalam proses pembaruan data," paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto, Try Raharjo Murdianto menjelaskan, DTSEN merupakan sistem data terpadu satu pintu yang memuat informasi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Data tersebut merupakan integrasi dari berbagai instansi, seperti Kementerian Sosial, BPS, Dukcapil, Bappenas, serta pemerintah daerah.

"Jika sebelumnya data tersebar di berbagai instansi dan kerap tidak sinkron, melalui DTSEN seluruh data akan disatukan menjadi satu acuan nasional. Ini merupakan bagian dari transisi tahun 2025 dari DTKS menuju DTSEN. Presiden menginginkan satu data terpadu yang dihimpun dari Regsosek, P3KE, dan DTKS," jelasnya.

Baca Juga: 48 Peserta Batch V PT Tirta Prima Indonesia Dibekali Keterampilan Kerja Industri di BLK Mojokerto

Meski demikian, ia mengakui bahwa data tersebut belum sepenuhnya akurat, sehingga proses pemutakhiran menjadi sangat penting.

Try menekankan perlunya sinergi antara pemerintah kecamatan dan desa, khususnya bagi para operator data, dengan tetap memperhatikan aspek kerahasiaan.

"Kendala di lapangan salah satunya adalah data berbasis by name dan by address. Kami telah berkoordinasi dengan pusat. Dinsos memiliki data desil 1 hingga 5 yang dapat diakses melalui mekanisme resmi. Namun, harus disertai perjanjian tanggung jawab kerahasiaan data," tegasnya.

Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh sejumlah kepala perangkat daerah, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala DPMD, serta para camat se-Kabupaten Mojokerto. 

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Gila! Listyo Sigit dkk Sadap Presiden Prabowo hingga Media Sejak 2025

Nomor-nomor yang disadap dimasukan ke dalam sistem tanpa verifikasi. Pada Oktober 2026 tersangka diduga memerintahkan menghapus file penyadapan tersebut.

Presiden Prabowo Diduga Disadap, Ini Komentar PDIP untuk Polri

Menurut Hasto, pengungkapan kasus penyadapan ilegal harus menjadi pintu masuk untuk membongkar kemungkinan adanya praktik-praktik serupa.

Polemik Jam Operasional Pasar Tanjungsari, DPRD Surabaya: Kalau Perlu Perdanya Diubah!

Jika aktivitas perdagangan dibatasi oleh waktu yang terlalu ketat, Kaji Ipuk khawatir dapat berdampak pada kondisi komoditas yang mudah rusak.

Eks Kapolri Listyo Sigit hingga Ahrie Sonta jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden

Diketahui, ketiga jenderal polisi tersebut tak tanya menyadap Presiden Prabowo Subianto, tapi juga menyadap sejumlah pejabat, politisi, media hingga LSM.

Razia Toko Kelontong di Nganjuk, Petugas Sita 7.540 Batang Rokok Ilegal

David mewanti-wanti seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha agar tidak nekat terlibat dalam rantai distribusi barang ilegal tersebut.

Soal Kabar Penangkapan Jenderal Polisi, Ini Dugaan Pelanggarannya

Langkah penindakan senyap ini bergulir hanya berselang satu bulan setelah kepemimpinan Polri diserahterimakan kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.